Kimia organik tidak hanya menuntut mahasiswa menghafal nama senyawa, rumus, atau reaksi. Mereka juga perlu memahami hubungan antara struktur molekul, sifat zat, perubahan yang dapat diamati, serta penjelasan pada tingkat partikel. Bagi mahasiswa kriminologi, kemampuan tersebut berkaitan dengan cara memahami mengapa suatu barang bukti menunjukkan karakteristik tertentu dan bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium harus ditafsirkan berdasarkan bukti yang tersedia.
Tantangan Pembelajaran Kimia Organik dalam Sistem Hybrid
Model pembelajaran hybrid menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan kegiatan online. Format ini memungkinkan mahasiswa mengakses materi, video, latihan, dan diskusi secara fleksibel, sementara pertemuan langsung dapat digunakan untuk demonstrasi, pemecahan masalah, maupun kegiatan praktikum.
Namun, keberhasilan model tersebut sangat bergantung pada bagaimana kegiatan online dan tatap muka dihubungkan. Kendala koneksi internet, penggunaan perangkat seluler, keterbatasan bahan laboratorium, kurangnya aktivitas praktik langsung, interaksi yang terbatas, serta umpan balik yang terlambat dapat mengurangi kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan pemahaman secara utuh.
Masalah tersebut menjadi lebih penting dalam pendidikan kriminologi karena keterampilan proses sains diperlukan untuk melakukan pengamatan, pengukuran, perbandingan, dokumentasi, pengendalian kontaminasi, interpretasi hasil pengujian, dan penarikan kesimpulan berdasarkan bukti.
Peneliti juga mencatat masih terbatas penelitian yang secara khusus menggambarkan kemampuan mahasiswa kriminologi dalam pembelajaran kimia organik hybrid. Kondisi inilah yang menjadi dasar penyusunan rencana pembelajaran hybrid yang lebih sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Penelitian Melibatkan 84 Mahasiswa Kriminologi
Penelitian dilakukan di Universidad de Manila, Filipina, pada mahasiswa kriminologi yang mengikuti mata kuliah Organic Chemistry pada semester pertama Tahun Akademik 2026–2027. Sebanyak 84 mahasiswa dipilih menggunakan purposive sampling. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-korelasional.
Para peneliti menggunakan instrumen yang dikembangkan khusus untuk mengukur pemahaman kimia organik dan keterampilan proses sains mahasiswa kriminologi. Tes pemahaman kognitif terdiri atas 30 soal pilihan ganda yang mencakup struktur dan ikatan, tata nama dan gugus fungsi, isomerisme dan sifat fisik, reaksi organik, serta aplikasi forensik.
Sebanyak 30 soal lainnya digunakan untuk mengukur keterampilan proses sains, termasuk kemampuan mengamati, mengklasifikasikan, mengukur, memprediksi, membuat inferensi, merumuskan hipotesis, mengidentifikasi variabel, mengendalikan variabel, menafsirkan data, dan menarik kesimpulan. Peneliti juga mengukur tingkat kesulitan yang dialami mahasiswa selama mengikuti pembelajaran hybrid.
Pemahaman Kimia Organik Masih pada Level “Developing”
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pemahaman kognitif mahasiswa mencapai 20,89 dari 30 atau 69,64 persen. Berdasarkan skala yang digunakan peneliti, hasil tersebut masuk kategori Developing atau masih dalam tahap pengembangan. Sementara itu, keterampilan proses sains memperoleh rata-rata 22,05 dari 30 atau 73,49 persen, yang berada pada kategori Approaching Proficiency.
Perbedaan kemampuan terlihat pada distribusi tingkat penguasaan. Hanya 25 persen mahasiswa yang mencapai kategori Proficient atau Advanced dalam pemahaman kognitif. Pada keterampilan proses sains, proporsinya lebih tinggi, yaitu 44 persen yang berada pada kategori Proficient atau Advanced.
Pada aspek pemahaman kimia, soal dengan hasil terbaik berkaitan dengan penarikan inferensi berdasarkan perbedaan rentang titik didih, yang dijawab benar oleh 79,8 persen mahasiswa. Sebaliknya, pengenalan gugus fungsi asam karboksilat menjadi salah satu bagian yang paling sulit, dengan tingkat jawaban benar hanya 57,1 persen. Pemahaman tentang ikatan karbon dan representasi struktur juga termasuk materi dengan penguasaan relatif rendah.
Untuk keterampilan proses sains, kemampuan menarik kesimpulan berbasis bukti menjadi salah satu aspek terkuat dengan tingkat jawaban benar 82,1 persen. Kemampuan mengendalikan variabel mencapai 81 persen. Namun, mahasiswa lebih kesulitan memahami tujuan penggunaan blank control dan membuat definisi operasional, yang masing-masing berada pada 64,3 persen.
Praktikum Menjadi Tantangan Terbesar
Kesulitan pembelajaran hybrid secara keseluruhan berada pada kategori Moderate Extent, dengan skor rata-rata 2,72. Dari berbagai aspek yang diukur, laboratorium dan simulasi menjadi sumber kesulitan terbesar dengan skor rata-rata 2,94.
Kesulitan berikutnya berkaitan dengan integrasi dan penerapan materi dengan skor 2,72, akses dan teknologi 2,70, sumber daya dan interaksi 2,69, serta umpan balik dan asesmen 2,54.
Pada tingkat yang lebih spesifik, masalah paling banyak dilaporkan adalah keterbatasan akses terhadap bahan laboratorium dengan skor 3,01. Kesulitan berikutnya adalah terbatasnya aktivitas praktikum langsung dengan skor 2,96 dan kesulitan menghubungkan pembelajaran online dengan kegiatan di kelas atau laboratorium dengan skor 2,93.
Kondisi akses teknologi juga menjadi perhatian. Sebanyak 61,9 persen mahasiswa menggunakan smartphone sebagai perangkat utama untuk pembelajaran online. Hanya 13,1 persen yang menyatakan koneksi internet mereka selalu andal, sedangkan 51,2 persen melaporkan internet terkadang atau sering tidak stabil.
Pemahaman Kimia Berkaitan dengan Keterampilan Proses Sains
Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pemahaman kognitif dan keterampilan proses sains. Nilai korelasi Pearson mencapai r = 0,441 dengan p < 0,001. Artinya, mahasiswa dengan skor pemahaman kimia organik yang lebih tinggi cenderung memiliki skor keterampilan proses sains yang lebih tinggi pula.
Kedua ukuran tersebut memiliki sekitar 19,5 persen variasi yang sama berdasarkan nilai r². Namun, peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Faktor lain seperti pengetahuan sebelumnya, motivasi, desain pembelajaran, pengalaman laboratorium, dan akses terhadap sumber belajar dapat berperan dalam variasi kemampuan mahasiswa.
Rencana Pembelajaran Hybrid yang Lebih Kontekstual
Berdasarkan hasil tersebut, Antaran dan rekan-rekannya merekomendasikan pembelajaran yang menggabungkan penguatan konsep dasar, kegiatan penyelidikan, pengalaman laboratorium atau simulasi, serta kasus-kasus yang berhubungan langsung dengan kriminologi.
Materi remedial dapat difokuskan pada ikatan karbon, gugus fungsi, rumus struktur, isomerisme, dan hubungan struktur dengan sifat zat. Setiap materi online juga disarankan memiliki kegiatan lanjutan di kelas, laboratorium, atau simulasi sehingga mahasiswa tidak hanya menerima informasi, tetapi menggunakan konsep tersebut untuk menganalisis bukti.
Pembelajaran juga dapat menggunakan kasus forensik seperti preservasi barang bukti, pengujian presumtif dan konfirmatif, pelarut organik, zat beracun, sampel volatil, kemurnian zat, serta interpretasi hasil laboratorium yang saling bertentangan.
Karena sebagian mahasiswa mengandalkan smartphone dan menghadapi koneksi internet yang tidak selalu stabil, materi pembelajaran juga disarankan dibuat ramah perangkat seluler, berukuran ringan, dapat diunduh, dan dapat digunakan secara offline.
Temuan ini memberikan dasar bagi pengembangan pembelajaran kimia organik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa menghubungkan konsep kimia dengan proses pengumpulan dan interpretasi bukti. Bagi pendidikan kriminologi, pendekatan tersebut dapat membuat pembelajaran kimia lebih dekat dengan konteks profesi yang akan mereka hadapi.
Profil Penulis
Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis secara terpisah. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan di luar keterangan yang tersedia dalam artikel.
Sumber Penelitian
Antaran, Nadinne A., Felipe, Mariton A., Santos, R’mon Ian C., & Cruz-Ocampo, Maria Eliza P. (2026). Analysis of Cognitive Understanding and Science Process Skills of Criminology Students in an Organic Chemistry Hybrid Class: Basis for an Enhanced Hybrid Chemistry Instructional Plan. Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5, No. 9, 2026, hlm. 2587–2602. DOI: 10.55927/fjst.v5i9.165. URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar