Hasil riset ini penting karena banyak organisasi masih terjebak pada asumsi lama: investasi teknologi otomatis akan langsung meningkatkan daya saing. Kenyataannya, tanpa cara mengelola manusia dan budaya kerja yang selaras dengan perubahan, teknologi justru sering tidak memberikan dampak optimal.
Tantangan Baru di Era Disrupsi Teknologi
Disrupsi teknologi telah mengubah cara perusahaan bersaing. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan sistem berbasis data memang membuka peluang efisiensi. Namun, Achmad Mohyi menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Faktor pembeda sesungguhnya terletak pada bagaimana organisasi mengelola karyawan dan membangun budaya kerja yang siap berubah.
Banyak perusahaan yang sudah mengadopsi sistem digital modern, tetapi tetap kesulitan meningkatkan kinerja jangka panjang. Penyebabnya sering kali bukan kekurangan teknologi, melainkan budaya kerja yang kaku, hierarkis, dan tidak mendukung kolaborasi. Di sinilah pendekatan Agile HR dan budaya adaptif menjadi relevan.
Apa Itu Agile HR dan Budaya Organisasi Adaptif?
Dalam penelitian ini, Agile Human Resource Management dipahami sebagai cara mengelola SDM yang menekankan fleksibilitas, kolaborasi, kecepatan pengambilan keputusan, serta pembelajaran berkelanjutan. Karyawan tidak lagi diposisikan sekadar sebagai objek administrasi, melainkan sebagai mitra strategis yang aktif berkontribusi pada inovasi.
Sementara itu, budaya organisasi adaptif merujuk pada nilai dan kebiasaan kerja yang mendorong keterbukaan terhadap perubahan, keberanian mencoba hal baru, serta kemauan untuk terus belajar. Budaya seperti ini membantu organisasi mengurangi resistensi internal saat menghadapi transformasi digital.
Metode Penelitian: Survei Perusahaan di Jawa Timur
Penelitian Achmad Mohyi menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan dari 87 responden yang berasal dari perusahaan teknologi, manufaktur, dan jasa di Provinsi Jawa Timur. Para responden merupakan individu yang menempati posisi strategis, seperti manajer SDM dan pimpinan unit, sehingga memahami kebijakan SDM, budaya organisasi, dan strategi daya saing perusahaan.
Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert lima poin, yang kemudian dianalisis menggunakan perangkat statistik SPSS. Analisis ini memastikan bahwa data yang digunakan reliabel dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Temuan Utama: Pengaruh Nyata terhadap Daya Saing
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang tegas dan konsisten:
- Agile HR berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan kompetitif organisasi. Perusahaan dengan sistem SDM yang fleksibel, memberdayakan karyawan, dan mendukung pengembangan kompetensi terbukti lebih cepat beradaptasi dan lebih efisien secara operasional.
- Budaya organisasi adaptif juga berpengaruh positif dan signifikan. Nilai keterbukaan, pembelajaran berkelanjutan, dan kolaborasi lintas fungsi membantu perusahaan merespons perubahan pasar dan teknologi dengan lebih efektif.
- Kombinasi keduanya sangat kuat. Agile HR dan budaya adaptif secara bersama-sama mampu menjelaskan sekitar 77 persen variasi keunggulan kompetitif organisasi, angka yang tergolong tinggi dalam penelitian manajemen.
Menurut Achmad Mohyi, temuan ini menegaskan bahwa keunggulan kompetitif di era disrupsi bukan lagi soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi siapa yang paling siap secara manusia dan budaya kerja.
Dampak Nyata bagi Dunia Usaha dan Kebijakan
Implikasi penelitian ini sangat relevan bagi dunia usaha, terutama perusahaan teknologi dan organisasi yang sedang menjalani transformasi digital. Manajemen perusahaan disarankan untuk tidak hanya fokus pada investasi perangkat lunak atau infrastruktur digital, tetapi juga pada reformasi sistem SDM dan pembangunan budaya kerja adaptif.
Bagi dunia pendidikan dan pelatihan SDM, hasil studi ini menekankan pentingnya membekali calon profesional dengan kemampuan kolaborasi, fleksibilitas, dan pembelajaran sepanjang hayat. Sementara bagi pembuat kebijakan, penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang program pengembangan SDM dan transformasi organisasi yang lebih berkelanjutan.
Achmad Mohyi dari Universitas Muhammadiyah Malang menekankan bahwa organisasi yang berhasil adalah mereka yang mampu menyelaraskan strategi, manusia, dan budaya. “Agile HR dan budaya adaptif bukan sekadar tren manajemen, tetapi kebutuhan strategis untuk bertahan di tengah perubahan,” tulisnya dalam kesimpulan penelitian.

0 Komentar