studi Kelayakan Finansial Buktikan Hilirisasi Produk Kelapa di Kabupaten Berau Sangat Menguntungkan

Ilustrasi by AI

Pengembangan industri pengolahan turunan kelapa secara terpadu di Kabupaten Berau dinilai sangat layak secara finansial dan strategis untuk mendukung transformasi ekonomi daerah. Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Faqhruddin Abdur-Rabb bersama tim dari Universitas Negeri Makassar pada September 2026 ini memaparkan bahwa pemanfaatan komoditas kelapa secara maksimal dapat menjadi alternatif pengganti sektor ekstraktif yang selama ini mendominasi wilayah tersebut.

Selama ini, perekonomian di Kabupaten Berau cenderung bergantung pada sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Di sisi lain, potensi komoditas kelapa lokal masih belum dioptimalkan melalui hilirisasi produk bernilai tambah tinggi. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan mengukur potensi keuntungan finansial dari pendirian agroindustri kelapa terpadu yang mengolah daging, tempurung, air, dan sabut kelapa sekaligus dalam satu siklus produksi.

Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data primer dari wawancara pelaku usaha serta data sekunder dari instansi pemerintah terkait periode 2021 hingga 2024. Kelayakan finansial dihitung menggunakan instrumen penganggaran modal meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period (PP).

Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa rencana pengembangan agroindustri ini sangat prospektif dengan rincian temuan sebagai berikut:

  • Proyek ini membutuhkan investasi awal sebesar Rp10,44 miliar yang sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan fisik dan fasilitas pengolahan.
  • Berdasarkan tingkat diskonto 15 persen, diperoleh nilai NPV positif sebesar Rp10,79 miliar, yang menunjukkan kemampuan proyek dalam menghasilkan nilai tambah ekonomi melampaui ekspektasi investor.
  • Tingkat pengembalian internal atau Internal Rate of Return (IRR) mencapai 54 persen, jauh melampaui tingkat suku bunga acuan yang ditetapkan.
  • Modal investasi awal diproyeksikan dapat kembali dalam kurun waktu singkat, yakni 2,65 tahun dari total proyeksi operasional selama enam tahun.
  • Angka Benefit-Cost Ratio (BCR) berada di level 1,22, yang berarti setiap pengeluaran biaya senilai satu rupiah mampu menghasilkan manfaat sebesar Rp1,22.

Penerapan konsep ekonomi sirkular (circular bioeconomy) melalui pendekatan tanpa limbah (zero-waste) memungkinkan seluruh bagian kelapa diolah menjadi produk komersial bernilai tinggi. Minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/VCO) menjadi produk utama penyumbang pendapatan terbesar, diikuti oleh briket arang, nata de coco, dan serat sabut (cocofiber). Langkah ini sejalan dengan agenda transformasi ekonomi hijau daerah serta mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Kalimantan Timur.

Meski demikian, struktur biaya operasional sangat didominasi oleh pengadaan bahan baku kelapa yang memakan porsi sekitar 82 persen dari total biaya bulanan. Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar pemerintah daerah turut memfasilitasi pembentukan kelembagaan petani serta kontrak pasokan jangka panjang guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku di tingkat petani.

Profil Penulis

  • Nama Lengkap: Ahmad Faqhruddin Abdur-Rabb, S.E., M.Sc. (beserta tim peneliti Shadry Andriani dan Dirmansyah Darwin)
  • Afiliasi Universitas: Universitas Negeri Makassar, Indonesia
  • Bidang Keahlian: Ekonomi Pertanian, Manajemen Keuangan, dan Studi Kelayakan Bisnis Agroindustri

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar