Penelitian tersebut dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Hasilnya memberikan gambaran praktis mengenai cara guru memperbaiki pembelajaran matematika melalui kegiatan pemecahan masalah, penggunaan media visual, dan keterlibatan aktif siswa selama proses belajar.
Kesulitan Memahami Pecahan Sederhana di Sekolah Dasar
Matematika di sekolah dasar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung, tetapi juga dengan pemahaman konsep dan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan masalah. Salah satu materi dasar yang perlu dikuasai siswa adalah pecahan sederhana.
Memahami pecahan membutuhkan kemampuan untuk menghubungkan simbol angka dengan makna bagian dari suatu keseluruhan. Siswa perlu memahami bahwa satu per dua, misalnya, menunjukkan satu bagian dari dua bagian yang sama besar. Jika pembelajaran hanya berpusat pada penjelasan lisan, tulisan di papan tulis, dan latihan soal, sebagian siswa dapat mengalami kesulitan menghubungkan simbol tersebut dengan konsep sebenarnya.
Kondisi serupa ditemukan dalam pembelajaran matematika kelas III di UPT SD Negeri 068004 Medan Tuntungan. Berdasarkan informasi awal dari guru, kemampuan siswa dalam memahami matematika masih beragam. Sebagian besar siswa membutuhkan bantuan tambahan untuk memahami konsep dasar, terutama materi pecahan sederhana.
Selain kesulitan memahami materi, keterlibatan siswa selama pembelajaran juga belum optimal. Sebagian siswa cenderung menunggu penjelasan guru, kurang aktif bertanya, dan belum terbiasa mengemukakan pendapat ketika menyelesaikan persoalan matematika.
Situasi tersebut menunjukkan perlunya pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati, mencoba, berdiskusi, dan menemukan penyelesaian secara bertahap.
Menggabungkan Pemecahan Masalah dengan Kartu Pecahan
Model Problem-Based Learning menempatkan masalah sebagai titik awal kegiatan belajar. Siswa diajak memahami persoalan, mencari informasi yang diperlukan, mendiskusikan kemungkinan jawaban, dan menjelaskan hasil pemikirannya. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses tersebut, bukan sekadar menjadi sumber informasi utama.
Dalam pembelajaran matematika, pendekatan ini memungkinkan siswa mempelajari konsep melalui persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, guru dapat memberikan masalah tentang pembagian kue secara adil kepada beberapa anak. Siswa kemudian diajak menentukan bagian yang diterima setiap anak dan menghubungkannya dengan konsep pecahan.
Agar konsep tersebut lebih mudah dipahami, guru dapat menggunakan media kartu pecahan. Kartu dapat menampilkan simbol pecahan, gambar bagian yang diarsir, atau representasi visual dari suatu keseluruhan. Melalui kartu tersebut, siswa dapat membandingkan pecahan, mencocokkan gambar dengan simbol, dan mendiskusikan jawaban bersama teman.
Penggabungan PBL dengan kartu pecahan memberikan dua dukungan pembelajaran. Model PBL mengarahkan siswa untuk aktif memecahkan masalah, sedangkan kartu pecahan membantu mereka memahami konsep melalui representasi visual yang lebih konkret.
Pendekatan ini juga memungkinkan siswa dengan kemampuan berbeda untuk saling membantu selama kegiatan kelompok. Siswa yang telah memahami materi dapat menjelaskan kepada temannya, sementara siswa yang masih mengalami kesulitan memperoleh kesempatan untuk bertanya dan mencoba kembali.
Penelitian Dilaksanakan dalam Dua Siklus
Frida Marta Argareta Simorangkir, Rotama Angelina Turnip, Dhini Fillisia Br Tarigan, Evi Lasrohana Nababan, dan Aliana Br Barus melaksanakan penelitian tindakan kelas yang melibatkan 25 siswa kelas III UPT SD Negeri 068004 Medan Tuntungan.
Penelitian berlangsung dalam dua siklus. Setiap siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil pengamatan pada satu siklus digunakan untuk menentukan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya.
Tim peneliti mengumpulkan data melalui tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika siswa, sedangkan observasi membantu menggambarkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran.
Peneliti membandingkan nilai rata-rata siswa dan persentase ketuntasan belajar pada kondisi awal, akhir siklus pertama, dan akhir siklus kedua. Dengan cara tersebut, perubahan capaian belajar dapat diamati sepanjang pelaksanaan tindakan.
Nilai Rata-Rata Siswa Meningkat Menjadi 81,2
Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan hasil belajar matematika setelah penerapan PBL berbantuan media kartu pecahan.
Sebelum tindakan dilakukan, nilai rata-rata siswa tercatat sebesar 54. Setelah siklus pertama, nilai tersebut meningkat menjadi 59. Pada akhir siklus kedua, nilai rata-rata mencapai 81,2.
Perubahan juga terlihat pada ketuntasan belajar klasikal, yaitu persentase siswa yang mencapai standar ketuntasan yang ditetapkan dalam pembelajaran.
Berikut ringkasan hasil penelitian:
- Nilai rata-rata: meningkat dari 54 pada kondisi awal menjadi 59 pada siklus I dan 81,2 pada siklus II.
- Ketuntasan belajar klasikal: meningkat dari 28% pada kondisi awal menjadi 40% pada siklus I dan 88% pada siklus II.
- Aktivitas guru: meningkat dari 80% pada siklus I menjadi 92% pada siklus II.
- Aktivitas siswa: meningkat dari 64% pada siklus I menjadi 88% pada siklus II.
Secara keseluruhan, nilai rata-rata siswa bertambah 27,2 poin dari kondisi awal hingga akhir siklus kedua. Sementara itu, ketuntasan belajar meningkat sebesar 60 poin persentase, dari 28% menjadi 88%.
Peningkatan paling besar terjadi antara siklus pertama dan kedua. Pada tahap pertama, kenaikan nilai rata-rata masih terbatas dan ketuntasan belajar baru mencapai 40%. Hasil tersebut menjadi bahan refleksi untuk memperbaiki pelaksanaan pembelajaran pada siklus berikutnya.
Pada siklus kedua, siswa menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi dan hasil belajar yang lebih baik. Temuan ini menggambarkan pentingnya evaluasi dan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.
Meskipun demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai dengan cakupannya. Penelitian melibatkan 25 siswa dalam satu kelas dan tidak menggunakan kelompok pembanding terpisah. Oleh karena itu, hasilnya menunjukkan perbaikan yang terjadi dalam kelas tersebut, tetapi belum dapat memastikan bahwa pendekatan yang sama akan menghasilkan peningkatan serupa di semua sekolah.
Aktivitas Siswa Meningkat Selama Pembelajaran
Selain hasil tes, penelitian tersebut mencatat perubahan pada aktivitas guru dan siswa. Aktivitas siswa meningkat dari 64% pada siklus pertama menjadi 88% pada siklus kedua. Aktivitas guru juga meningkat dari 80% menjadi 92%.
Peningkatan aktivitas siswa menunjukkan bahwa semakin banyak keterlibatan dalam kegiatan pembelajaran yang diamati. Siswa memperoleh kesempatan untuk memahami masalah, menggunakan kartu pecahan, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pemikiran mereka.
Sementara itu, peningkatan aktivitas guru menunjukkan adanya perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran. Dalam PBL, guru perlu mengarahkan siswa memahami masalah, memberikan pertanyaan pemantik, memfasilitasi diskusi, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan.
Perubahan tersebut sejalan dengan peningkatan hasil belajar. Ketika proses pembelajaran semakin terarah dan siswa semakin aktif, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk memahami materi yang dipelajari.
Namun, data tersebut tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara statistik antara aktivitas siswa dan hasil belajar. Keduanya merupakan indikator yang menunjukkan perkembangan positif selama pelaksanaan tindakan kelas.
Manfaat bagi Guru dan Sekolah Dasar
Temuan penelitian ini memberikan sejumlah pelajaran praktis bagi guru sekolah dasar.
Pertama, pembelajaran matematika dapat dirancang agar tidak hanya berfokus pada penjelasan dan latihan soal. Guru dapat memberikan masalah sederhana yang mendorong siswa menggunakan konsep matematika dalam situasi yang mudah dipahami.
Kedua, media konkret seperti kartu pecahan dapat digunakan untuk menjembatani pemahaman siswa dari benda atau gambar menuju simbol matematika. Media tersebut relatif sederhana dan dapat disiapkan sesuai kebutuhan materi pembelajaran.
Ketiga, penggunaan media sebaiknya dipadukan dengan aktivitas berpikir. Siswa tidak cukup hanya mencocokkan kartu atau menghafal bentuk pecahan, tetapi perlu menjelaskan alasan di balik jawaban mereka dan mendiskusikan cara penyelesaian bersama teman.
Keempat, guru dapat menggunakan hasil tes dan observasi untuk memperbaiki proses pembelajaran. Hasil siklus pertama dalam penelitian ini belum optimal, tetapi memberikan informasi yang berguna untuk menyusun perbaikan pada siklus kedua.
Bagi sekolah, pendekatan ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pembelajaran matematika yang lebih aktif dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Sekolah juga dapat membantu guru dengan menyediakan media pembelajaran sederhana serta memberikan ruang untuk berbagi praktik pembelajaran yang efektif.
Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar, melibatkan beberapa sekolah, dan menggunakan kelompok pembanding dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai efektivitas pendekatan tersebut.
Profil Penulis
Artikel penelitian ini ditulis oleh lima akademisi dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik Santo Thomas, Medan, Indonesia, yaitu:
Frida Marta Argareta Simorangkir
Rotama Angelina Turnip
Dhini Fillisia Br Tarigan
Evi Lasrohana Nababan
Aliana Br Barus
Artikel berfokus pada pembelajaran matematika sekolah dasar, khususnya penerapan model Problem-Based Learning dan penggunaan media kartu untuk meningkatkan hasil belajar materi pecahan sederhana. Informasi gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam naskah sumber.
Sumber Penelitian
Judul artikel: The Implementation of Problem-Based Learning Model Using Card-Based Learning Media to Improve Students’ Learning Outcomes in Mathematics for Grade III Students at UPT SD Negeri 068004 Medan Tuntungan
Artikel diterbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0), yang memungkinkan karya dibagikan dan diadaptasi dengan tetap mencantumkan atribusi yang sesuai.

0 Komentar