Temuan tersebut penting di tengah pertumbuhan perdagangan elektronik, pemasaran melalui media sosial, layanan digital, dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kegiatan bisnis. Generasi Z relatif akrab dengan teknologi, tetapi kemampuan menggunakan aplikasi dan platform digital tidak otomatis membuat mereka percaya diri untuk membangun usaha sendiri. Mahasiswa tetap membutuhkan pengetahuan bisnis, pengalaman praktik, pendampingan, serta lingkungan yang mendukung pengembangan ide menjadi produk atau layanan bernilai ekonomi.
Dukungan Kampus Menjadi Penghubung Penting
Penelitian ini menyoroti empat unsur utama dalam pembentukan kepercayaan diri berwirausaha digital. Pertama, ekosistem kewirausahaan kampus, yaitu lingkungan yang mencakup pendidikan kewirausahaan, fasilitas teknologi, program inkubasi bisnis, mentor, jaringan profesional, dan hubungan dengan dunia usaha.
Kedua, persepsi mahasiswa terhadap dukungan institusi. Aspek ini berkaitan dengan sejauh mana mahasiswa merasa kampus menyediakan bantuan, fasilitas, kesempatan belajar, dan dorongan yang relevan untuk menjalankan bisnis digital.
Ketiga, kompetensi kewirausahaan digital, yakni kemampuan menggunakan teknologi untuk menemukan peluang pasar, melakukan pemasaran digital, mengelola bisnis, mengembangkan ide, dan menciptakan nilai bagi pelanggan.
Keempat, kepercayaan diri berwirausaha digital atau digital entrepreneurial self-efficacy. Konsep ini menggambarkan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melaksanakan berbagai tugas yang dibutuhkan untuk membangun dan mengelola usaha berbasis teknologi.
Dengan menggabungkan empat unsur tersebut, tim peneliti berupaya menjelaskan bagaimana sumber daya yang tersedia di kampus dapat berubah menjadi kemampuan nyata dan keyakinan mahasiswa untuk menjalankan bisnis digital.
Melibatkan 482 Mahasiswa dari Berbagai Wilayah Indonesia
Tim peneliti mengumpulkan data dari 482 mahasiswa Generasi Z di perguruan tinggi Indonesia. Responden berasal dari enam wilayah kepulauan, yaitu Jawa, Sulawesi, Bali, Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring dengan metode pemilihan responden berdasarkan kriteria tertentu, termasuk status sebagai mahasiswa aktif dan paparan terhadap pembelajaran kewirausahaan, bisnis digital, atau teknologi digital.
Data kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Secara sederhana, metode ini digunakan untuk menguji hubungan antarvariabel sekaligus menilai apakah dukungan kampus dan kompetensi digital menjadi penghubung antara ekosistem kewirausahaan dengan kepercayaan diri mahasiswa.
Penelitian menggunakan data yang dikumpulkan pada satu periode pengamatan. Karena itu, hasilnya menunjukkan hubungan statistik antarvariabel, bukan bukti bahwa perubahan pada satu faktor pasti menyebabkan perubahan pada faktor lainnya dalam jangka panjang.
Dukungan Institusi dan Kompetensi Memiliki Peran Berbeda
Hasil analisis menunjukkan bahwa ekosistem kewirausahaan kampus memiliki hubungan positif dan signifikan dengan persepsi mahasiswa terhadap dukungan institusi, kompetensi kewirausahaan digital, serta kepercayaan diri berwirausaha digital.
Dukungan institusi juga berhubungan positif dan signifikan dengan kompetensi digital dan kepercayaan diri mahasiswa. Sementara itu, kompetensi kewirausahaan digital memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kepercayaan diri dalam menjalankan usaha berbasis teknologi.
Salah satu temuan penting terlihat pada jalur hubungan antara dukungan institusi dan kompetensi. Nilai ukuran efek atau f-square untuk hubungan dukungan institusi terhadap kompetensi mencapai 0,927, yang dikategorikan sebagai efek besar dalam model penelitian. Sementara itu, ukuran efek langsung dukungan institusi terhadap kepercayaan diri hanya 0,013, yang tergolong sangat kecil.
Perbedaan tersebut memberikan petunjuk bahwa menyediakan dukungan saja belum tentu cukup untuk membangun keyakinan mahasiswa. Dukungan kampus perlu disertai kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, menguji ide bisnis, memanfaatkan teknologi, dan menghadapi persoalan nyata dalam pengelolaan usaha.
Model penelitian juga menjelaskan 68,2 persen variasi kompetensi kewirausahaan digital di antara responden. Adapun variasi kepercayaan diri berwirausaha digital yang dapat dijelaskan oleh model mencapai 44,6 persen. Angka ini menunjukkan kemampuan model dalam menjelaskan pola data yang diamati, bukan persentase keberhasilan bisnis mahasiswa.
Jalur dari Ekosistem Kampus menuju Kepercayaan Diri
Analisis mediasi memperkuat gambaran mengenai hubungan antarunsur tersebut. Dukungan institusi berperan sebagai penghubung antara ekosistem kewirausahaan kampus dan kompetensi digital. Kompetensi digital juga menjadi penghubung antara dukungan institusi dan kepercayaan diri berwirausaha.
Peneliti turut menemukan dukungan statistik untuk jalur mediasi berurutan: ekosistem kewirausahaan kampus berkaitan dengan persepsi dukungan institusi, kemudian dengan kompetensi digital, dan akhirnya dengan kepercayaan diri mahasiswa.
Rangkaian ini menjelaskan mengapa fasilitas, program, dan jaringan kewirausahaan kampus perlu dirancang sebagai satu kesatuan. Program yang tersedia akan lebih relevan ketika mahasiswa mengetahui cara mengaksesnya, memperoleh pendampingan yang sesuai, dan mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan kemampuan bisnis.
Temuan tersebut sejalan dengan kerangka teori yang digunakan peneliti. Resource-Based View menjelaskan pentingnya sumber daya institusi, sedangkan Social Cognitive Theory membantu menerangkan hubungan antara lingkungan belajar, pengembangan kemampuan, pengalaman, dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri.
Meski demikian, hasil penelitian tidak berarti bahwa kepercayaan diri saja cukup untuk menjamin keberhasilan usaha. Kinerja bisnis juga dapat dipengaruhi kondisi pasar, modal, jaringan pelanggan, persaingan, dan faktor lain yang tidak seluruhnya diuji dalam model ini.
Implikasi bagi Perguruan Tinggi dan Calon Wirausaha
Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya menghubungkan pendidikan kewirausahaan dengan praktik bisnis digital. Kampus dapat memperluas pelatihan pemasaran digital, pengelolaan toko daring, analisis kebutuhan pelanggan, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan model bisnis.
Program inkubasi dan pendampingan juga dapat dirancang agar mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi memperoleh kesempatan untuk menguji produk, menyusun strategi pemasaran, mengevaluasi tanggapan pelanggan, dan memperbaiki model usaha berdasarkan pengalaman.
Dosen dan pengelola program kewirausahaan dapat memperjelas informasi mengenai fasilitas, mentor, pendanaan, serta jaringan bisnis yang tersedia. Dengan demikian, mahasiswa memiliki pemahaman lebih baik mengenai bentuk dukungan yang dapat mereka manfaatkan.
Bagi mahasiswa, pesan utamanya adalah bahwa kecakapan menggunakan media sosial atau aplikasi digital perlu dikembangkan menjadi keterampilan bisnis yang lebih luas. Kemampuan mengenali peluang, memahami konsumen, mengelola transaksi, serta menilai hasil strategi merupakan bagian penting dari kesiapan membangun usaha.
Penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Data dikumpulkan pada satu periode dan mengandalkan jawaban responden, sehingga hasilnya belum dapat menggambarkan perubahan kemampuan dari waktu ke waktu atau memastikan hubungan sebab-akibat. Penelitian berikutnya dapat menggunakan pengamatan longitudinal, indikator aktivitas bisnis yang lebih objektif, dan perbandingan antarkampus atau antarnegara.
Profil Penulis
Artikel jurnal ini ditulis oleh empat peneliti dari tiga institusi pendidikan tinggi:
- Ni Luh Sinta Yani — Universitas Negeri Makassar, Indonesia. Bertindak sebagai penulis korespondensi.
- Nurfahima — Universitas Negeri Makassar, Indonesia.
- Ngurah Bagus Widhia Kusuma Putra — Universitas Hasanuddin, Indonesia.
- I Gede Wira Aditya Tanaya — University of Sussex, Inggris.
Naskah yang diberikan tidak mencantumkan gelar akademik maupun uraian bidang keahlian khusus setiap penulis. Informasi tersebut karena itu tidak ditambahkan agar profil tetap akurat.
Sumber Penelitian
Judul artikel: Unlocking Generation Z’s Digital Entrepreneurial Self-Efficacy: A Sequential Mediation Model of Digital Entrepreneurial Support and Competence in University Entrepreneurial Ecosystems
Penulis: Ni Luh Sinta Yani, Nurfahima, Ngurah Bagus Widhia Kusuma Putra, dan I Gede Wira Aditya Tanaya.
Nama jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI), berdasarkan informasi yang diberikan.
Tahun publikasi: 2026, berdasarkan keterangan hak cipta pada naskah yang diberikan.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.77
URL jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi

0 Komentar