Penelitian berjudul Health Profile of Teaching and Non-Teaching Personnel of the Schools Division Office of Pampanga: A Quantitative Cross-Sectional Study ini membandingkan profil kesehatan tenaga pengajar dan non-pengajar berdasarkan tekanan darah, indeks massa tubuh, gula darah puasa, serta profil lemak darah. Informasi tersebut dapat membantu institusi pendidikan mengenali kebutuhan pemeriksaan lanjutan dan menyusun program kesehatan yang sesuai dengan kondisi pegawai.
Pemeriksaan Kesehatan Tidak Cukup Mengandalkan Riwayat Penyakit
Kesehatan pegawai merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan pelayanan pendidikan. Tenaga pengajar dan non-pengajar sama-sama berperan dalam operasional institusi, tetapi keduanya dapat memiliki karakteristik pekerjaan dan rutinitas sehari-hari yang berbeda.
Seseorang yang tidak melaporkan riwayat penyakit belum tentu memiliki seluruh indikator kesehatan dalam rentang yang diharapkan. Sebaliknya, seseorang yang telah didiagnosis menderita hipertensi atau diabetes dapat menunjukkan hasil pengukuran yang lebih terkendali karena pengobatan atau pengelolaan kondisi kesehatan.
Karena itu, penilaian kesehatan perlu menggabungkan beberapa sumber informasi. Kuesioner dapat memberikan gambaran mengenai riwayat penyakit dan kebiasaan hidup, sedangkan pengukuran fisik dan pemeriksaan laboratorium memberikan informasi mengenai kondisi tubuh pada saat pemeriksaan.
Pendekatan ini relevan untuk pencegahan penyakit tidak menular, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes. Dalam artikel tersebut, para penulis mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yang memperkirakan bahwa penyakit tidak menular menyumbang sekitar 68% kematian di Filipina pada 2021.
Angka nasional tersebut memberikan konteks mengenai pentingnya pencegahan penyakit tidak menular. Namun, kondisi kesehatan pegawai di suatu institusi tetap perlu diketahui melalui pengumpulan data secara langsung, bukan dengan mengasumsikan bahwa mereka memiliki pola risiko yang sama dengan populasi umum.
Bagaimana Penelitian Dilakukan?
Santos, Mallari, dan Samson menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang atau cross-sectional. Artinya, karakteristik kesehatan peserta dinilai dalam satu periode pemeriksaan untuk menggambarkan kondisi dan hubungan antarindikator, bukan untuk mengikuti perubahan kesehatan mereka dalam jangka panjang.
Penelitian ini mencakup 200 pegawai, yang terdiri atas 100 tenaga pengajar dan 100 tenaga non-pengajar. Data dikumpulkan melalui kuesioner, pengukuran fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
Kuesioner mencakup riwayat penyakit yang pernah didiagnosis serta perilaku kesehatan, seperti pola makan, aktivitas fisik, tidur, merokok, dan konsumsi alkohol. Petugas terlatih mengukur tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Data tinggi dan berat badan digunakan untuk menghitung indeks massa tubuh atau body mass index (BMI).
Pemeriksaan laboratorium mencakup gula darah puasa atau fasting blood sugar (FBS) dan profil lipid. Profil lipid meliputi kolesterol total, HDL, LDL, serta trigliserida. Beberapa hasil laboratorium tidak tersedia untuk seluruh peserta, sehingga analisis laboratorium menggunakan data valid dari 190 orang, yakni 94 tenaga pengajar dan 96 tenaga non-pengajar.
Para peneliti menganalisis data menggunakan perangkat lunak Jamovi. Analisis dilakukan untuk membandingkan hasil kesehatan kedua kelompok dan menilai hubungan antara perilaku atau riwayat penyakit yang dilaporkan dengan hasil pengukuran.
Perbedaan Terlihat pada Tekanan Darah dan Profil Lipid
Hasil perbandingan menunjukkan bahwa beberapa indikator kesehatan berbeda antara tenaga pengajar dan tenaga non-pengajar. Perbedaan yang paling menonjol ditemukan pada LDL, sedangkan BMI dan gula darah puasa tidak memperlihatkan perbedaan kelompok yang jelas.
Berikut sejumlah temuan utama yang dilaporkan dalam artikel tersebut.
- Kolesterol LDL: Rata-rata LDL tenaga non-pengajar tercatat 121,0 mg/dL, sedangkan tenaga pengajar 105,3 mg/dL. Selisih rata-rata kedua kelompok mencapai 15,7 mg/dL.
- Tekanan darah sistolik: Rata-rata tenaga non-pengajar sebesar 128,4 mmHg, dibandingkan 124,7 mmHg pada tenaga pengajar.
- Tekanan darah diastolik: Rata-rata tenaga non-pengajar sebesar 81,5 mmHg, sedangkan tenaga pengajar 78,4 mmHg.
- Kolesterol total: Rata-rata pada tenaga non-pengajar mencapai 197,0 mg/dL, dibandingkan 187,8 mg/dL pada tenaga pengajar.
- Kolesterol HDL: Rata-rata tenaga non-pengajar sebesar 50,7 mg/dL, lebih rendah daripada tenaga pengajar yang mencapai 55,2 mg/dL.
- Trigliserida: Rata-rata tenaga non-pengajar tercatat 143,5 mg/dL, sedangkan tenaga pengajar 128,6 mg/dL.
- Indeks massa tubuh: Rata-rata BMI kedua kelompok relatif berdekatan, yaitu 24,7 pada tenaga non-pengajar dan 24,3 pada tenaga pengajar.
- Gula darah puasa: Rata-rata FBS kedua kelompok juga hampir sama, yakni 96,7 mg/dL pada tenaga non-pengajar dan 96,9 mg/dL pada tenaga pengajar.
Secara statistik, perbedaan ditemukan pada tekanan darah sistolik dan diastolik serta seluruh indikator lipid yang ditampilkan. Sebaliknya, analisis tidak menunjukkan perbedaan yang jelas pada BMI dan gula darah puasa.
Temuan tersebut perlu dibaca secara spesifik berdasarkan masing-masing indikator. Rata-rata kelompok tidak menggambarkan kondisi setiap individu, dan hasil ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tenaga non-pengajar memiliki kesehatan yang lebih buruk daripada tenaga pengajar.
Para penulis juga menekankan bahwa analisis perbandingan belum disesuaikan terhadap berbagai faktor yang mungkin memengaruhi hasil, seperti usia, jenis kelamin, penggunaan obat, dan karakteristik kesehatan lainnya. Dengan demikian, perbedaan yang terlihat belum membuktikan bahwa klasifikasi pekerjaan menjadi penyebab perbedaan tekanan darah atau profil lipid.
Aktivitas Fisik dan Hasil Pemeriksaan Tidak Selalu Menunjukkan Hubungan yang Jelas
Penelitian ini juga memeriksa hubungan antara aktivitas fisik yang dilaporkan peserta dan sejumlah indikator kesehatan. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut relatif lemah dan tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang digunakan dalam penelitian.
Hubungan aktivitas fisik dengan BMI memiliki koefisien korelasi 0,057, sedangkan hubungan dengan tekanan darah sistolik sebesar −0,128. Untuk gula darah puasa, koefisiennya 0,025, dan untuk trigliserida sebesar −0,055. Seluruh hasil tersebut memiliki nilai p di atas 0,05.
Temuan ini tidak berarti bahwa aktivitas fisik tidak bermanfaat bagi kesehatan. Pengukuran aktivitas fisik yang sederhana mungkin belum menggambarkan frekuensi, durasi, intensitas, dan konsistensi aktivitas seseorang secara memadai. Selain itu, tekanan darah dan hasil laboratorium dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
Para penulis juga mengingatkan bahwa analisis tersebut hanya mencakup satu perilaku, yaitu aktivitas fisik, serta empat indikator kesehatan. Karena itu, hasilnya belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan seluruh perilaku kesehatan dengan kondisi fisik dan biokimia peserta.
Pola makan, kualitas tidur, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol memerlukan analisis tersendiri sebelum hubungan perilaku kesehatan secara keseluruhan dapat dinilai.
Riwayat Hipertensi dan Diabetes Perlu Dilengkapi Pemeriksaan
Temuan lain menunjukkan bahwa riwayat diagnosis hipertensi dan diabetes yang dilaporkan peserta berhubungan secara statistik dengan hasil pengukuran yang sesuai. Peserta yang melaporkan pernah didiagnosis hipertensi cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi menunjukkan tekanan darah sistolik pada atau di atas ambang yang digunakan dalam analisis. Pola serupa ditemukan pada peserta yang melaporkan diabetes dan hasil gula darah puasa.
Namun, riwayat diagnosis dan hasil pemeriksaan pada satu waktu tidak selalu sama. Sebagian peserta yang melaporkan hipertensi atau diabetes memiliki hasil pengukuran di bawah ambang analisis. Pengobatan dan pengelolaan penyakit merupakan kemungkinan penjelasan, tetapi penelitian ini tidak memastikan penyebab perbedaan tersebut.
Sebaliknya, beberapa peserta yang tidak melaporkan diagnosis sebelumnya menunjukkan hasil pengukuran pada atau di atas ambang yang digunakan. Kondisi ini tidak otomatis membuktikan adanya penyakit yang belum terdiagnosis. Hasil pemeriksaan penelitian perlu ditindaklanjuti melalui evaluasi oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Pesan penting dari temuan ini adalah bahwa kuesioner dan pemeriksaan fisik maupun laboratorium saling melengkapi. Riwayat kesehatan membantu memberikan konteks, sedangkan pengukuran memberikan gambaran kondisi pada saat pemeriksaan. Keduanya tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti satu sama lain.
Implikasi bagi Program Kesehatan di Lingkungan Pendidikan
Hasil penelitian memberikan dasar bagi pengelola Schools Division Office of Pampanga untuk mempertimbangkan program kesehatan kerja yang berfokus pada kebutuhan nyata pegawai. Pemeriksaan berkala, edukasi kesehatan, dan rujukan medis dapat dirancang berdasarkan pola temuan agregat, terutama yang berkaitan dengan tekanan darah dan profil lipid.
Santos, Mallari, dan Samson merekomendasikan agar hasil pemeriksaan individu disampaikan secara pribadi kepada masing-masing peserta. Pegawai yang memerlukan pemeriksaan lanjutan perlu memperoleh penjelasan dan akses rujukan kepada tenaga kesehatan yang berkualifikasi.
Pada tingkat institusi, data yang telah dihilangkan identitas pribadinya dapat digunakan untuk menentukan prioritas edukasi dan kegiatan pemeriksaan kesehatan sukarela. Program tersebut dapat mencakup edukasi mengenai tekanan darah, kesehatan lipid, pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan penghentian kebiasaan merokok.
Program kesehatan juga perlu menjangkau tenaga pengajar dan non-pengajar tanpa memberikan label risiko berdasarkan jabatan. Kerahasiaan informasi kesehatan harus tetap dijaga agar data pemeriksaan tidak digunakan untuk menghakimi atau merugikan pegawai.
Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan. Desain potong lintang tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat, sedangkan data perilaku dan riwayat penyakit yang dilaporkan sendiri dapat dipengaruhi oleh ingatan peserta. Perbandingan kelompok yang belum disesuaikan terhadap faktor perancu juga perlu ditafsirkan secara hati-hati.
Penelitian berikutnya dapat melibatkan lebih banyak sekolah dan kantor divisi pendidikan, menggunakan pengukuran perilaku yang lebih terperinci, serta melakukan pemeriksaan berulang untuk melihat perubahan kesehatan dari waktu ke waktu. Evaluasi program kesehatan kerja juga dapat membantu mengetahui apakah edukasi, pemeriksaan, dan rujukan benar-benar meningkatkan tindak lanjut kesehatan pegawai.
Profil Penulis
R’mon Ian C. Santos merupakan penulis korespondensi dalam artikel ini, dengan afiliasi Schools Division Office of Pampanga, Filipina. Santos dapat dihubungi melalui alamat surel yang dicantumkan dalam artikel: rmoniancsantos@gmail.com.
Maria Hazel G. Mallari merupakan salah satu penulis artikel dengan afiliasi Schools Division Office of Pampanga, Filipina.
Maria Hazel B. Samson juga merupakan penulis artikel dengan afiliasi Schools Division Office of Pampanga, Filipina.
Artikel yang dipublikasikan tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian khusus masing-masing penulis secara terperinci. Oleh karena itu, profil ini dibatasi pada nama, afiliasi, dan informasi kontak yang tersedia dalam publikasi.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Health Profile of Teaching and Non-Teaching Personnel of the Schools Division Office of Pampanga: A Quantitative Cross-Sectional Study
Penulis: R’mon Ian C. Santos, Maria Hazel G. Mallari, dan Maria Hazel B. Samson.
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Volume 5, Nomor 9, 2026, halaman 2619–2630.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i9.167
URL jurnal: https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar