Hasil penelitian ini relevan bagi guru yang menghadapi tantangan dalam pembelajaran IPAS, terutama ketika siswa kesulitan memahami konsep yang disampaikan hanya melalui penjelasan lisan. Dengan memanfaatkan gambar yang sesuai dengan materi, guru dapat memberikan contoh visual yang lebih konkret sehingga siswa memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai objek, proses, atau fenomena yang sedang dipelajari.
Pembelajaran IPAS Membutuhkan Media yang Menarik
IPAS merupakan mata pelajaran yang menggabungkan pemahaman tentang fenomena alam dan kehidupan sosial. Melalui mata pelajaran ini, siswa sekolah dasar diharapkan mampu mengenali lingkungan sekitarnya, memahami hubungan sebab-akibat, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan ilmiah.
Namun, pembelajaran IPAS dapat menjadi tantangan apabila materi disampaikan terutama melalui metode ceramah. Siswa mungkin mendengar penjelasan guru, tetapi belum tentu mampu membayangkan objek atau proses yang dijelaskan. Kondisi ini dapat membuat sebagian siswa kurang tertarik, kurang aktif selama pembelajaran, dan kesulitan mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Permasalahan tersebut juga ditemukan dalam pengamatan awal di SD Negeri 046413 Barung Kersap. Para peneliti melaporkan bahwa sebagian siswa menunjukkan ketertarikan belajar yang masih rendah, kurang berpartisipasi secara aktif, dan memperoleh nilai yang belum mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan.
Salah satu alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut adalah penggunaan media gambar. Media ini dapat berupa foto, ilustrasi, diagram, atau bentuk visual lain yang berhubungan langsung dengan materi pelajaran. Guru dapat menggunakan gambar untuk memperjelas penjelasan, menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, serta memancing siswa untuk mengamati dan mendiskusikan informasi yang mereka lihat.
Dalam pembelajaran IPAS, misalnya, gambar dapat membantu siswa mengenali bagian-bagian tumbuhan, memahami rantai makanan, mengamati perubahan lingkungan, atau membandingkan berbagai jenis bentang alam. Visualisasi semacam ini membantu menghadirkan representasi yang lebih konkret dari materi yang sebelumnya hanya dijelaskan dengan kata-kata.
Penelitian Melibatkan 25 Siswa Kelas V
Royana Br Sihombing dan rekan-rekannya melaksanakan penelitian di SD Negeri 046413 Barung Kersap, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo, pada Oktober 2025. Penelitian tersebut melibatkan seluruh 25 siswa kelas V sebagai peserta, terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.
Para peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain satu kelompok yang diuji sebelum dan sesudah perlakuan. Dalam pelaksanaannya, siswa terlebih dahulu mengerjakan tes awal atau pretest untuk mengetahui kemampuan mereka sebelum pembelajaran menggunakan media gambar.
Selanjutnya, siswa mengikuti pembelajaran IPAS dengan bantuan media gambar. Setelah perlakuan diberikan, mereka mengerjakan tes akhir atau posttest. Hasil kedua tes tersebut kemudian dibandingkan untuk melihat perubahan nilai siswa.
Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk menilai perbedaan hasil sebelum dan sesudah pembelajaran. Peneliti juga menggunakan N-Gain untuk mengelompokkan tingkat peningkatan hasil belajar ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi.
Pendekatan ini memberikan gambaran tentang perubahan capaian siswa setelah penggunaan media gambar. Namun, karena penelitian hanya melibatkan satu kelompok tanpa kelas pembanding, hasilnya belum dapat memastikan bahwa seluruh peningkatan nilai semata-mata disebabkan oleh media gambar. Faktor lain, seperti pengalaman belajar selama pembelajaran dan pemahaman siswa terhadap materi, juga mungkin berkontribusi.
Rata-Rata Nilai Meningkat 19,4 Poin
Temuan utama penelitian memperlihatkan adanya peningkatan hasil belajar setelah media gambar digunakan dalam pembelajaran IPAS. Perbandingan nilai tes awal dan tes akhir menunjukkan perubahan berikut.
- Sebelum pembelajaran menggunakan media gambar: rata-rata nilai siswa mencapai 63,2, dengan nilai tertinggi 75 dan nilai terendah 45.
- Setelah pembelajaran menggunakan media gambar: rata-rata nilai meningkat menjadi 82,6, dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60.
- Besarnya peningkatan rata-rata: 19,4 poin.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa capaian siswa secara rata-rata lebih tinggi setelah mengikuti pembelajaran dengan bantuan media gambar. Selain kenaikan rata-rata, nilai tertinggi juga meningkat dari 75 menjadi 100. Sementara itu, nilai terendah naik dari 45 menjadi 60.
Peneliti juga melaporkan hasil pengelompokan peningkatan belajar berdasarkan perhitungan N-Gain. Dari 25 siswa yang mengikuti penelitian, delapan siswa atau 32 persen masuk kategori peningkatan tinggi. Sebanyak 11 siswa atau 44 persen berada dalam kategori sedang, sedangkan enam siswa atau 24 persen termasuk kategori rendah.
Dengan demikian, sebanyak 19 dari 25 siswa atau 76 persen berada dalam kategori peningkatan sedang hingga tinggi. Meskipun hasil ini menunjukkan perkembangan yang positif pada sebagian besar peserta, masih terdapat enam siswa yang peningkatannya tergolong rendah. Hal tersebut menegaskan bahwa penggunaan media gambar tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan belajar setiap siswa.
Uji statistik berpasangan menghasilkan nilai t sebesar 7,032 dengan 24 derajat kebebasan dan nilai signifikansi yang dilaporkan sebesar 0,000. Dalam pelaporan statistik, angka tersebut berarti nilai p lebih kecil dari 0,001, bukan probabilitas yang benar-benar nol. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara nilai sebelum dan sesudah pembelajaran.
Mengapa Media Gambar Dapat Membantu Siswa?
Gambar menyediakan representasi visual yang dapat mendukung siswa ketika mempelajari materi baru. Saat guru menjelaskan suatu fenomena sekaligus menunjukkan gambar yang relevan, siswa memperoleh kesempatan untuk menghubungkan penjelasan verbal dengan informasi yang dapat diamati.
Dalam konteks IPAS, hubungan tersebut penting karena tidak semua objek dan proses dapat dihadirkan secara langsung di ruang kelas. Foto lingkungan, ilustrasi proses alam, atau diagram sederhana dapat membantu siswa membangun gambaran awal sebelum mendalami konsep yang lebih kompleks.
Media gambar juga dapat digunakan sebagai titik awal kegiatan belajar yang lebih aktif. Guru dapat meminta siswa mengidentifikasi objek, membandingkan dua gambar, menjelaskan perbedaan, memperkirakan penyebab suatu peristiwa, atau menyampaikan kesimpulan berdasarkan pengamatan. Dengan cara ini, gambar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap presentasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong siswa berpikir dan berdiskusi.
Temuan Sihombing, Togatorop, dan Saragih dari Universitas Quality Berastagi memperlihatkan bahwa penerapan media gambar di kelas yang mereka teliti diikuti peningkatan nilai yang signifikan. Hasil ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru untuk mengevaluasi penggunaan media pembelajaran, khususnya ketika siswa membutuhkan bantuan visual untuk memahami materi IPAS.
Implikasi bagi Guru dan Sekolah Dasar
Penggunaan media gambar memiliki kelebihan praktis karena guru dapat memanfaatkan sumber visual yang relatif mudah diperoleh, seperti buku pelajaran, foto lingkungan sekitar, ilustrasi buatan sendiri, atau bahan visual digital. Pemilihan gambar tidak harus bergantung pada teknologi yang mahal, tetapi perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan materi dan tingkat pemahaman siswa.
Agar lebih efektif, guru sebaiknya memilih gambar yang jelas, akurat, mudah diamati, dan berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran. Gambar yang terlalu rumit atau tidak relevan justru dapat mengalihkan perhatian siswa dari konsep utama.
Guru juga dapat mengombinasikan media gambar dengan pertanyaan pemantik, diskusi kelompok, demonstrasi, dan latihan soal. Setelah siswa mengamati gambar, mereka dapat diminta menjelaskan apa yang dilihat, menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari, serta menyampaikan alasan atas jawaban mereka. Pendekatan tersebut membuka kesempatan bagi siswa untuk tidak sekadar menghafal informasi, tetapi juga mengembangkan pemahaman.
Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menyediakan bahan ajar visual dan mendorong guru untuk menggunakan media pembelajaran yang bervariasi. Sementara itu, penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar, beberapa sekolah, dan kelompok pembanding diperlukan untuk mengetahui seberapa konsisten manfaat media gambar pada konteks pembelajaran yang berbeda.
Secara keseluruhan, penelitian di SD Negeri 046413 Barung Kersap menunjukkan bahwa media gambar merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan untuk mendukung pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Kenaikan rata-rata nilai sebesar 19,4 poin menjadi temuan penting, sekaligus pengingat bahwa media pembelajaran perlu dipilih secara tepat dan dipadukan dengan kegiatan belajar yang mendorong keterlibatan siswa.
Profil Penulis
Royana Br Sihombing merupakan penulis utama artikel bersama Jainal Togatorop dan Rayani Saragih. Ketiganya berafiliasi dengan Universitas Quality Berastagi. Penelitian mereka membahas penggunaan media pembelajaran visual dan kaitannya dengan hasil belajar IPAS pada siswa sekolah dasar. Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dicantumkan dalam informasi artikel yang tersedia.
Sumber Penelitian
Sihombing, Royana Br, Jainal Togatorop, dan Rayani Saragih. (2026). “The Effect of Image Media on Students' Learning Outcomes in the IPAS Subject in Class V at SD Negeri 046413 Barung Kersap in the 2025/2026 Academic Year.” Asian Journal of Applied Education (AJAE).
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i4.16987
Jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae
Artikel diterbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0), yang memungkinkan penggunaan dan penyebaran sesuai ketentuan lisensi dengan atribusi yang tepat.

0 Komentar