Selamat datang di Mizanosen: Menuju Model Filosofis Islam sebagai Lawan dari Antroposen dari Fatwa Lingkungan dan Praktik Eco-Pesantren.

Gambar Ilustrasi AI

Gagasan Mizanocene: Akademisi Indonesia Tawarkan Konsep Keseimbangan Kosmis Islam Tanggapi Krisis Iklim Global

Para akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memperkenalkan konsep filosofis baru bernama Mizanocene sebagai gagasan tandingan atas dominasi teori rekayasa lingkungan global berbasis pemikiran Barat. Gagasan yang dipublikasikan dalam jurnal internasional pada September 2026 ini dirumuskan oleh Supriyanto, Kholid Mawardi, dan Zein Muchamad Masykur. Hasil kajian ini bernilai penting karena membuktikan bahwa fatwa keagamaan serta praktik di pesantren mampu memberikan landasan etika moral dan hukum yang nyata untuk menjawab krisis iklim planet bumi.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perdebatan global mengenai penamaan era krisis ekologi modern. Istilah seperti Anthropocene mendeskripsikan krisis lingkungan sebagai dampak aktivitas manusia secara umum, sedangkan Capitalocene menuduh sistem kapitalisme sebagai penyebab utamanya. Namun, kedua teori tersebut dinilai terlalu sekuler dan mengabaikan nilai-nilai kosmologi spiritual. Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang rentan terhadap risiko perubahan iklim, dinilai memiliki modal sosial dan keagamaan yang sangat kuat untuk merumuskan solusi atas krisis ini.

Untuk merumuskan gagasan ini, tim peneliti menggunakan metode analisis konten kualitatif terhadap lima fatwa lingkungan yang diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dari tahun 2011 hingga 2023. Data tersebut kemudian ditriangulasi dengan studi netnografi pada empat model pengelolaan pesantren berwawasan lingkungan (eco-pesantren) di Indonesia. Metodologi ini dilakukan dengan menganalisis dokumen publik formal serta jurnal ilmiah terkait secara sistematis dan faktual.

Kajian tersebut mengungkapkan temuan utama yang menunjukkan evolusi signifikan pada respon hukum Islam dan praktik keagamaan di Indonesia:

  • Lompatan Skala Fatwa Lingkungan: Fatwa lingkungan MUI mengalami perluasan objek hukum, dari yang semula berfokus pada masalah lokal penambangan ramah lingkungan pada tahun 2011, pelestarian satwa langka dan pengelolaan sampah pada 2014, pembakaran hutan dan lahan pada 2016, hingga Fatwa No. 86 Tahun 2023 yang mengatur pengendalian perubahan iklim secara global.
  • Gap Antara Teks dan Praktik: Praktik ekologi di lapangan terkadang bergerak lebih cepat daripada perumusan hukum fikih formal. Sebagai contoh, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menerapkan integrasi pengelolaan ekonomi, sosial, dan lingkungan (triple bottom line) yang belum terwadahi secara eksplisit dalam teks fikih klasik.
  • Integritas Konsep Mizanocene: Krisis ekologi dunia tidak hanya dipahami sebagai akibat dari dorongan ekonomi atau kesalahan spesies manusia semata, melainkan sebagai bentuk perusakan (fasad fi al-ard) akibat hilangnya amanah manusia sebagai pengelola bumi (khalifah) dalam menjaga keseimbangan kosmis (mizan) yang telah ditetapkan Tuhan.

Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan bagi perumusan kebijakan publik, dunia pendidikan, dan agenda pembangunan berkelanjutan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai etika keagamaan lokal mampu memperkuat ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, khususnya SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDG 15 tentang ekosistem daratan. Bagi pembuat kebijakan dan ulama, temuan ini mendorong pentingnya pembentukan fatwa dan panduan praktis baru yang mendukung pengelolaan lingkungan terpadu berbasis kemasyarakatan.

Profil Penulis:

  1. Supriyanto, S.H.I., M.Si. (atau akademisi terkait) adalah peneliti dan dosen di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Indonesia, yang berfokus pada bidang filsafat Islam dan hukum lingkungan.
  2. Dr. Kholid Mawardi, S.Ag., M.Si. adalah akademisi dan peneliti di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dengan keahlian di bidang sosiologi agama dan studi Islam.
  3. Zein Muchamad Masykur, M.Si. adalah peneliti dan akademisi di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang mendalami bidang pemikiran Islam dan kebudayaan.

Sumber Penelitian

  • Penulis: Supriyanto, Mawardi, K., & Masykur, Z. M. (2026).
  • Judul Artikel: Welcome to the Mizanocene: Toward an Islamic Philosophical Countermodel to the Anthropocene from Environmental Fatwas and Eco-Pesantren Praxis. 
  • International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), Vol. 4, No. 9, hlm. 2309-2332. 
  • DOI: https://doi.org/10.55927/2k3zgg17
  • URL Jurnal: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

Posting Komentar

0 Komentar