Model Tourism Sisters’ Islands Diluncurkan untuk Interkoneksi Pariwisata Bali, NTB, dan NTT
FORMOSA NEWS — Pengembangan sektor pariwisata di wilayah kepulauan Indonesia kerap kali menghadapi tantangan akibat tingginya ego sektoral dan lemahnya konektivitas antardaerah
Penelitian yang dilakukan sepanjang tahun 2025 ini bertujuannya untuk mengintegrasikan potensi pariwisata Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) ke dalam satu ekosistem yang terpadu, berkelanjutan, dan berdaya saing global
Tantangan Sektor Pariwisata Kepulauan
Meskipun secara geografis Bali, NTB, dan NTT saling berdekatan serta memiliki daya tarik kelas dunia, pembangunan pariwisata di ketiga provinsi ini sebelumnya berjalan secara terfragmentasi
Kondisi tersebut berdampak pada durasi kunjungan wisatawan yang belum maksimal
Inisiatif kerja sama antarprovinsi sebenarnya telah tercetus melalui kesepakatan Kerjasama Regional Bali–NTB–NTT (KR BNN)
Metodologi Penelitian sederhanakan
Untuk merumuskan model pengembangan yang komprehensif, tim peneliti mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif melalui pendekatan Research and Development (R&D) model Borg and Gall
Pengumpulan data lapangan dilaksanakan pada tahun 2025 dengan melibatkan dua kelompok responden utama
- Survei Kuantitatif: Mengukur persepsi 50 wisatawan (domestik dan mancanegara) di berbagai destinasi utama Bali, NTB, dan NTT menggunakan skala Likert 1–5
. - Wawancara Kualitatif Mendalam: Melibatkan 8 informan kunci yang terdiri dari pejabat dinas pariwisata, pengelola destinasi, serta pelaku industri pariwisata lokal
.
Temuan Utama: Konektivitas Menjadi Titik Lemah Utama
Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa tingkat integrasi pariwisata lintas pulau saat ini berada pada kategori sedang dengan rata-rata keseluruhan sebesar 3,18 dari skala 5,00
Beberapa poin temuan penting dari riset ini antara lain
- Integrasi Perencanaan (Rata-rata 3,15): Koordinasi operasional antardaerah sudah mulai berjalan (skor 3,28), namun sinkronisasi kebijakan strategis jangka panjang masih tergolong rendah (skor 3,02)
. - Kolaborasi Pemangku Kepentingan (Rata-rata 3,10): Partisipasi masyarakat lokal tergolong sangat kuat (skor 3,25), tetapi koordinasi kelembagaan formal dan keterlibatan sektor swasta masih terfragmentasi (skor 2,95)
. - Pengembangan Produk Pariwisata (Rata-rata 3,20): Daya tarik produk di masing-masing pulau dinilai sangat tinggi (skor 3,35), namun integrasi paket wisata antar-destinasi masih terbatas (skor 3,05)
. - Konektivitas Destinasi (Rata-rata 2,89): Merupakan variabel dengan skor terendah
. Indikator keterhubungan transportasi hanya mencatatkan skor 2,85, mengonfirmasi bahwa keterbatasan jalur transportasi darat, laut, dan udara yang langsung dan efisien menjadi hambatan struktural utama .
Implikasi Kebijakan dan Manfaat Dampak Bagi Masyarakat
Model Sisters' Islands memberikan kerangka kerja praktis berupa pembagian peran destinasi yang saling melengkapi (complementary positioning)
- Bali diposisikan sebagai pusat pariwisata budaya (cultural tourism)
. - NTB difokuskan sebagai pusat pariwisata petualangan dan sport tourism (adventure tourism)
. - NTT dituntut memperkuat posisinya sebagai pusat pariwisata bahari (marine tourism)
.
Melalui model ini, ketiga provinsi tidak lagi saling bersaing, melainkan saling memperkuat melalui peluncuran portal promosi digital bersama, penyusunan kalender event terpadu, serta perancangan paket perjalanan lintas pulau yang berkesinambungan
Selain mempermudah wisatawan, penerapan model terintegrasi ini diproyeksikan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat lokal di NTB dan NTT melalui peningkatkan arus kunjungan turis dari Bali
"Setiap pulau memiliki produk pariwisata yang sangat kuat, namun selama ini belum dipadukan ke dalam satu rangkaian perjalanan yang utuh. Model Sisters' Islands hadir untuk menghubungkan keunggulan tersebut ke dalam satu sistem pariwisata terintegrasi," catat tim peneliti dalam laporan risetnya
Profil Penulis
Sirajuddin, M.Pd. (Penulis Utama & Korespondensi):
Dosen dan Peneliti di Politeknik Pariwisata Lombok, Indonesia. Memiliki kepakaran di bidang perencanaan pariwisata, manajemen event, dan pengembangan destinasi berkelanjutan. Budi Made Budiarsa, Dr.:
Akademisi dan Peneliti di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI), Bali, Indonesia, dengan fokus keahlian pada tata kelola destinasi dan manajemen bisnis pariwisata. Putu Herny Susanti, M.Par.:
Dosen dan Peneliti di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI), Bali, Indonesia, berpengalaman dalam bidang pemasaran pariwisata dan perencanaan produk wisata. Agus Made Yoga Iswara, Dr.:
Peneliti dan Akademisi di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI), Bali, Indonesia, berfokus pada analisis kebijakan pariwisata dan collaborative governance. - Nyoman Surya Wijaya, Dr.: Dosen dan Peneliti di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPBI), Bali, Indonesia, memiliki keahlian dalam bidang manajemen perhotelan dan operasional pariwisata
.
Sumber Informasi Penelitian
- Judul Artikel Jurnal: Designing a Planning and Development Model for Sisters' Islands Tourism Products in Bali, NTB, and NTT
- Nama Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS)
- Volume & Nomor: Vol. 4, No. 9, September 2026 (Halaman: 2225–2248)
- Penulis: Sirajuddin, Budi Made Budiarsa, Putu Herny Susanti, Agus Made Yoga Iswara, Nyoman Surya Wijaya
- Digital Object Identifier (DOI):
https://doi.org/10.55927/tm90zx33 - URL Resmi:
https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

0 Komentar