Pertumbuhan Ekonomi Dorong Lonjakan Deforestasi di Wilayah Hutan Utama Indonesia

Ilustration by AI

Aktivitas ekonomi regional terbukti memicu peningkatan laju deforestasi secara signifikan di 16 provinsi utama kawasan hutan Indonesia meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Papua sepanjang periode 2023 hingga 2025. Penelitian yang dilakukan oleh Andi Wahyu Ramadhan bersama tim dari Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Mamuju ini mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah masih bersifat ekstraktif dan belum sepenuhnya selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan.

Pentingnya penelitian ini dilatarbelakangi oleh lonjakan deforestasi nasional yang melonjak tajam sebesar 66 persen, yakni dari 261.575 hektare pada tahun 2024 menjadi 433.751 hektare pada tahun 2025. Perluasan alih fungsi hutan tersebut terkonsentrasi di wilayah kaya sumber daya alam akibat ekspansi perkebunan, konsesi pertambangan batu bara, serta pembangunan infrastruktur Proyek Strategis Nasional (PSN). Kondisi ini mencerminkan fase awal Kurva Kuznets Lingkungan (Environmental Kuznets Curve), di mana ekspansi output ekonomi masih mendominasi eksploitasi sumber daya lahan.

Penelitian ini menerapkan pendekatan ekonometrika data panel pendek (short-panel data) dengan menguji model Pooled OLS, Fixed Effects, serta Random Effects pada 48 total observasi. Berdasarkan pengujian spesifikasi formal melalui Uji Chow dan Uji Hausman, model Fixed Effects dinilai sebagai estimator paling konsisten untuk mengakomodasi karakteristik unik di tiap daerah. Variabel yang dianalisis mencakup Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), konsumsi listrik regional, serta struktur energi fosil terhadap luas kehilangan tutupan hutan.

Hasil analisis dan temuan utama penelitian ini menunjukkan:

  • Elastisitas PDRB terhadap deforestasi tercatat positif dan signifikan pada model Pooled OLS sebesar 1,1790, yang berarti kenaikan aktivitas ekonomi regional sebesar 1 persen mendorong peningkatan laju deforestasi sebesar 1,18 persen.
  • Uji signifikansi simultan mengkonfirmasi bahwa skala ekonomi, permintaan listrik, dan struktur energi fosil secara bersama-sama berdampak nyata terhadap alih fungsi hutan di wilayah perbatasan hutan.
  • Wilayah Kalimantan mencatat volume deforestasi absolut tertinggi akibat konsesi tambang batu bara dan perkebunan, sementara Sumatera mengalami lonjakan parah yang memicu bencana banjir bandang, serta Papua terdampak oleh megaproyek dan pembangunan infrastruktur strategis.

Implikasi dari temuan ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi regional di kawasan kaya hutan masih bergantung pada eksploitasi lahan yang masif. Oleh karena itu, para peneliti merekomendasikan agar pemerintah memperketat penegakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), mengevaluasi dampak lingkungan dari Proyek Strategis Nasional (PSN) secara ketat, serta mempercepat transisi energi bersih di tingkat daerah guna memutus rantai ketergantungan ekonomi dari energi fosil.

Profil Penulis

  • Nama Lengkap: Andi Wahyu Ramadhan, S.E., M.Si. (beserta anggota tim peneliti Tri Frida Suryati, Hamzar, Muh Ilhamuddin Dahri, dan Ridwan Hayadin)
  • Afiliasi Universitas: Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Mamuju, Mamuju, Indonesia
  • Bidang Keahlian: Ekonomi Pembangunan, Ekonometrika, dan Ekonomi Lingkungan

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar