Konsumsi Makanan dalam Dua Novel Mengungkap Perbedaan Kelas, Kekuasaan, dan Kebebasan

Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Iraq - Bagaimana makanan dan minuman dapat menunjukkan perbedaan kelas sosial sekaligus menggambarkan relasi kekuasaan? Pertanyaan tersebut dikaji Tara Khaled dari College of Education for Human Sciences, University of Babylon, Irak, melalui perbandingan dua karya sastra, The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald dan Al-Nabeeza karya Inaam Kachachi. Artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2026 ini menunjukkan bahwa kelimpahan makanan tidak selalu berarti kesejahteraan atau kebebasan. Makna sebuah hidangan juga ditentukan oleh siapa yang menyediakan, siapa yang menerima, siapa yang berhak menilai, dan apakah seseorang bebas menolak.

Khaled menggunakan makanan sebagai pintu masuk untuk melihat hubungan antara konsumsi, kelas sosial, tubuh, dan otoritas politik. Dalam kehidupan sosial, sebuah meja makan dapat mempertemukan banyak orang, tetapi posisi mereka belum tentu setara. Seseorang mungkin dapat memilih makanan dan minuman yang diinginkan, sementara orang lain menerimanya karena menolak dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak menyenangkan atau bahkan mengancam.

Karena itu, artikel ini tidak memandang kelimpahan dan kelangkaan hanya sebagai persoalan jumlah makanan. Kelimpahan dan kelangkaan dipahami secara relasional, yaitu berdasarkan siapa yang memiliki akses terhadap sesuatu, siapa yang tidak memilikinya, dan dalam kondisi sosial seperti apa makanan tersebut dikonsumsi.

Makanan sebagai Penanda Status Sosial

Dalam The Great Gatsby, Fitzgerald menggambarkan pesta-pesta mewah Gatsby sebagai ruang tempat kekayaan dipertontonkan. Persediaan makanan, minuman, pekerja rumah tangga, serta persiapan pesta menunjukkan kemampuan Gatsby membiayai acara berskala besar secara berulang.

Salah satu gambaran yang dianalisis Khaled adalah pasokan jeruk dan lemon yang datang setiap Jumat untuk kebutuhan pesta. Buah-buahan tersebut kemudian diproses menggunakan mesin pembuat jus. Gambaran ini memperlihatkan bukan hanya banyaknya makanan yang tersedia, tetapi juga tenaga kerja dan fasilitas yang diperlukan untuk menghasilkan pengalaman mewah bagi para tamu.

Menurut kerangka pemikiran Thorstein Veblen, konsumsi dapat berfungsi sebagai tanda status ketika pengeluaran menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dikenali oleh orang lain. Dalam konteks Gatsby, pesta menjadi sarana untuk menunjukkan kapasitas ekonomi pemiliknya.

Namun, Khaled menemukan adanya batas penting. Pengeluaran besar tidak otomatis menghasilkan pengakuan sosial. Gatsby dapat membeli makanan, minuman, dekorasi, dan pelayanan, tetapi tidak dapat dengan cara yang sama membeli penerimaan atau penghormatan dari orang lain. Pesta memang membuat Gatsby terlihat, tetapi belum tentu membuatnya diterima.

Harga Mahal Tidak Selalu Berarti Kualitas Lebih Baik

Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan antara harga, kualitas, dan status tidak selalu sederhana. Dalam adegan makan malam keluarga Buchanan, Nick menggambarkan anggur yang memiliki cacat rasa tetapi tetap mengesankan secara sosial.

Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa sebuah produk dapat memiliki nilai simbolik yang berbeda dari kualitas materialnya. Minuman tidak hanya dinilai berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan reputasi, suasana, dan posisi sosial yang menyertainya.

Khaled menghubungkan persoalan tersebut dengan gagasan Pierre Bourdieu tentang selera. Penilaian terhadap sesuatu sebagai mewah, vulgar, berkelas, atau tidak pantas bukan sekadar persoalan selera pribadi. Penilaian tersebut dapat menjadi cara untuk membedakan kelompok sosial.

Ketika Makanan Tidak Lagi Menunjukkan Kebebasan

Perbandingan dengan Al-Nabeeza membawa pembahasan ke persoalan yang berbeda. Jika pesta Gatsby memperlihatkan bagaimana konsumsi digunakan untuk membangun citra dan status, adegan makanan dan minuman dalam karya Kachachi menunjukkan situasi ketika penyediaan makanan dapat berlangsung bersamaan dengan tekanan dan ketakutan.

Khaled menggunakan istilah coercive consumption atau konsumsi koersif untuk menggambarkan situasi ketika seseorang makan atau minum dalam kondisi terdapat ancaman yang membuat penolakan tidak aman. Istilah tersebut digunakan secara terbatas dan tidak disamakan dengan sekadar ketidaknyamanan, kemiskinan, atau makanan yang tidak disukai.

Dengan pendekatan ini, seseorang yang menerima makanan tidak otomatis dianggap menyetujui orang yang memberikannya. Kepatuhan secara lahiriah dapat terjadi karena seseorang sedang menghitung risiko, berusaha menghindari konflik, atau tidak memiliki kebebasan untuk menolak.

Perspektif tersebut membuat makanan menjadi lebih dari sekadar benda yang dikonsumsi. Makanan dapat menjadi bagian dari hubungan sosial yang menentukan siapa yang memiliki pilihan dan siapa yang harus mengikuti keadaan.

Penelitian Menggunakan Analisis Adegan

Khaled menggunakan metode kualitatif berupa close reading atau pembacaan mendalam terhadap adegan-adegan yang berkaitan dengan makanan dan minuman dalam kedua novel. Unit analisisnya adalah adegan, bukan sekadar kata seperti “champagne” atau “bread”.

Setiap adegan dibaca berdasarkan empat pertanyaan utama: siapa yang mendapatkan makanan, siapa yang memiliki kewenangan untuk menilai makanan tersebut, apakah seseorang bebas memilih atau menolak, serta dari sudut pandang siapa peristiwa tersebut diceritakan.

Pendekatan ini juga memperhatikan keterbatasan sudut pandang narator. Dalam The Great Gatsby, misalnya, sebagian besar informasi tentang pesta dan kehidupan kelompok kaya disampaikan melalui Nick Carraway. Karena itu, gambaran mengenai konsumsi tidak diperlakukan sebagai gambaran lengkap mengenai kondisi seluruh masyarakat Amerika dalam novel tersebut.

Hal serupa diterapkan pada Al-Nabeeza. Perbedaan antara pengalaman langsung, ingatan, dan cara sebuah peristiwa diceritakan menjadi bagian penting dalam memahami makna makanan dan hubungan kekuasaan.

Kelimpahan Tidak Sama dengan Keuntungan

Salah satu kesimpulan utama Khaled adalah bahwa tersedianya makanan belum cukup untuk menentukan seberapa besar keuntungan atau kebebasan yang dimiliki seseorang.

Dalam The Great Gatsby, sumber daya Gatsby mampu menciptakan pesta dan menarik banyak orang, tetapi tidak menjamin penerimaan sosial, kedekatan emosional, atau perlindungan. Sebaliknya, keluarga Buchanan dapat menikmati ruang domestik yang lebih terlindungi tanpa harus mempertahankan kemewahan pesta sebagai simbol status.

Sementara itu, adegan dalam Al-Nabeeza menunjukkan bahwa makanan yang berlimpah dapat hadir dalam situasi ketika kebebasan penerima justru terbatas. Pada saat yang sama, pengalaman Taji terhadap jamuan dan kemudian kritiknya mengenai kelangkaan roti menunjukkan bahwa patronase dan pemberian makanan tidak dapat digunakan sebagai penjelasan tunggal mengenai hubungan sosial.

Dengan demikian, sebuah hidangan harus dilihat bersama kondisi sosial di sekitarnya. Pertanyaan penting bukan hanya “berapa banyak makanan yang tersedia?”, tetapi juga “siapa yang dapat mengaksesnya?”, “siapa yang dapat menilainya?”, dan “apa konsekuensinya jika seseorang menolak?”

Implikasi bagi Kajian Makanan dan Sastra

Temuan Khaled memperluas cara melihat makanan dalam karya sastra. Makanan tidak hanya berfungsi sebagai latar, simbol budaya, atau gambaran kehidupan sehari-hari. Makanan juga dapat memperlihatkan distribusi kekuasaan, status sosial, pengakuan, dan agensi seseorang.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa konsumsi tidak selalu identik dengan persetujuan. Seseorang dapat mengonsumsi sesuatu tanpa menyukai pemberinya, tanpa mengakui status sosialnya, atau tanpa memiliki kebebasan untuk menolak.

Bagi kajian sosial dan budaya, pendekatan tersebut membantu menjelaskan mengapa kelimpahan material tidak selalu menghasilkan kebebasan yang sama. Akses terhadap sumber daya dan kemampuan menentukan bagaimana sumber daya tersebut digunakan merupakan dua hal yang berbeda.

Khaled juga menekankan bahwa kesimpulan artikel terbatas pada hubungan yang direpresentasikan dalam dua karya sastra tersebut. Temuan ini tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa pola konsumsi tertentu berlaku bagi seluruh masyarakat Irak atau Amerika. Untuk membuat kesimpulan tentang perilaku konsumsi nyata, diperlukan bukti empiris dan rancangan penelitian yang berbeda.

Profil Penulis

Tara Khaled merupakan penulis artikel dan berasal dari College of Education for Human Sciences, University of Babylon, Irak. Bidang kajian dalam artikel ini berada pada persinggungan antara sastra, kajian makanan (food studies), konsumsi, kelas sosial, dan relasi kekuasaan. Informasi gelar akademik penulis tidak tercantum dalam naskah yang tersedia, sehingga tidak dapat ditambahkan tanpa sumber lain.

Sumber Penelitian

Judul: The Economics of Abundance and Scarcity: Food Consumption and Class Distinction in Selected Iraqi and American Narratives
Penulis: Tara Khaled
Afiliasi: College of Education for Human Sciences, University of Babylon, Iraq
Tahun: 2026
Status: Open-access

Posting Komentar

0 Komentar