Dari Kitab Kuning ke KPI: Mengaudit Dataifikasi Kesalehan Ekologi dalam Gerakan Ekopesantren di Indonesia dan Ketidakselarasannya yang Tidak Merata dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Gambar Ilustrasi AI

Peneliti UIN Saizu Ungkap Tantangan Digitalisasi Etika Lingkungan pada Gerakan Ekopesantren di Indonesia

Sebuah studi ilmiah terbaru mengungkap bagaimana nilai-nilai etika lingkungan Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan kitab kuning ditransformasikan menjadi indikator kinerja terukur berbasis web pada gerakan Ekopesantren di Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Kholid Mawardi, Supriyanto, dan Zein Muchamad Masykur dari Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto dan dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Contemporary Multidisciplinary Research (MODERN) edisi September 2026. Temuan ini menjadi sangat penting karena memberikan sudut pandang kritis terhadap efektivitas gerakan pelestarian lingkungan berbasis agama yang kini diakui oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) melalui Al-Mizan Covenant for the Earth.

Latar Belakang dan Konteks Gerakan Ekopesantren

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia dengan jumlah mencapai lebih dari 42.000 lembaga pada periode 2024/2025. Sejak tahun 2021, konsorsium yang dipimpin oleh Pusat Pengajian Islam (PPI) Universitas Nasional (UNAS) menggalang gerakan Ekopesantren nasional. Gerakan ini mempromosikan pesantren sebagai wahana pelestarian lingkungan berbasis iman yang berpuncak pada penganugerahan penghargaan bagi 13 pesantren dari 50 peserta yang mewakili sekitar 76.000 santri di Jawa dan Sumatra pada pertengahan 2024. Meski sukses menarik perhatian internasional, belum ada riset yang mengevaluasi secara kritis mekanisme operasional dan tingkat keterwakilan gerakan ini dalam skala nasional.

Metodologi Penelitian

Peneliti dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menerapkan metode analisis dokumen kualitatif dan netnografi terhadap 11 dokumen primer terbitan tahun 2011 hingga 2026. Data publik seperti dokumen kelembagaan, teks fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), pemberitaan media, dan materi situs web ditelaah menggunakan analisis konten terarah. Data tersebut kemudian ditriangulasi dengan data statistik pesantren nasional dari Kementerian Agama serta teori budaya audit (audit culture) dan datafikasi (datafication) untuk memetakan kategori program Ekopesantren ke dalam target Sustainable Development Goals (SDGs).

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis riset ini menunjukkan beberapa poin penting mengenai gerakan Ekopesantren:

  • Penerjemahan Etika Menjadi Indikator Terukur: Prinsip moral Islam seperti khalifah (kepemimpinan/penjagaan), mīzān (Keseimbangan), dan amānah (tanggung jawab) berhasil diterjemahkan ke dalam 10 kategori program terukur berbasis web. Kategori ini mencakup kurikulum berperspektif lingkungan, integrasi fiqih lingkungan, pengelolaan air, sampah, energi, transportasi, hingga kehati-hatian hayati.
  • Keselarasan Parsial dengan Target SDGs: Konversi etika lingkungan tersebut terbukti selaras secara spesifik dengan target indikator SDGs, terutama SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 6 (Air Bersih), SDG 7 (Energi Bersih), SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Darat).
  • Absensi Isu Kesetaraan dan Keadilan: Sistem 10 kategori Ekopesantren belum mencakup indikator yang berkaitan dengan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 16 (Perdamaian dan Kelembagaan yang Tangguh). Padahal, potensi kepemimpinan santriwati dan unit usaha ekonomi pesantren sangat besar untuk mendukung aspek tersebut.
  • Kesenjangan Skala Coverage: 50 pesantren yang berpartisipasi dalam program ini baru mewakili sekitar 0,12% dari total 42.433 pesantren terdaftar di Indonesia, serta masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Sumatra. Sebagian penghargaan juga diberikan kepada pesantren yang sebenarnya sudah memiliki tradisi ramah lingkungan secara mandiri sejak puluhan tahun lalu.

Implikasi dan Dampak Bagi Kebijakan

Penelitian ini memberikan rekomendasi penting bagi pengelola gerakan Ekopesantren, Kementerian Agama, dan lembaga donor internasional. Agar gerakan ini berdampak nyata dan berkelanjutan, penyelenggara disarankan untuk mempublikasikan data pemantauan secara transparan, memperluas jangkauan ke luar Jawa dan Sumatra, serta memasukkan indikator kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar. Integrasi skema pendanaan domestik juga diperlukan untuk mengurangi ketergantungan pada donor filantropi internasional.

Mengenai pentingnya evaluasi kritis terhadap digitalisasi etika lingkungan agama, tim peneliti dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto memberikan penegasannya. Kholid Mawardi, Supriyanto, dan Zein Muchamad Masykur menyimpulkan, "Gerakan Ekopesantren berhasil mengubah komitmen etika Islam yang abstrak menjadi indikator kinerja terukur yang diakui dunia internasional; namun, keterwakilan yang masih terbatas pada 0,12% pesantren nasional serta belum terakomodasinya isu gender dan keadilan sosial menunjukkan masih ada ruang penyempurnaan agar audit ekologi berbasis agama ini benar-benar inklusif dan berdampak sistemik".

Profil Penulis:

  1. Dr. Kholid Mawardi, S.Ag., M.Hum. – Dosen dan peneliti di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Indonesia, dengan kepakaran di bidang sosiologi Islam, kebudayaan, dan studi pesantren.
  2. Dr. Supriyanto, M.Pd. – Dosen dan peneliti di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Indonesia, berfokus pada manajemen pendidikan Islam dan kebijakan pendidikan.
  3. Zein Muchamad Masykur, M.Si. – Peneliti di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Indonesia, dengan keahlian di bidang studi Islam, tata kelola kelembagaan, dan isu-isu sosial-keagamaan.

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar