![]() |
| Illustration by Ai |
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat menikmati karya seni. Jika dahulu apresiasi seni identik dengan mengunjungi galeri atau museum secara langsung, kini masyarakat dapat mengakses karya seni melalui media sosial, pameran virtual, hingga platform digital. Penelitian terbaru dari Didit Endriawan dan Tri Haryotedjo dari Universitas Telkom pada tahun 2026 menunjukkan bahwa pengalaman menikmati karya seni secara online dan onsite (langsung di lokasi) memiliki karakteristik yang berbeda, tetapi sama-sama mampu menghasilkan pengalaman estetika yang bermakna.
Temuan tersebut dipublikasikan
dalam jurnal International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary
Research (IJAAMR) dengan judul “Aesthetic Experience in Online and
Onsite Art Appreciation: An Islamic Aesthetic Perspective”. Penelitian ini
penting karena memberikan sudut pandang baru bahwa pengalaman seni digital
tidak selalu lebih rendah dibandingkan pengalaman melihat karya seni secara
langsung. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi sarana refleksi, pemaknaan, dan
bahkan pengalaman spiritual.
Dalam beberapa tahun terakhir,
akses terhadap seni semakin luas berkat kemajuan teknologi digital. Masyarakat
dapat menikmati pameran virtual, museum digital, dan karya seni yang dibagikan
melalui internet tanpa harus datang ke lokasi fisik. Kondisi ini memunculkan
pertanyaan penting: apakah pengalaman menikmati seni melalui layar memiliki
kualitas yang sama dengan pengalaman melihat karya secara langsung?
Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, Didit Endriawan dan Tri Haryotedjo menggunakan pendekatan kualitatif
reflektif dengan orientasi autoetnografi. Metode ini memungkinkan peneliti
merefleksikan pengalaman pribadi saat menghadiri pameran seni secara langsung
maupun ketika mengikuti kegiatan apresiasi seni secara digital. Selain
pengalaman pribadi, penelitian juga memanfaatkan dokumentasi pameran, observasi
kegiatan seni, dan berbagai literatur mengenai estetika, apresiasi seni, serta
estetika Islam.
Penelitian ini menganalisis lima
dimensi utama, yaitu persepsi sensorik, keberadaan fisik dan ruang,
materialitas karya, respons emosional dan interpretatif, serta pembentukan
makna spiritual. Kelima aspek tersebut digunakan untuk membandingkan pengalaman
menikmati karya seni secara langsung dan melalui media digital.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa apresiasi seni secara onsite memberikan pengalaman yang lebih melibatkan
tubuh dan berbagai indera. Pengunjung tidak hanya melihat karya seni, tetapi
juga merasakan ukuran, tekstur, posisi ruang, pencahayaan, suasana pameran,
bahkan interaksi dengan lingkungan sekitar karya. Kehadiran fisik memungkinkan
seseorang bergerak mengelilingi karya, mengubah sudut pandang, dan merasakan
hubungan langsung antara karya seni dengan ruang tempat karya tersebut
dipamerkan.
Menurut peneliti, pengalaman langsung ini menciptakan keterhubungan yang kuat
antara persepsi visual, kesadaran tubuh, emosi, dan proses interpretasi.
Pengalaman estetika tidak hanya berasal dari keindahan visual karya, tetapi
juga dari konteks ruang, suasana pameran, serta interaksi fisik yang terjadi
selama proses apresiasi.
Di sisi lain, apresiasi seni
secara online menghadirkan pengalaman yang berbeda. Ketika karya seni
ditampilkan melalui layar, perhatian pengamat lebih terfokus pada aspek visual.
Pengguna dapat memperbesar detail tertentu, mengamati karya berulang kali, dan
mengontrol sendiri durasi pengamatan. Namun, beberapa aspek seperti ukuran asli
karya, tekstur permukaan, dan kedalaman ruang tidak dapat dirasakan secara
langsung.
Keterbatasan tersebut ternyata
tidak menghilangkan pengalaman estetika. Sebaliknya, pengamat menggunakan
imajinasi untuk membayangkan skala, tekstur, suasana pameran, dan konteks karya
yang tidak terlihat melalui layar. Proses ini mendorong keterlibatan kognitif
dan reflektif yang lebih kuat. Pengalaman online memungkinkan seseorang
menghubungkan karya dengan pengetahuan, memori, dan pengalaman pribadi yang
dimiliki sebelumnya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pengalaman emosional tetap muncul dalam
apresiasi seni digital. Warna, komposisi, simbol, dan tema karya mampu
membangkitkan rasa kagum, ketenangan, rasa ingin tahu, hingga refleksi
spiritual meskipun karya hanya dilihat melalui layar. Dengan kata lain,
kedekatan fisik bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas pengalaman
estetika seseorang.
Dari perspektif estetika Islam,
temuan ini memiliki makna yang sangat penting. Estetika Islam memandang
keindahan bukan sekadar kenikmatan visual, tetapi sebagai jalan menuju
perenungan (tafakkur), pemahaman makna, dan kesadaran terhadap keesaan
Tuhan (tawḥīd).
Oleh karena itu, baik pengalaman online maupun onsite dapat menjadi sarana
refleksi spiritual selama mampu mendorong seseorang untuk merenungkan makna
yang terkandung dalam karya seni.
Salah satu kesimpulan utama penelitian adalah bahwa pengalaman seni online dan
onsite tidak seharusnya dipandang sebagai hubungan antara pengalaman “asli” dan
“kurang asli”. Keduanya merupakan konfigurasi pengalaman yang berbeda.
Apresiasi onsite lebih menonjolkan kehadiran fisik, pengalaman multisensorik,
dan kesadaran ruang. Sebaliknya, apresiasi online lebih menonjolkan mediasi
visual, perhatian selektif, imajinasi, dan refleksi. Keduanya memiliki
kelebihan masing-masing dan dapat menghasilkan pengalaman estetika yang
bermakna.
Temuan ini memberikan implikasi penting bagi dunia seni, pendidikan, dan
kebudayaan. Kurator dan pengelola museum dapat mengembangkan pameran virtual
yang lebih interaktif, sementara institusi pendidikan dapat memanfaatkan
platform digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap seni. Penelitian
ini juga menunjukkan bahwa teknologi digital tidak harus dianggap sebagai
ancaman bagi pengalaman seni, melainkan sebagai sarana baru yang memperluas
kesempatan masyarakat untuk berinteraksi dengan karya seni dan memperoleh
pengalaman reflektif.
Didit Endriawan menegaskan bahwa
nilai sebuah pengalaman estetika tidak hanya ditentukan oleh kedekatan fisik
dengan karya seni, tetapi juga oleh kemampuan seseorang untuk mengamati,
memahami, menafsirkan, dan memaknai keindahan yang ditemuinya. Dalam konteks
ini, teknologi digital dapat menjadi jembatan yang menghubungkan lebih banyak
orang dengan pengalaman estetika dan spiritual yang sebelumnya sulit dijangkau.
Profil Penulis
Didit Endriawan, M.Sn.
merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Telkom yang memiliki minat
pada bidang seni rupa, estetika, apresiasi seni, budaya visual, dan estetika
Islam. Dalam penelitian ini ia bertindak sebagai penulis korespondensi.
Tri Haryotedjo merupakan
akademisi dari Universitas Telkom yang menaruh perhatian pada kajian seni,
budaya, komunikasi visual, dan pengembangan pengalaman estetika dalam konteks
digital.
Sumber Penelitian
Endriawan, D., & Haryotedjo,
T. (2026). Aesthetic Experience in Online and Onsite Art Appreciation: An
Islamic Aesthetic Perspective. International Journal of Applied and
Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR), Vol. 4 No. 9, 2026.

0 Komentar