Model Bermain Peran Tingkatkan Keaktifan Siswa Kelas V dalam Pelajaran Bahasa Indonesia

Ilustrasi by AI

Enrekang — Pembelajaran melalui bermain peran dapat membantu meningkatkan keaktifan siswa sekolah dasar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Temuan ini ditunjukkan oleh penelitian Nur Ilmi, Usman, dan Mardatillah dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar, yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di SD Negeri 17 Singki, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Setelah diterapkan dalam dua siklus pembelajaran, model role-playing meningkatkan persentase keaktifan belajar siswa dari kategori sedang menjadi tinggi, dengan capaian mencapai 90,38 persen pada pertemuan terakhir.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak harus berlangsung melalui penjelasan guru dan kegiatan membaca semata. Siswa juga dapat dilibatkan secara langsung melalui permainan peran, diskusi kelompok, penyampaian pendapat, dan refleksi bersama. Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk berpartisipasi aktif sekaligus melatih keberanian mereka berkomunikasi di depan teman-teman sekelas.

Mengatasi Siswa Pasif di Kelas

Keaktifan belajar menjadi salah satu unsur penting dalam pembelajaran di sekolah dasar. Siswa tidak hanya diharapkan memahami materi, tetapi juga mampu bertanya, menjawab pertanyaan, menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan menarik kesimpulan dari kegiatan pembelajaran.

Namun, kondisi awal di kelas V SD Negeri 17 Singki menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia belum merata. Sejumlah siswa masih enggan bertanya atau menyampaikan pendapat, sementara diskusi kelas cenderung didominasi oleh beberapa siswa. Kurangnya rasa percaya diri dan terbatasnya kesempatan untuk terlibat langsung dalam pembelajaran turut menjadi tantangan.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena Kurikulum Merdeka mendorong proses belajar yang berpusat pada siswa. Guru tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga merancang kegiatan yang memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahaman melalui pengalaman belajar.

Model role-playing atau bermain peran dipilih sebagai salah satu alternatif. Melalui model ini, siswa memerankan tokoh atau situasi tertentu berdasarkan skenario pembelajaran. Mereka kemudian berdiskusi, mengamati penampilan kelompok lain, memberikan tanggapan, dan menyimpulkan pesan yang dipelajari.

Dalam materi Bahasa Indonesia pada Bab VI bertema “Cinta Indonesia”, kegiatan tersebut juga digunakan untuk membantu siswa memahami nilai-nilai yang disampaikan melalui cerita rakyat. Dengan memerankan tokoh dan mendiskusikan cerita, siswa memperoleh kesempatan untuk berlatih berbicara sekaligus memahami materi secara lebih kontekstual.

Penelitian Melibatkan 15 Siswa Sekolah Dasar

Nur Ilmi, Usman, dan Mardatillah menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang melibatkan seorang guru dan 15 siswa kelas V, terdiri atas empat siswa laki-laki dan sebelas siswa perempuan. Penelitian berlangsung pada semester genap tahun ajaran 2025/2026 di UPT SD Negeri 17 Singki, Desa Singki, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang.

Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus mencakup empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Setelah hasil pembelajaran pada siklus pertama dievaluasi, guru memperbaiki pelaksanaan pembelajaran untuk siklus berikutnya.

Dalam kegiatan bermain peran, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan mendapatkan peran sesuai skenario. Mereka mempersiapkan penampilan, memainkan tokoh, mengamati kelompok lain, berdiskusi, memberikan tanggapan, serta menyusun kesimpulan bersama guru.

Peneliti mengumpulkan data melalui pengamatan aktivitas guru dan siswa, tes, serta dokumentasi. Pengamatan mencakup partisipasi siswa dalam diskusi, keberanian bertanya dan menjawab, kemampuan mengemukakan pendapat, kerja sama kelompok, serta keterlibatan dalam kegiatan refleksi.

Keberhasilan penelitian ditetapkan berdasarkan indikator keaktifan minimal 76 persen. Dengan jumlah peserta 15 siswa, target tersebut setara dengan capaian indikator keaktifan yang telah ditentukan peneliti untuk sekurang-kurangnya 11 siswa.

Keaktifan Belajar Meningkat dari Siklus Pertama ke Siklus Kedua

Hasil pengamatan memperlihatkan peningkatan keaktifan siswa setelah guru menerapkan model bermain peran dan memperbaiki proses pembelajaran.

Pada siklus pertama, persentase keaktifan belajar siswa mencapai 55,76 persen pada pertemuan pertama dan meningkat menjadi 69,23 persen pada pertemuan kedua. Kedua capaian tersebut masih berada dalam kategori sedang dan belum memenuhi indikator keberhasilan minimal 76 persen.

Pada tahap awal, beberapa siswa masih merasa kurang percaya diri ketika memainkan peran. Partisipasi dalam diskusi belum merata, dan sebagian siswa masih ragu menyampaikan pendapat atau menarik kesimpulan secara mandiri.

Guru kemudian melakukan sejumlah perbaikan untuk siklus kedua. Penjelasan mengenai alur cerita dan pembagian peran dibuat lebih jelas. Guru juga memberikan bimbingan lebih intensif, mendorong seluruh anggota kelompok untuk terlibat, serta memanfaatkan presentasi PowerPoint, lembar kerja peserta didik, dan alat peraga sederhana untuk mendukung kegiatan.

Setelah perbaikan tersebut, keaktifan siswa meningkat menjadi 78,84 persen pada pertemuan pertama siklus kedua dan mencapai 90,38 persen pada pertemuan kedua. Kedua hasil itu masuk kategori tinggi dan melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan.

Secara keseluruhan, peningkatan dari 55,76 persen pada pertemuan pertama siklus pertama menjadi 90,38 persen pada pertemuan kedua siklus kedua mencapai 34,62 poin persentase. Angka tersebut menggambarkan perubahan positif dalam keterlibatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Kegiatan guru dan siswa juga menunjukkan perbaikan. Dalam bagian hasil penelitian, aktivitas guru pada siklus kedua dilaporkan mencapai 88,88 persen, sedangkan aktivitas siswa mencapai 82,38 persen. Pada bagian pembahasan dan kesimpulan, angka aktivitas guru dan siswa masing-masing dilaporkan sebesar 91 persen dan 82,92 persen. Meski terdapat perbedaan angka antarbagiannya, seluruh hasil tersebut menunjukkan kecenderungan peningkatan setelah perbaikan pembelajaran.

Bermain Peran Membuka Ruang untuk Berani Berpendapat

Peningkatan keaktifan tidak hanya terlihat dari persentase pengamatan. Peneliti juga melaporkan perubahan perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran. Pada siklus kedua, siswa lebih berani memainkan tokoh di depan kelas, menyampaikan gagasan, menanggapi penampilan kelompok lain, dan berpartisipasi dalam diskusi.

Aktivitas bermain peran memberi siswa tugas yang jelas dan kesempatan untuk berkontribusi. Siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga harus memahami peran, berkoordinasi dengan kelompok, menyampaikan dialog, dan merespons situasi pembelajaran.

Proses tersebut berpotensi membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi, kerja sama, dan kepercayaan diri. Diskusi setelah penampilan juga memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami isi cerita serta mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Bagi guru sekolah dasar, temuan ini dapat menjadi referensi praktis dalam merancang pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih interaktif. Model bermain peran dapat diterapkan pada materi yang sesuai, seperti cerita rakyat, dialog, tokoh dalam cerita, atau situasi komunikasi sehari-hari. Guru tetap perlu menyesuaikan skenario, pembagian peran, media pembelajaran, dan tingkat pendampingan dengan kebutuhan siswa.

Hasil Positif Perlu Diuji dalam Konteks yang Lebih Luas

Meskipun hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang jelas di kelas yang diamati, temuan ini perlu dipahami sesuai cakupannya. Penelitian hanya melibatkan 15 siswa di satu sekolah dan berlangsung selama dua siklus. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk semua sekolah dasar atau membuktikan bahwa bermain peran selalu lebih efektif dibandingkan model pembelajaran lainnya.

Penelitian ini terutama menunjukkan perubahan keaktifan belajar selama penerapan dan perbaikan pembelajaran. Untuk mengetahui apakah pendekatan tersebut juga meningkatkan hasil belajar dalam jangka panjang, kemampuan berpikir kritis, atau keterampilan komunikasi secara terukur, penelitian lanjutan dengan peserta lebih banyak dan waktu pengamatan lebih panjang masih diperlukan.

Namun, pengalaman di SD Negeri 17 Singki memperlihatkan bahwa kesempatan untuk berpartisipasi, dukungan guru, dan penggunaan media yang sesuai dapat menjadi bagian penting dalam membangun suasana belajar yang lebih aktif.

Profil Penulis dan Sumber Penelitian

Nur Ilmi, Usman, dan Mardatillah merupakan penulis yang berafiliasi dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Makassar. Artikel yang dipublikasikan tidak memberikan informasi lengkap mengenai gelar akademik dan bidang keahlian khusus masing-masing penulis, sehingga informasi tersebut tidak dicantumkan di sini.

Sumber penelitian:

Judul artikel: “The Implementation of The Role-Playing Learning Model to Improve the Indonesian Language Learning Activeness of Fifth-Grade Students at SD Negeri 17 Singki, Enrekang Regency”
Penulis: Nur Ilmi, Usman, dan Mardatillah
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume dan nomor: Vol. 4, No. 10, 2026, hlm. 1463–1476
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i10.88
Situs jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas


Posting Komentar

0 Komentar