Penelitian tersebut menyoroti hubungan antara pengalaman keuangan, toleransi risiko, dan perilaku investasi. Ketiga faktor ini penting dipahami karena cryptocurrency menawarkan peluang investasi dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi. Keputusan yang tidak didasarkan pada pemahaman keuangan dan pertimbangan risiko dapat membuat investor rentan mengalami kerugian.
Pengalaman Keuangan Berperan dalam Keputusan Investasi
Perkembangan teknologi digital telah memperluas akses masyarakat terhadap berbagai instrumen investasi. Selain emas, properti, deposito, saham, dan reksa dana, masyarakat kini dapat berinvestasi dalam aset digital berbasis blockchain, termasuk cryptocurrency.
Kemudahan akses tersebut membuka peluang bagi generasi milenial untuk memasuki pasar investasi. Namun, kemudahan bertransaksi tidak selalu diikuti pemahaman yang memadai tentang risiko. Harga cryptocurrency dapat mengalami perubahan tajam sehingga investor perlu mempertimbangkan potensi keuntungan dan kerugian sebelum mengambil keputusan.
Pengalaman keuangan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu investor menghadapi kondisi tersebut. Pengalaman menabung, mengelola uang, melakukan investasi, dan menghadapi perubahan kondisi pasar dapat memberikan pemahaman praktis tentang pengambilan keputusan finansial.
Dalam artikel yang diterbitkan di Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Tiara Angrianingsih dan Embun Suryani menempatkan toleransi risiko sebagai faktor penghubung antara pengalaman keuangan dan perilaku investasi. Pendekatan ini membantu menjelaskan mengapa pengalaman finansial tidak hanya berkaitan dengan keputusan investasi, tetapi juga dengan kesiapan seseorang menghadapi ketidakpastian.
Penelitian Melibatkan 150 Investor Milenial
Angrianingsih dan Suryani menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis hubungan antara pengalaman keuangan, toleransi risiko, dan perilaku investasi.
Penelitian melibatkan 150 responden berusia 25–44 tahun di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang telah memiliki pengalaman investasi sekurang-kurangnya satu tahun. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan peserta berdasarkan kriteria yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Forms. Responden memberikan jawaban berdasarkan skala lima tingkat, mulai dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju.
Para peneliti kemudian menganalisis data menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Metode ini digunakan untuk menguji hubungan antara variabel penelitian sekaligus mengetahui apakah toleransi risiko menjadi perantara pengaruh pengalaman keuangan terhadap perilaku investasi.
Pengolahan data yang dilaporkan dalam artikel dilakukan pada 2025, sedangkan artikel tersebut diterbitkan pada 2026.
Tiga Temuan Utama tentang Investasi Cryptocurrency
Hasil analisis menunjukkan bahwa pengalaman keuangan dan toleransi risiko memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku investasi generasi milenial. Penelitian ini juga menemukan bahwa toleransi risiko berperan sebagai variabel mediasi.
Berikut tiga temuan utama penelitian tersebut.
1. Pengalaman keuangan berpengaruh terhadap perilaku investasi.
Hasil pengujian menunjukkan koefisien hubungan sebesar 0,842 dengan nilai p yang dilaporkan kurang dari 0,001 pada tabel pengujian hipotesis. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengalaman keuangan dan perilaku investasi.
Artinya, pengalaman dalam mengelola keuangan berkaitan dengan cara seseorang mengambil keputusan investasi. Pengalaman tersebut dapat membantu investor memahami dinamika pasar dan mempertimbangkan keputusan secara lebih terarah.
2. Pengalaman keuangan berkaitan dengan toleransi risiko yang lebih tinggi.
Penelitian menemukan koefisien hubungan sebesar 0,906 antara pengalaman keuangan dan toleransi risiko, dengan nilai p kurang dari 0,001 pada tabel pengujian hipotesis.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman finansial berkaitan dengan kesiapan investor menghadapi risiko. Investor yang telah memiliki pengalaman mengelola keuangan dan berinvestasi berpotensi memiliki pemahaman lebih baik tentang ketidakpastian serta konsekuensi keputusan finansial.
Namun, toleransi risiko yang tinggi tidak otomatis berarti seseorang mengambil keputusan investasi yang lebih baik. Kemampuan menerima risiko tetap perlu disertai penilaian terhadap kemampuan keuangan dan potensi kerugian.
3. Toleransi risiko menjadi penghubung antara pengalaman keuangan dan perilaku investasi.
Analisis mediasi menghasilkan koefisien sebesar 0,611 dengan nilai p kurang dari 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa toleransi risiko berperan sebagai perantara dalam hubungan pengalaman keuangan dan perilaku investasi.
Dengan kata lain, pengalaman keuangan berkaitan dengan perilaku investasi melalui dua jalur: pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung melalui toleransi risiko.
Temuan ini memperlihatkan bahwa perilaku investasi tidak hanya berkaitan dengan pengalaman praktis, tetapi juga dengan bagaimana investor memahami dan merespons kemungkinan kerugian.
Implikasi bagi Investor dan Pendidikan Keuangan
Hasil penelitian Angrianingsih dan Suryani memberikan sejumlah implikasi bagi masyarakat, khususnya generasi milenial yang tertarik berinvestasi dalam cryptocurrency.
Pertama, pengalaman investasi perlu dibangun bersama pemahaman mengenai pengelolaan keuangan. Investor dapat mempelajari cara menyusun anggaran, mengelola dana investasi, mengevaluasi risiko, dan menilai kemampuan finansial sebelum membeli aset digital.
Kedua, toleransi risiko perlu dipahami secara realistis. Kesediaan menghadapi fluktuasi harga sebaiknya tidak disamakan dengan keberanian mengambil risiko tanpa perhitungan. Investor perlu mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu, kondisi keuangan, dan kemungkinan kehilangan dana.
Ketiga, lembaga pendidikan dan pemerintah dapat menggunakan temuan ini sebagai salah satu pertimbangan dalam mengembangkan program literasi keuangan. Artikel tersebut merekomendasikan pendidikan, pelatihan, dan simulasi investasi untuk membantu generasi milenial memahami risiko sebelum mengambil keputusan.
Bagi dunia usaha dan penyedia layanan keuangan digital, hasil penelitian ini juga menegaskan pentingnya penyampaian informasi risiko yang mudah dipahami pengguna. Informasi yang jelas dapat membantu masyarakat mengevaluasi keputusan investasi secara lebih bertanggung jawab.
Meski demikian, temuan ini perlu dipahami sesuai cakupan penelitiannya. Responden berasal dari satu provinsi dan berada dalam rentang usia tertentu, sehingga hasilnya belum tentu mewakili seluruh investor cryptocurrency di Indonesia. Penelitian ini juga menggunakan kuesioner, sehingga hasilnya menunjukkan hubungan statistik antarfaktor, bukan bukti bahwa pengalaman keuangan secara langsung menyebabkan perubahan perilaku pada setiap investor.
Penelitian lanjutan dapat melibatkan kelompok usia dan wilayah yang lebih beragam. Penambahan variabel seperti literasi keuangan, keyakinan terhadap kemampuan diri, dan kendali diri juga dapat memperluas pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi keputusan investasi.
Profil Penulis
Tiara Angrianingsih merupakan penulis pertama dan penulis korespondensi dalam artikel ini, yang berafiliasi dengan Universitas Mataram. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik Tiara Angrianingsih.
Embun Suryani merupakan penulis kedua dari Universitas Mataram. Dalam bagian ucapan terima kasih, artikel mencantumkan gelar Embun Suryani serta menyebutkan perannya sebagai pembimbing penulisan artikel. Penelitian ini membahas bidang perilaku keuangan, pengalaman investasi, toleransi risiko, dan investasi cryptocurrency.
Sumber Penelitian
Judul artikel jurnal: The Effect of Financial Experience on Investment Behavior with Risk Tolerance as a Mediating Variable (Case Study on Millennials in the Cryptocurrency Market).
Penulis: Tiara Angrianingsih dan Embun Suryani.
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Volume 5, Nomor 10, 2026, halaman 3279–3292.

0 Komentar