Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah menerima dan menyebarkan informasi, tetapi juga meningkatkan risiko hoaks, informasi yang tidak akurat, dan kesalahpahaman dalam komunikasi. Menanggapi tantangan tersebut, empat akademisi dari Universitas Bina Sarana Informatika (BSI), yakni Riastri Novianita, Bobby Octavia Yuskar, Ondy, dan Putri Ramadaniar, mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan komunikasi interpersonal pengurus serta anggota Masjid At-Taqwa di Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan menekankan pentingnya literasi bahasa dan etika informasi dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini penting karena kemampuan menggunakan media digital perlu diimbangi dengan keterampilan menilai kebenaran informasi, memahami konteks pesan, dan berkomunikasi secara bertanggung jawab.
Tantangan Informasi Digital di Lingkungan Masyarakat
Media sosial dan aplikasi pesan seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, YouTube, serta Facebook telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Di lingkungan masjid, media tersebut membantu pengurus menyampaikan pengumuman, mengoordinasikan kegiatan keagamaan, dan menjaga hubungan antaranggota.
Namun, kemudahan itu juga membawa tantangan. Pesan yang belum terverifikasi dapat diteruskan kepada banyak orang, sedangkan pilihan kata yang kurang tepat dapat menimbulkan salah tafsir dan perselisihan.
Dalam artikel yang diterbitkan di Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), tim akademisi Universitas Bina Sarana Informatika menyoroti perlunya kemampuan untuk memeriksa sumber informasi, membedakan fakta dan opini, serta mempertimbangkan dampak sebelum membagikan suatu pesan.
Selain itu, komunikasi yang sehat membutuhkan kemampuan mendengarkan secara aktif, menyampaikan pendapat dengan jelas, menghargai perbedaan, dan merespons orang lain dengan empati. Keterampilan tersebut relevan bagi pengurus dan anggota masjid dalam menjalankan kegiatan bersama maupun menyelesaikan perbedaan pendapat.
Edukasi Melalui Diskusi, Latihan, dan Simulasi
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian masyarakat mengembangkan kegiatan edukasi yang menggabungkan literasi informasi, penggunaan bahasa yang santun, berpikir kritis, dan etika komunikasi.
Pelaksanaan program dirancang melalui beberapa tahapan, mulai dari pemetaan pemahaman awal peserta, penyampaian materi, diskusi interaktif, hingga evaluasi. Peserta juga diarahkan untuk mempraktikkan keterampilan yang dipelajari melalui contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Materi kegiatan mencakup beberapa hal utama:
- Memeriksa kredibilitas informasi. Peserta diperkenalkan pada cara memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan keandalan informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.
- Membedakan fakta dan opini. Peserta diarahkan untuk mengenali perbedaan antara informasi faktual, pendapat, dan pesan yang berpotensi menyesatkan.
- Menggunakan bahasa yang santun. Pemilihan kata dan cara menyampaikan pesan menjadi perhatian agar komunikasi tidak memicu konflik atau merendahkan pihak lain.
- Membangun komunikasi interpersonal yang efektif. Peserta mempelajari pentingnya mendengarkan secara aktif, menyampaikan kritik secara tepat, menghargai perbedaan, dan mengklarifikasi kesalahpahaman.
- Memahami etika informasi. Peserta diingatkan untuk menjaga privasi, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan mempertimbangkan dampak pesan terhadap orang lain.
Pendekatan tersebut menghubungkan pemahaman teori dengan penerapan praktis. Dengan demikian, literasi digital tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi, tetapi juga sebagai kecakapan menilai informasi dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Hasil dan Capaian Program
Artikel tersebut mencatat bahwa program pengabdian masyarakat menghasilkan luaran berupa publikasi artikel di media massa atau elektronik, peningkatan pengetahuan mitra, peningkatan keterampilan, serta publikasi jurnal non-Sinta.
Materi dan rangkaian kegiatan diarahkan untuk membantu jamaah menerapkan kebiasaan yang lebih cermat dalam menerima informasi serta lebih bijak ketika berkomunikasi.
Meski demikian, artikel tidak menyajikan angka kuantitatif mengenai jumlah peserta, nilai pre-test dan post-test, atau besarnya peningkatan kemampuan. Karena itu, capaian program lebih tepat dipahami berdasarkan luaran dan tujuan edukasi yang dilaporkan, bukan sebagai bukti statistik tentang tingkat keberhasilan peserta.
Tim penulis juga merekomendasikan agar edukasi serupa diperluas ke komunitas keagamaan lain, termasuk majelis taklim dan remaja masjid. Praktik pemeriksaan fakta secara langsung serta pendampingan berkala dinilai dapat membantu masyarakat semakin terampil dalam mengenali informasi menyesatkan dan menjaga komunikasi yang positif.
Masjid sebagai Ruang Pembelajaran Sepanjang Hayat
Program ini memperlihatkan bahwa lingkungan masjid dapat berperan lebih luas daripada sebagai tempat ibadah. Masjid juga berpotensi menjadi ruang belajar masyarakat untuk mengembangkan keterampilan komunikasi, literasi informasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Kegiatan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 mengenai pendidikan berkualitas yang inklusif dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua.
Bagi masyarakat, keterampilan ini dapat diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari memeriksa pesan yang beredar di grup WhatsApp keluarga, menyaring berita di media sosial, hingga menyampaikan pendapat dalam musyawarah. Bagi pengurus komunitas, komunikasi yang jelas dan etis dapat membantu memperkuat koordinasi, mengurangi kesalahpahaman, dan menjaga hubungan sosial.
Melalui edukasi literasi bahasa dan etika informasi, tim Universitas Bina Sarana Informatika menekankan pentingnya membangun masyarakat yang tidak hanya aktif menerima dan membagikan informasi, tetapi juga mampu menilainya secara kritis serta menggunakannya dengan penuh tanggung jawab.
Profil Penulis
- Riastri Novianita- Universitas Bina Sarana Informatika.
- Bobby Octavia Yuskar- Universitas Bina Sarana Informatika.
- Ondy- Universitas Bina Sarana Informatika.
- Putri Ramadaniar- Universitas Bina Sarana Informatika.
Sumber Penelitian
Tahun publikasi: 2026.
Volume dan edisi: Volume 5, Nomor 10, Oktober 2026, halaman 805–820.
URL jurnal: https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

0 Komentar