Media Mubasyaroh Bantu Siswa Pesantren Memahami Kosakata dan Lebih Percaya Diri Berbahasa Arab

Created by AI

FORMOSA NEWS -  Joko Suranto dan Wakib Kurniawan dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Bustanul Ulum, Lampung Tengah, Indonesia, menemukan bahwa penggunaan media Mubasyaroh dapat mendukung pemahaman kosakata, keberanian berbicara, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa Arab. Temuan tersebut diperoleh melalui pengamatan pembelajaran siswa tingkat Ulya di Pondok Pesantren Anshorussunnah Al Islamy pada tahun akademik 2026–2027. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa benda nyata, gambar, demonstrasi, dan komunikasi langsung dalam bahasa Arab dapat menjadi alternatif pembelajaran yang lebih kontekstual dan interaktif tanpa harus bergantung pada teknologi canggih.

Penelitian berjudul The Effectiveness of Using Mubasyaroh Media in Arabic Language Learning tersebut menyoroti tantangan pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pendidikan Islam. Hasilnya memberikan gambaran praktis bagi guru dan pengelola pesantren dalam menciptakan kegiatan belajar yang membantu siswa memahami makna kata sekaligus menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari.

Pembelajaran Bahasa Arab Membutuhkan Pengalaman Langsung

Bahasa Arab memiliki peran penting dalam pendidikan Islam karena digunakan untuk memahami Al-Qur'an, hadis, dan berbagai literatur keislaman. Penguasaan bahasa ini juga mencakup kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Karena itu, pembelajaran bahasa Arab tidak cukup hanya mengandalkan hafalan kosakata, penjelasan guru, atau latihan menerjemahkan teks.

Dalam praktiknya, pembelajaran di sejumlah lembaga pendidikan masih menghadapi kendala berupa keterbatasan variasi media, kegiatan kelas yang monoton, penguasaan kosakata yang belum memadai, dan rendahnya kepercayaan diri siswa ketika berbicara menggunakan bahasa Arab. Kondisi tersebut dapat membatasi kesempatan siswa untuk mempraktikkan bahasa secara langsung.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah metode Mubasyaroh atau metode langsung. Pendekatan ini mendorong penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa utama dalam kegiatan pembelajaran, sementara terjemahan tidak dijadikan cara utama untuk menjelaskan makna.

Dalam penerapannya, guru dapat menunjukkan benda, menggunakan gambar, memperagakan tindakan, atau menciptakan situasi komunikasi sederhana. Siswa kemudian menghubungkan kata berbahasa Arab dengan objek atau tindakan yang mereka lihat.

Penelitian Suranto dan Kurniawan secara khusus membahas media pendukung metode tersebut. Perbedaan ini penting: Mubasyaroh merupakan pendekatan mengajar, sedangkan media Mubasyaroh adalah sarana konkret yang membantu guru menerapkan pendekatan itu di kelas.

Pengamatan terhadap Guru dan Sepuluh Siswa

Suranto dan Kurniawan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memahami bagaimana media Mubasyaroh diterapkan dan bagaimana siswa merespons kegiatan pembelajaran. Penelitian berlangsung di satu kelas tingkat Ulya tahun kedua di Pondok Pesantren Anshorussunnah Al Islamy selama tahun akademik 2026–2027.

Data dikumpulkan melalui tiga cara, yaitu pengamatan langsung terhadap kegiatan kelas, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi pembelajaran. Peneliti mengamati empat sesi pembelajaran bahasa Arab serta mewawancarai satu guru bahasa Arab dan sepuluh siswa yang dipilih berdasarkan pengalaman dan keterlibatan mereka dalam kegiatan belajar.

Pengamatan mencakup penggunaan media, pemahaman kosakata, respons lisan, interaksi antara guru dan siswa, serta keterlibatan peserta didik. Wawancara digunakan untuk mengetahui pengalaman guru dan siswa, sedangkan dokumentasi membantu memeriksa kesesuaian informasi dengan aktivitas pembelajaran yang berlangsung.

Data dari ketiga sumber tersebut kemudian dibandingkan untuk menemukan pola yang konsisten. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menjelaskan pengalaman belajar siswa secara mendalam, tetapi tidak menghasilkan ukuran statistik tentang seberapa besar peningkatan kemampuan mereka.

Lima Temuan Utama Penggunaan Media Mubasyaroh

Hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi memperlihatkan sejumlah kontribusi media Mubasyaroh terhadap kegiatan belajar bahasa Arab.

1. Membantu siswa menghubungkan kata dengan makna.

Guru menggunakan benda-benda yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti buku, pena, meja, dan tas. Ketika memperkenalkan kosakata, guru menunjukkan benda tersebut sambil menyebutkan nama Arabnya. Siswa kemudian diminta mengenali, mengucapkan, dan menggunakan kata tersebut dalam ungkapan sederhana.

Cara ini membantu siswa memahami rujukan suatu kata secara langsung, sehingga mereka tidak harus selalu mengandalkan terjemahan bahasa Indonesia.

2. Mendorong partisipasi di kelas.

Siswa terlihat memperhatikan benda dan gambar yang ditampilkan, mengulang kosakata, menjawab pertanyaan, serta mengikuti instruksi sederhana dalam bahasa Arab. Beberapa siswa yang pada awalnya memberikan respons terbatas mulai terlibat dalam latihan tanya jawab dan percakapan singkat.

Temuan tersebut menunjukkan perubahan perilaku yang terlihat selama pembelajaran, bukan peningkatan keterlibatan yang diukur menggunakan skala statistik.

3. Membantu siswa mengingat kosakata.

Dalam wawancara, seorang siswa menjelaskan bahwa melihat benda secara langsung membuatnya lebih mudah mengingat kata bahasa Arab karena ia memahami benda yang dimaksud. Guru juga menyampaikan bahwa siswa lebih mudah memahami kosakata ketika penjelasan disertai benda atau gambar dibandingkan dengan penjelasan verbal saja.

Pengalaman ini memperlihatkan manfaat pembelajaran yang menghubungkan bahasa dengan objek konkret. Siswa tidak hanya mendengar atau menghafal kata, tetapi juga melihat referennya.

4. Meningkatkan keberanian untuk berbicara.

Media yang digunakan guru menyediakan bahan percakapan yang jelas. Siswa dapat menyebutkan nama benda, menjawab pertanyaan, mengikuti instruksi, dan berlatih dialog sederhana berdasarkan objek yang tersedia.

Guru mengamati bahwa siswa lebih berani menjawab ketika memahami benda yang sedang dibicarakan. Meski demikian, kemampuan berbicara yang teramati masih terbatas pada kosakata dan ungkapan sederhana. Penelitian ini belum membuktikan peningkatan menyeluruh dalam kelancaran, ketepatan tata bahasa, atau kemampuan komunikasi tingkat lanjut.

5. Menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.

Dokumentasi kegiatan memperlihatkan bahwa benda, gambar, demonstrasi, dan komunikasi lisan digunakan bersama-sama dalam kegiatan kelas. Media tidak sekadar dipajang, tetapi diintegrasikan dengan latihan pengucapan, pengenalan objek, pertanyaan, dan dialog singkat.

Kombinasi tersebut membuat siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk merespons dan menggunakan bahasa Arab secara aktif.

Mengapa Benda Nyata Dapat Membantu Pembelajaran Bahasa?

Temuan penelitian ini sejalan dengan gagasan embodied cognition, yaitu pandangan bahwa pemahaman dapat berkaitan dengan pengalaman indrawi dan gerakan tubuh. Dalam pembelajaran bahasa, siswa dapat membangun hubungan antara kata dan makna melalui apa yang mereka lihat, amati, dan lakukan.

Sebagai contoh, ketika guru menunjukkan sebuah buku sambil mengucapkan kata Arab untuk buku, siswa memperoleh dua informasi yang saling melengkapi: bunyi kata dan objek yang dirujuk. Ketika siswa diminta mengambil, menunjukkan, atau menyebutkan benda tersebut, mereka juga memperoleh kesempatan untuk menggunakan kosakata dalam konteks tindakan.

Pendekatan ini dapat membantu mengurangi sifat abstrak dalam pembelajaran kosakata. Namun, keberhasilannya bergantung pada cara guru mengintegrasikan media dengan kegiatan yang bermakna. Benda nyata saja tidak otomatis membuat siswa menguasai bahasa Arab.

Guru tetap perlu memberikan contoh pelafalan, mengulang kosakata secara terarah, mengajukan pertanyaan, dan mendorong siswa menyusun kalimat atau berdialog. Tingkat kesulitan kegiatan juga perlu disesuaikan dengan kemampuan awal siswa.

Manfaat bagi Guru dan Lembaga Pendidikan Islam

Penelitian Suranto dan Kurniawan memberikan alternatif praktis bagi guru yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab dengan sumber daya sederhana. Benda-benda di ruang kelas dapat digunakan sebagai media pembelajaran tanpa memerlukan perangkat digital atau biaya pengadaan yang besar.

Guru dapat memulai pelajaran dengan memperkenalkan beberapa benda, menyebutkan nama Arabnya, lalu meminta siswa mengidentifikasi benda tersebut. Kegiatan dapat dilanjutkan dengan latihan tanya jawab, perbandingan objek, penyusunan kalimat, dan dialog berpasangan.

Pengelola pesantren juga dapat menggunakan pendekatan ini sebagai bahan evaluasi untuk memperkaya variasi pembelajaran. Media konkret dapat dikombinasikan dengan gambar, gerakan, dan praktik komunikasi agar kegiatan tidak berulang dengan pola yang sama.

Meski demikian, hasil penelitian perlu dipahami sesuai batasannya. Penelitian dilakukan pada satu kelas dengan sepuluh siswa yang diwawancarai dan satu guru. Peneliti tidak menggunakan tes sebelum dan sesudah pembelajaran, kelompok pembanding, atau pengujian statistik untuk mengukur dampak kausal media Mubasyaroh.

Karena itu, temuan tersebut menunjukkan kontribusi yang terlihat dalam pengalaman belajar dan perilaku siswa pada konteks yang diamati, bukan bukti bahwa media tersebut pasti menghasilkan peningkatan kemampuan yang sama di semua sekolah atau pesantren.

Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar, periode pengamatan lebih panjang, serta pengukuran kemampuan kosakata dan berbicara dapat membantu menjelaskan besarnya manfaat media Mubasyaroh secara lebih terukur.

Profil Penulis

Joko Suranto merupakan penulis pertama sekaligus penulis korespondensi dalam artikel ini. Ia berafiliasi dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Bustanul Ulum, Lampung Tengah, Indonesia. Alamat korespondensi yang tercantum dalam artikel adalah surantojokosuranto61@gmail.com.

Wakib Kurniawan merupakan penulis kedua dan berafiliasi dengan Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Bustanul Ulum, Lampung Tengah, Indonesia.

Artikel yang diberikan tidak mencantumkan gelar akademik kedua penulis maupun keterangan terperinci mengenai bidang keahlian masing-masing. Oleh karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap sesuai dengan data yang tersedia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effectiveness of Using Mubasyaroh Media in Arabic Language Learning

Penulis: Joko Suranto dan Wakib Kurniawan

Afiliasi: Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Bustanul Ulum, Lampung Tengah, Indonesia

Tahun publikasi: 2026

Jurnal: Asian Journal of Education and E-Learning (AJAE)

DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i4.17083

URL jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

Kesimpulan: Media Mubasyaroh menawarkan cara sederhana untuk membuat pembelajaran bahasa Arab lebih konkret dan komunikatif. Penggunaan benda nyata, gambar, demonstrasi, dan praktik langsung dapat membantu siswa menghubungkan kosakata dengan makna, lebih aktif menjawab pertanyaan, serta lebih berani menggunakan ungkapan bahasa Arab. Bagi guru dan pesantren, pendekatan ini dapat menjadi pilihan untuk memperkaya pembelajaran, dengan tetap memperhatikan bahwa manfaatnya perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang lebih luas dan terukur.

Posting Komentar

0 Komentar