Penelitian tersebut melihat secara khusus bagaimana pilihan kata dan bentuk sapaan guru dalam kegiatan belajar sehari-hari berkaitan dengan pembentukan nilai karakter siswa. Para peneliti menemukan 312 peristiwa sapaan pedagogis dalam rekaman interaksi kelas selama total 23 jam. Hasilnya menunjukkan bahwa sapaan guru dapat menjalankan fungsi sosial dan pendidikan sekaligus, termasuk membangun empati, kepercayaan diri, kedisiplinan, kerja sama, dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Bahasa Guru Tidak Sekadar Menyampaikan Materi
Pendidikan karakter selama ini sering dikaitkan dengan kurikulum, kegiatan sekolah, dan program pembinaan siswa. Namun, penelitian Djuli, Pane, dan Djokaho menunjukkan bahwa proses tersebut juga berlangsung melalui percakapan sederhana yang terjadi setiap hari di dalam kelas.
Di Indonesia, pendidikan karakter menjadi bagian dari kebijakan pendidikan dan Kurikulum Merdeka. Meski demikian, mekanisme konkret bagaimana nilai karakter dibangun melalui interaksi sehari-hari di ruang kelas masih relatif terbatas dalam kajian empiris. Penelitian ini kemudian menempatkan bahasa guru sebagai salah satu bagian penting dari proses tersebut.
Para peneliti menyoroti bahwa sapaan dapat memberikan pesan mengenai bagaimana siswa dipandang oleh gurunya. Sapaan yang menunjukkan penghargaan, dorongan, tanggung jawab, kebersamaan, atau pengakuan terhadap kemampuan individu dapat membentuk suasana sosial tertentu di kelas.
Dengan kata lain, pendidikan karakter tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat atau pelajaran khusus. Nilai-nilai tersebut juga dapat tersampaikan melalui cara guru menyapa siswa secara berulang dalam rutinitas pembelajaran. Penelitian ini menyebut sapaan pedagogis sebagai bagian dari kurikulum implisit, yakni nilai dan norma yang dipelajari siswa melalui praktik interaksi sehari-hari, meskipun tidak selalu diajarkan secara langsung.
Penelitian Melibatkan Sembilan Guru dan 27 Siswa
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana kritis. Lokasinya berada di tiga sekolah negeri di Kota Kupang, yaitu SMPN 5, SMPN 10, dan SMPN 20.
Sebanyak sembilan guru Bahasa Indonesia terlibat sebagai peserta penelitian, terdiri atas lima guru perempuan dan empat guru laki-laki dengan pengalaman mengajar antara tiga hingga 19 tahun. Peneliti juga melibatkan 27 siswa kelas VII, VIII, dan IX. Seluruh peserta memberikan persetujuan tertulis dan identitas mereka disamarkan dalam laporan penelitian.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas, perekaman video, transkripsi percakapan, serta wawancara. Setiap guru diamati dalam lima sesi pembelajaran dengan durasi 40–80 menit. Secara keseluruhan terdapat 45 sesi observasi dan 23 jam rekaman interaksi kelas.
Dari rekaman tersebut, peneliti mengidentifikasi 312 peristiwa sapaan pedagogis. Wawancara dengan guru dan siswa digunakan untuk memahami maksud penggunaan sapaan serta bagaimana siswa menafsirkan bentuk-bentuk sapaan tersebut.
Lima Jenis Sapaan Pedagogis
Dari 312 peristiwa yang dianalisis, peneliti menemukan lima kategori sapaan pedagogis. Masing-masing memiliki fungsi dan nilai karakter yang berbeda.
Ketiga, sapaan regulatif. Bentuk ini berkaitan dengan peran dan tanggung jawab siswa dalam struktur kelas. Sebanyak 67 peristiwa atau 21,5 persen termasuk kategori regulatif. Contohnya adalah sapaan kepada ketua kelas untuk memastikan anggota kelompok siap mengikuti pembelajaran. Nilai karakter yang terkait meliputi disiplin, tanggung jawab, dan akuntabilitas.
Keempat, sapaan inklusif. Guru menggunakan kata atau ungkapan yang menempatkan guru dan siswa sebagai bagian dari satu kelompok yang bekerja bersama. Sebanyak 48 peristiwa atau 15,4 persen ditemukan dalam kategori ini. Bentuk tersebut dikaitkan dengan kerja sama, kohesi sosial, dan kemampuan bekerja dalam tim.
Kelima, sapaan personal-afirmatif. Ini merupakan kategori paling sedikit, dengan 25 peristiwa atau 8 persen. Guru menyebut nama siswa sekaligus memberikan penghargaan spesifik terhadap kontribusi atau keberaniannya. Bentuk ini dikaitkan dengan penghargaan terhadap martabat individu, motivasi intrinsik, dan rasa percaya terhadap kemampuan diri.
Cara Menyapa Lebih Penting daripada Sekadar Bentuk Sapaan
Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bahwa dampak pendidikan dari sebuah sapaan tidak hanya bergantung pada kata yang digunakan. Konteks dan mekanisme wacana di balik sapaan tersebut juga berperan.
Peneliti mengidentifikasi lima mekanisme yang menghubungkan sapaan dengan pembentukan karakter, yaitu peningkatan penghargaan diri melalui sapaan afektif, proyeksi identitas melalui sapaan motivasional, penegasan peran melalui sapaan regulatif, pembangunan solidaritas melalui sapaan inklusif, serta pengakuan terhadap individu melalui sapaan personal-afirmatif.
Karena itu, pelatihan guru tidak cukup hanya memberikan daftar bentuk sapaan yang dianggap baik. Menurut kerangka penelitian ini, guru perlu memahami tujuan dan konteks penggunaan bahasa agar sapaan yang diberikan benar-benar sesuai dengan karakter yang ingin dibangun.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa satu bentuk sapaan dapat menghasilkan fungsi berbeda bergantung pada konteksnya. Penyebutan nama siswa, misalnya, dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap individu atau justru digunakan untuk menegaskan tanggung jawab siswa. Perbedaannya terletak pada fungsi dan konteks interaksi.
Implikasi bagi Pendidikan Karakter
Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini memperluas cara melihat pendidikan karakter. Pembentukan karakter tidak hanya perlu diamati melalui program sekolah atau materi kurikulum, tetapi juga melalui praktik komunikasi guru dan siswa.
Labu Djuli, Betharia Pane, dan Margaret P.E. Djokaho menempatkan sapaan pedagogis sebagai bagian dari kurikulum pedagogis implisit. Melalui rutinitas menyapa, guru secara tidak langsung dapat menyampaikan nilai empati, kepercayaan diri, disiplin, kerja sama, dan martabat pribadi.
Namun, para peneliti juga memberikan batasan. Penelitian hanya dilakukan di tiga sekolah dalam satu kota, berfokus pada pembelajaran Bahasa Indonesia, dan menggunakan desain lintas waktu yang terbatas. Karena itu, hasilnya belum dapat dianggap mewakili seluruh sekolah menengah pertama di Indonesia. Penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak lokasi dan dilakukan dalam jangka waktu lebih panjang.
Profil Penulis
Labu Djuli — Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Nusa Cendana, Kupang. Penulis merupakan corresponding author artikel.
Betharia Pane — Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Nusa Cendana, Kupang.
Margaret P.E. Djokaho — Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Nusa Cendana, Kupang.
Informasi artikel mencantumkan ketiga penulis sebagai bagian dari Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Nusa Cendana. Gelar akademik dan bidang keahlian individual yang lebih spesifik tidak dicantumkan dalam teks artikel yang tersedia.
0 Komentar