Peran Komunikasi Strategis Menjadi Kunci Utama Membangun Sistem Pangan Digital yang Aman dan Inklusif


FORMOSA NEWS

JAKARTA, Formosa News — Dinamika sistem pangan modern tidak hanya dipengaruhi oleh rantai produksi, distribusi, dan konsumsi. Kecepatan arus informasi, persepsi risiko masyarakat, serta interaksi di media digital kini memegang peranan krusial dalam menentukan arah kebijakan dan ketahanan pangan.

Peneliti Loso Judijanto dari lembaga kajian IPOSS Jakarta meluncurkan hasil sintesis konseptual mendalam mengenai pentingnya pendekatan teori komunikasi dalam merespons tantangan sistem pangan di era transformasi digital. Studi literatur ini dipublikasikan pada edisi tahun 2026 di International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS). Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar alat penyampaian pesan pasif, melainkan infrastruktur inti yang menentukan keberhasilan kebijakan publik, pemenuhan keamanan pangan, adaptasi krisis, hingga penegakan kedaulatan pangan bagi para petani dan masyarakat lokal.

Latar Belakang: Menghadapi Kompleksitas dan Disrupsi Informasi

Sistem pangan global dan nasional saat ini dihadapkan pada ancaman multidimensi, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok, krisis harga, hingga wabah penyakit yang ditularkan melalui makanan. Di sisi lain, kehadiran era digital dan media sosial mempercepat penyebaran informasi secara real-time. Namun, kondisi ini membawa tantangan baru berupa maraknya misinformasi, narasi sensasional yang memicu ketakutan publik, serta ketimpangan akses teknologi.

Masalah tata kelola pangan sering kali gagal bukan karena ketiadaan teknologi atau data sains, melainkan akibat komunikasi kebijakan yang terfragmentasi, minimnya rasa percaya publik (trust), serta tidak terakomodasinya suara kelompok rentan seperti petani kecil, perempuan, dan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan.

Ringkasan Metodologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh Loso Judijanto menggunakan pendekatan tinjauan literatur kualitatif naratif-interpretif. Peneliti melakukan penelusuran terarah terhadap rujukan publikasi ilmiah bereputasi internasional yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2026.

Proses analisis dilakukan melalui pembacaan komparatif dan pengkodean tematik untuk memetakan bagaimana berbagai teori komunikasi bekerja secara lintas domain—mulai dari pembentukan kebijakan (food policy), keamanan pangan (food safety), ketahanan pangan (food security), hingga kedaulatan pangan (food sovereignty).

Temuan Utama: Empat Mekanisme Komunikasi Sistem Pangan

Sintesis konseptual yang dirumuskan oleh Loso Judijanto mengidentifikasi empat fungsi dan mekanisme utama komunikasi yang saling terhubung dalam sistem pangan:

  • Pembentukan Makna (Meaning-Making): Melalui teori agenda-setting, pembingkaian (framing), dan diskursus, komunikasi menentukan masalah pangan mana yang menjadi prioritas publik serta bagaimana solusi dirumuskan oleh pembuat kebijakan.
  • Pembangunan Kepercayaan (Trust-Building): Dalam domain keamanan pangan, komunikasi risiko berbasis bukti ilmiah yang transparan menjadi penentu apakah masyarakat percaya dan mau mengambil tindakan perlindungan diri yang tepat.
  • Koordinasi dan Adopsi Inovasi (Coordination & Adoption): Melalui teori difusi inovasi dan jaringan sosial, komunikasi memfasilitasi alih teknologi pertanian, pembelajaran bersama, serta koordinasi cepat saat terjadi krisis pasokan pangan.
  • Pemberdayaan dan Hak Suara (Voice & Power): Pendekatan komunikasi partisipatif dan advokasi membuka ruang dialog agar petani kecil, pekerja pangan, dan kelompok marginal memiliki kekuatan menawar (bargaining power) dalam menentukan sistem pangan mereka sendiri.

Implikasi dan Dampak Bagi Masyarakat serta Kebijakan Publik

Studi ini memberikan kontribusi nyata bagi para pemangku kepentingan:

  • Bagi Pembuat Kebijakan Publik: Komunikasi tidak boleh lagi dijadikan langkah pelengkap di akhir program. Strategi komunikasi harus dirancang sejak tahap formulasi masalah dengan menjembatani bahasa antarsektor (pertanian, kesehatan, perdagangan, dan lingkungan).
  • Bagi Industri dan Pelaku Usaha Pangan: Penyampaian pesan keberlanjutan pangan dan produk ramah lingkungan harus diselaraskan dengan nilai serta tingkat pemahaman konsumen agar tidak dianggap sebagai manipulasi atau greenwashing.
  • Bagi Masyarakat umum: Penguatan literasi digital dan keterbukaan informasi publik menjadi benteng utama dalam menangkal hoaks pangan dan gizi yang merugikan kesehatan.

"Komunikasi merupakan komponen struktural dari sistem pangan, bukan sekadar fungsi tambahan setelah kebijakan atau intervensi teknis selesai dirancang. Transformasi digital harus diarahkan untuk memperkuat kapasitas warga dalam memahami masalah, membangun kepercayaan, dan menyuarakan hak-hak mereka secara adil," papar Loso Judijanto.

Profil Penulis

Loso Judijanto adalah peneliti yang berfokus pada bidang manajemen, ekonomi politik, dan komunikasi kebijakan pangan. Saat ini beliau berafiliasi dengan lembaga kajian IPOSS di Jakarta, Indonesia. Beliau aktif mempublikasikan berbagai kajian ilmiah terkait analisis kebijakan publik, transformasi digital, serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar