Menjembatani Kepatuhan Formal dan Makna Spiritual
Dalam tradisi pendidikan agama Hindu, ritual bukan sekadar simbol budaya, melainkan fondasi disiplin spiritual dan identitas moral. Namun, ketika kegiatan keagamaan dilakukan secara berulang dalam pola yang monoton di lingkungan institusi formal, siswa sering kali terjebak dalam kepatuhan mekanis. Aktivitas ibadah yang semestinya menjadi ruang internalisasi nilai etis berisiko bergeser fungsi menjadi sekadar kewajiban administratif sekolah
Pendekatan Kualitatif Fenomenologi di Jantung Kota Denpasar
Untuk membongkar fenomena tersebut secara mendalam, tim peneliti menerapkan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi interpretatif
- Wancara Mendalam: Sesi tanya jawab semi-terstruktur berdurasi 30 hingga 60 menit untuk menggali pengalaman subjektif siswa
. - Observasi Langsung: Pengamatan terhadap pola partisipasi dan interaksi siswa selama kegiatan keagamaan sekolah berlangsung
. - Analisis Dokumen: Pemeriksaan materi pembelajaran, kurikulum, serta program kegiatan sekolah untuk memahami konteks institusional
.
Berdasarkan analisis tematik data kualitatif
- Transformasi Menjadi Rutinitas: Siswa secara konsisten menunjukkan partisipasi perilaku yang sangat baik dalam doa bersama dan upacara sekolah. Kendati demikian, pengulangan yang konstan membuat sebagian siswa menjalankan ritual secara otomatis tanpa memikirkan makna filosofis di baliknya
. - Kesenjangan Partisipasi dan Pemahaman: Terdapat jarak antara keterlibatan fisik dan pemahaman internal. Siswa kerap menguasai tata cara atau prosedur ritual, namun kesulitan meresapi esensi nilai moral yang terkandung di dalamnya tanpa adanya penjelasan kontekstual
. - Pengaruh Metode Pembelajaran: Pembelajaran agama yang monoton berbasis ceramah satu arah dan hafalan terbukti menurunkan keterlibatan kognitif siswa. Sebaliknya, metode diskusi interaktif, dialog terbuka, dan contoh kehidupan sehari-hari mampu membangkitkan kembali minat berpikir kritis mereka
. - Harapan Siswa: Para pelajar secara tegas tidak menginginkan pengurangan ritual, melainkan integrasi yang lebih baik antara praktik keagamaan dan refleksi kritis yang relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari
.
Hasil penelitian ini memberikan implikasi luas bagi dunia pendidikan, khususnya dalam merancang strategi pembelajaran agama yang lebih dialogis
Profil Penulis
I Wayan Darna – Peneliti utama dan akademisi di bidang pendidikan agama Hindu, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
I Made Wiguna Yasa – Dosen dan peneliti bidang teologi serta pedagogi keagamaan, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Made Redana – Pakar sosiologi dan pendidikan Hindu, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Gede Rai Parsua – Peneliti dan pengamat fenomena keagamaan Hindu dalam konteks pendidikan formal, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Sumber Penelitian
I Wayan Darna, I Made Wiguna Yasa, Made Redana, Gede Rai Parsua. Ritual Participation Saturation and Declining Reflective Engagement among Hindu Students in Repetitive Religious Learning Contexts. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5, No. 9, 2026 (hlm. 2075-2090)
DOI :
Tautan:

0 Komentar