Artikel yang diterbitkan dalam Asian Journal of Applied Education tersebut mengkaji proses pembelajaran seni tari di SD Santo Yoseph Medan selama tahun pembelajaran 2025/2026. Para peneliti menelaah perencanaan latihan, pelaksanaan kegiatan, evaluasi kemampuan siswa, dinamika kelompok, serta berbagai faktor yang mendukung dan menghambat kegiatan ekstrakurikuler.
Seni Tari Menjadi Ruang Belajar di Luar Kelas
Pendidikan di sekolah dasar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan sosial, kemampuan mengekspresikan diri, dan kebiasaan positif yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Seni tari memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran yang hanya mengandalkan penjelasan guru. Siswa harus mengamati gerakan, menirukan contoh, berlatih berulang kali, menyesuaikan gerakan dengan irama musik, serta memperhatikan posisi dan gerakan teman.
Dalam latihan kelompok, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan setiap siswa. Mereka juga perlu menjaga kekompakan, mengikuti arahan, menghargai anggota kelompok lain, dan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing.
Di SD Santo Yoseph Medan, kegiatan ekstrakurikuler seni tari menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan minat dan bakat siswa. Namun, pelaksanaannya menghadapi tantangan, seperti perbedaan kemampuan dalam memahami gerakan, konsentrasi yang belum stabil, keterbatasan waktu latihan, dan rasa malu ketika harus tampil di depan orang lain.
Kondisi tersebut membuat peran guru menjadi penting. Pembina perlu menyesuaikan metode latihan dengan kebutuhan siswa agar setiap peserta memperoleh kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Peneliti Mengamati Proses Latihan secara Langsung
Frisa Meilani Simarmata, Anton Sitepu, Irmina Pinem, Ester Julinda Simarmata, dan Eka Margareta Sinaga menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami pelaksanaan ekstrakurikuler seni tari di sekolah tersebut.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kegiatan pengamatan berlangsung pada 9, 16, 23, dan 30 Mei serta 2, 4, 6, 13, dan 20 Juni 2026. Para peneliti mengamati proses latihan, interaksi antara guru dan siswa, penguasaan gerakan, kedisiplinan, penggunaan musik, serta kondisi yang memengaruhi kegiatan.
Informasi dari pengamatan kemudian dibandingkan dengan hasil wawancara dan dokumen pendukung. Cara ini membantu peneliti memeriksa kesesuaian informasi dari berbagai sumber sebelum menarik kesimpulan.
Selain mengkaji tahapan pembelajaran, tim peneliti menggunakan perspektif SYMLOG (System for the Multiple Level Observation of Groups) untuk memahami dinamika interaksi kelompok. Kerangka ini digunakan untuk membaca struktur peran, kualitas hubungan antaranggota, serta keseimbangan antara penyelesaian tugas dan kesempatan siswa mengekspresikan diri.
Tiga Tahap Pembelajaran Seni Tari
Hasil kajian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler seni tari berlangsung melalui tiga tahap yang saling berkaitan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pada tahap perencanaan, guru menentukan tujuan kegiatan, materi gerakan, metode latihan, media pendukung, dan jadwal pelaksanaan. Dukungan sekolah serta wali kelas turut membantu penyelenggaraan kegiatan.
Pada tahap pelaksanaan, guru memberikan contoh gerakan untuk diamati dan ditirukan siswa. Latihan dilakukan secara berulang dengan bantuan musik dan video. Jika siswa mengalami kesulitan, guru dapat memberikan contoh tambahan, memperlambat tempo musik, atau mendampingi siswa secara individual.
Sementara itu, evaluasi tidak hanya memperhatikan kemampuan siswa dalam menguasai gerakan. Guru juga mengamati ketepatan mengikuti irama, kekompakan kelompok, kedisiplinan, kerja sama, dan keberanian tampil.
Pola pembelajaran tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan tari membutuhkan perpaduan antara keterampilan praktik, bimbingan guru, dan penyesuaian terhadap kemampuan peserta didik.
Lima Temuan Penting tentang Perkembangan Siswa
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis, para peneliti mengidentifikasi sejumlah perkembangan perilaku yang terlihat selama kegiatan ekstrakurikuler seni tari.
1. Kedisiplinan melalui kebiasaan latihan
Siswa diarahkan untuk datang tepat waktu, mempersiapkan diri, mengenakan pakaian yang sesuai, dan mengikuti aturan latihan. Guru memberikan arahan ketika siswa terlambat atau kurang memperhatikan kegiatan. Kebiasaan tersebut membantu siswa memahami pentingnya ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap aturan.
2. Tanggung jawab terhadap kelompok
Setiap siswa perlu menguasai gerakan yang telah dipelajari agar dapat mengikuti latihan berikutnya. Ketika seorang anggota belum memahami gerakan, kekompakan kelompok dapat terganggu. Situasi ini memberi pengalaman kepada siswa bahwa persiapan dan tanggung jawab individu turut memengaruhi keberhasilan bersama.
3. Kerja sama dan solidaritas
Para peneliti menemukan perilaku saling membantu ketika siswa mengalami kesulitan mengingat gerakan. Siswa yang lebih cepat memahami materi dapat membantu temannya agar mampu mengikuti latihan. Interaksi tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan seni dapat menyediakan kesempatan untuk membangun kepedulian dan kerja sama.
4. Kepercayaan diri untuk tampil
Sebagian siswa awalnya merasa malu atau ragu ketika melakukan gerakan di depan orang lain. Melalui latihan berulang dan kesempatan tampil, mereka secara bertahap memperoleh pengalaman untuk menunjukkan kemampuan dan mengekspresikan diri dengan lebih berani.
5. Hubungan kelompok yang relatif positif
Analisis menggunakan perspektif SYMLOG menunjukkan struktur peran yang relatif jelas, dengan guru sebagai pengarah utama dan siswa sebagai peserta aktif dalam latihan. Hubungan interpersonal selama kegiatan cenderung suportif, terlihat dari pemberian motivasi oleh guru dan bantuan antarsiswa. Pada saat yang sama, latihan tetap berorientasi pada penguasaan gerakan dan kekompakan tanpa menghilangkan ruang bagi ekspresi diri.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses belajar seni tari mencakup lebih dari sekadar kemampuan melakukan gerakan. Kegiatan ini juga menghadirkan situasi yang memungkinkan siswa mempraktikkan sikap sosial melalui interaksi sehari-hari.
Waktu dan Fasilitas Masih Menjadi Tantangan
Meskipun memiliki manfaat pendidikan, pelaksanaan ekstrakurikuler seni tari masih menghadapi sejumlah hambatan. Penelitian mengidentifikasi perbedaan kemampuan siswa, kurangnya konsentrasi, kedisiplinan yang belum konsisten, rasa malu, keterbatasan waktu latihan, kondisi fisik setelah mengikuti pembelajaran sekolah, serta fasilitas yang belum optimal.
Dukungan orang tua juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberlangsungan kegiatan. Karena itu, tanggung jawab untuk menjaga kualitas ekstrakurikuler tidak hanya berada pada guru pembina, tetapi juga memerlukan keterlibatan sekolah dan keluarga.
Guru merespons berbagai hambatan dengan memberikan latihan berulang, menyesuaikan tempo musik, mendampingi siswa yang mengalami kesulitan, dan memberikan motivasi kepada mereka yang belum percaya diri. Komunikasi dengan orang tua juga dilakukan untuk mendorong keterlibatan siswa secara lebih konsisten.
Para peneliti merekomendasikan agar sekolah memperkuat dukungan melalui penyediaan ruang dan perlengkapan latihan, pengaturan waktu yang memadai, serta evaluasi kegiatan secara berkala. Guru juga perlu menyusun materi secara bertahap dan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan siswa yang beragam.
Implikasi bagi Pendidikan Sekolah Dasar
Temuan dari SD Santo Yoseph Medan memberikan gambaran bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi bagian dari lingkungan pendidikan karakter. Nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kepercayaan diri tidak hanya diperkenalkan melalui nasihat, tetapi dapat dilatih melalui aktivitas yang menuntut konsistensi, interaksi, dan tanggung jawab nyata.
Bagi sekolah dasar, hasil kajian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merancang kegiatan ekstrakurikuler yang tidak hanya mengejar hasil penampilan. Proses latihan, perkembangan setiap siswa, kualitas hubungan kelompok, dan kesempatan untuk berpartisipasi juga perlu diperhatikan.
Bagi guru dan pembina, pendekatan yang adaptif dapat membantu siswa dengan kemampuan berbeda agar tetap terlibat. Sementara itu, orang tua dapat mendukung perkembangan anak melalui motivasi, pengaturan waktu, dan komunikasi dengan pihak sekolah.
Meski demikian, hasil penelitian ini berasal dari studi kasus pada satu sekolah. Temuannya memberikan gambaran mendalam mengenai proses pembelajaran seni tari di SD Santo Yoseph Medan, tetapi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa dampak yang sama pasti terjadi di seluruh sekolah dasar.
Profil Penulis
Frisa Meilani Simarmata, Anton Sitepu, Irmina Pinem, Ester Julinda Simarmata, dan Eka Margareta Sinaga merupakan penulis artikel yang berafiliasi dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Katolik St. Thomas, Medan, Indonesia.
Artikel mencantumkan Frisa Meilani Simarmata sebagai penulis korespondensi. Informasi gelar akademik dan bidang keahlian spesifik masing-masing penulis tidak dirinci dalam naskah yang tersedia. Kajian mereka dalam artikel ini berfokus pada proses pembelajaran seni tari dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah dasar, termasuk pengelolaan pembelajaran, dinamika kelompok, dan perkembangan karakter siswa.
Sumber Penelitian
Judul artikel: An Analysis of the Dance Learning Process in Extracurricular Activities at Santo Yoseph Elementary School Medan in the 2025/2026 Academic Year
Penulis: Frisa Meilani Simarmata, Anton Sitepu, Irmina Pinem, Ester Julinda Simarmata, dan Eka Margareta Sinaga.
Jurnal: Asian Journal of Applied Education (AJAE), Volume 5, Nomor 4, 2026, halaman 653–672.
DOI: https://doi.org/10.55927/ajae.v5i4.16951
Tautan jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ajae

0 Komentar