Kepercayaan Diri Mahasiswa Keperawatan Jadi Prediktor Utama Prestasi Belajar Kimia

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Philippines - Mahasiswa keperawatan di Bulacan State University San Rafael Campus, Filipina, menunjukkan bahwa kepercayaan diri terhadap kemampuan memahami kimia menjadi faktor yang paling konsisten berkaitan dengan prestasi belajar kimia. Temuan tersebut dilaporkan R’mon Ian C. Santos dari Schools Division Office of Pampanga dan Maria Eliza P. Cruz-Ocampo dari College of Education, San Beda University, Manila, dalam artikel yang terbit pada 2026. Hasil ini penting karena kimia menjadi salah satu dasar pengetahuan bagi mahasiswa keperawatan untuk memahami obat-obatan, nutrisi, elektrolit, serta berbagai proses kesehatan.

Artikel berjudul “Chemistry Self-Efficacy, Anxiety, and Learning Motivation as Predictors of Chemistry Achievement among Nursing Student in One University in Bulacan” tersebut diterbitkan dalam Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 9, 2026, halaman 2401–2416. Penelitian dilakukan pada mahasiswa keperawatan tahun pertama di Bulacan State University San Rafael Campus pada tahun akademik 2026–2027.

Kimia Penting, tetapi Tidak Selalu Mudah bagi Mahasiswa Keperawatan

Kimia memiliki peran penting dalam pendidikan keperawatan karena konsepnya berkaitan dengan sejumlah bidang yang nantinya ditemui mahasiswa dalam pendidikan dan praktik profesi. Pemahaman kimia dapat membantu mahasiswa memahami materi seperti farmakologi, nutrisi, proses tubuh, dan elektrolit.

Namun, kimia juga termasuk mata pelajaran yang menantang. Mahasiswa tidak hanya perlu menghafal konsep, tetapi juga memahami hubungan antarprinsip, menyelesaikan persoalan numerik, menggunakan rumus, membaca simbol kimia, serta menerapkan pengetahuan secara tepat.

Santos dan Cruz-Ocampo melihat bahwa keberhasilan belajar kimia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif. Faktor psikologis dan sikap belajar juga dapat berperan. Tiga faktor yang menjadi perhatian mereka adalah chemistry self-efficacy, kecemasan terhadap kimia, dan motivasi belajar.

Self-efficacy dalam konteks ini berarti keyakinan mahasiswa bahwa mereka mampu memahami dan menyelesaikan tugas-tugas kimia. Sementara itu, kecemasan menggambarkan rasa takut atau tidak nyaman ketika menghadapi materi dan tugas kimia. Motivasi menunjukkan dorongan mahasiswa untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

Melibatkan Mahasiswa Keperawatan Tahun Pertama

Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif. Lokasi penelitian adalah Bulacan State University San Rafael Campus di Maguinao, San Rafael, Bulacan, Filipina.

Bagian metodologi artikel menyebutkan populasi penelitian sebanyak 135 mahasiswa dan sampel sebanyak 102 mahasiswa. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan stratified sampling sehingga tiga kelas yang menjadi sasaran penelitian tetap terwakili. Setiap kelas disebut melibatkan 34 mahasiswa.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan tes kimia. Kuesioner mengukur self-efficacy, kecemasan, dan motivasi belajar, sedangkan prestasi kimia diperoleh melalui skor tes. Instrumen menggunakan skala Likert untuk mengukur tingkat faktor-faktor tersebut.

Peneliti kemudian menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi untuk menggambarkan kondisi mahasiswa serta analisis regresi berganda untuk melihat faktor yang dapat memprediksi prestasi kimia.

Catatan penting: bagian hasil jurnal kemudian menggunakan data dengan total 127 mahasiswa pada distribusi nilai dan analisis mediasi. Artikel tidak menjelaskan perbedaan angka tersebut secara eksplisit. Karena itu, jumlah responden sebaiknya dibaca dengan hati-hati ketika menginterpretasikan hasil penelitian.

Kepercayaan Diri terhadap Kimia Masih Rendah

Salah satu temuan paling menonjol adalah tingkat self-efficacy mahasiswa yang masih tergolong sedikit atau rendah, dengan nilai rata-rata 2,46.

Mahasiswa relatif lebih percaya diri ketika menggunakan tabel periodik untuk mengenali atau menjelaskan sifat unsur. Indikator tersebut memperoleh nilai rata-rata 2,91. Mahasiswa juga cukup percaya diri ketika menerapkan pengetahuan kimia pada situasi keperawatan dan melakukan kegiatan laboratorium.

Sebaliknya, tingkat kepercayaan diri paling rendah terlihat pada kemampuan menjelaskan hukum dan teori kimia, dengan nilai rata-rata 2,13. Temuan ini menunjukkan adanya kesulitan ketika mahasiswa berhadapan dengan konsep kimia yang lebih abstrak.

Dengan kata lain, mahasiswa tampak lebih nyaman ketika kimia disajikan dalam bentuk yang konkret atau memiliki prosedur yang jelas dibandingkan ketika mereka harus menjelaskan konsep dan teori secara mendalam.

Kecemasan Kimia Berada pada Tingkat Sedang

Selain kepercayaan diri yang relatif rendah, mahasiswa juga menunjukkan tingkat kecemasan terhadap kimia dalam kategori sedang, dengan nilai rata-rata 2,99.

Situasi yang paling banyak menimbulkan rasa tidak nyaman adalah ketika mahasiswa belum memahami suatu topik kimia dengan segera. Indikator tersebut memperoleh nilai 3,20.

Kecemasan juga muncul ketika mahasiswa menunggu hasil ujian, menghadapi banyak topik sekaligus, atau merasa khawatir gagal dalam mata pelajaran kimia. Sementara itu, kecemasan paling rendah ditemukan ketika mahasiswa melakukan kegiatan laboratorium, meskipun tetap berada dalam kategori sedang.

Menurut pembahasan Santos dan Cruz-Ocampo, kegiatan laboratorium yang memiliki prosedur lebih terstruktur dapat membuat tugas terasa lebih mudah diprediksi dibandingkan materi konseptual yang abstrak.

Motivasi Belajar Justru Tinggi

Berbeda dengan self-efficacy, motivasi mahasiswa untuk belajar kimia tergolong tinggi, dengan nilai rata-rata 3,34.

Dorongan terbesar terlihat dari keinginan mahasiswa memperoleh pengetahuan baru. Indikator tersebut memperoleh nilai 3,69. Mahasiswa juga menganggap penting mempelajari kimia untuk menjadi perawat yang baik dan meyakini pengetahuan kimia akan berguna dalam praktik keperawatan di masa depan.

Namun, motivasi yang tinggi belum sepenuhnya diikuti dengan alokasi waktu belajar. Waktu yang digunakan untuk mempelajari kimia di luar kelas memperoleh nilai 2,72, masuk kategori sedang.

Temuan ini memperlihatkan adanya jarak antara keinginan untuk belajar dan kesempatan untuk menyediakan waktu belajar.

Prestasi Kimia Relatif Memuaskan

Nilai rata-rata prestasi kimia yang dilaporkan dalam penelitian adalah 78,06, dengan standar deviasi 12,55. Peneliti mengategorikannya sebagai kinerja yang relatif memuaskan.

Distribusi nilai menunjukkan variasi kemampuan yang cukup besar. Dalam tabel hasil, kelompok nilai 78–88 menjadi kelompok terbesar, sedangkan sebagian mahasiswa memperoleh nilai 45–55.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam kimia tidak seragam. Sebagian mahasiswa mampu mencapai hasil lebih tinggi, sementara sebagian lainnya masih menghadapi kesulitan dalam memahami konsep dasar, menyelesaikan persoalan numerik, memilih rumus, dan memahami teori.

Self-Efficacy Menjadi Prediktor yang Signifikan

Analisis regresi menjadi temuan utama penelitian. Ketika self-efficacy, kecemasan, dan motivasi dianalisis secara bersama-sama, ketiga variabel tersebut secara keseluruhan berhubungan dengan variasi prestasi kimia.

Namun, ketika setiap faktor dianalisis secara individual, hanya self-efficacy yang menjadi prediktor signifikan terhadap prestasi kimia.

Self-efficacy memiliki koefisien regresi 0,298 dengan nilai p=0,002. Sebaliknya, kecemasan kimia memiliki p=0,983 dan motivasi belajar memiliki p=0,862 sehingga keduanya tidak menjadi prediktor signifikan dalam model tersebut.

Model penelitian memiliki nilai R² sebesar 0,093. Artinya, ketiga faktor yang diuji secara bersama-sama menjelaskan sekitar 9,3 persen variasi prestasi kimia. Sebanyak 90,7 persen variasi lainnya masih berkaitan dengan faktor-faktor lain yang tidak dianalisis dalam model, seperti pengetahuan dasar kimia, metode belajar, teknik pengajaran, kehadiran, kegiatan praktikum, dan kemampuan individual.

Analisis tambahan juga menunjukkan bahwa motivasi belajar tidak secara signifikan menjadi mediator hubungan antara self-efficacy dan prestasi kimia. Self-efficacy tetap memiliki hubungan signifikan dengan prestasi ketika motivasi dimasukkan ke dalam model.

Implikasi untuk Pendidikan Keperawatan

Temuan Santos dan Cruz-Ocampo menunjukkan bahwa meningkatkan kemampuan akademik mahasiswa keperawatan dalam kimia tidak cukup hanya dengan memberikan lebih banyak materi.

Program pembelajaran juga dapat diarahkan untuk memperkuat keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka sendiri. Pendekatan pembelajaran yang memberikan pengalaman keberhasilan, latihan bertahap, penerapan konsep dalam situasi keperawatan, serta dukungan ketika mahasiswa menghadapi materi sulit berpotensi membantu membangun self-efficacy.

Peneliti juga merekomendasikan program untuk meningkatkan self-efficacy dan motivasi sekaligus mengurangi kecemasan terhadap kimia. Penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas disarankan untuk menguji apakah temuan tersebut dapat digeneralisasikan pada kelompok mahasiswa keperawatan yang lebih besar.

Temuan ini juga memberikan gambaran bahwa mahasiswa dapat memiliki motivasi tinggi tetapi tetap kurang percaya diri. Karena itu, lingkungan pembelajaran yang membantu mahasiswa merasakan keberhasilan dalam menyelesaikan persoalan kimia dapat menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan keperawatan.

Profil Penulis

R’mon Ian C. Santos
Afiliasi: Schools Division Office of Pampanga, Filipina.
Bidang khusus atau gelar akademik tidak dicantumkan secara eksplisit dalam artikel.

Maria Eliza P. Cruz-Ocampo
Afiliasi: College of Education, San Beda University, Manila, Filipina.
Bidang khusus atau gelar akademik tidak dicantumkan secara eksplisit dalam artikel.

Sumber Penelitian

Judul: Chemistry Self-Efficacy, Anxiety, and Learning Motivation as Predictors of Chemistry Achievement among Nursing Student in One University in Bulacan

Penulis: R’mon Ian C. Santos dan Maria Eliza P. Cruz-Ocampo

Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)

Volume/Edisi: Vol. 5, No. 9

Tahun: 2026

Halaman: 2401–2416

DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i9.153

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar