Akuntansi Manajemen Berperan Menjembatani Target Keuntungan dan Komitmen Keberlanjutan Perusahaan

Created by AI

FORMOSA NEWS -  Perusahaan menghadapi tantangan untuk menjaga keuntungan sekaligus memenuhi komitmen terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial. Gilbert Rely dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi, Indonesia, mengkaji bagaimana konflik antara target keuntungan dan keberlanjutan memengaruhi praktik akuntansi manajemen. Artikel yang diterbitkan pada 2026 ini menunjukkan bahwa target keuangan jangka pendek masih mendominasi keputusan perusahaan, tetapi sistem akuntansi yang menggabungkan indikator keuangan dan keberlanjutan dapat membantu organisasi menyeimbangkan kedua kepentingan tersebut.

Temuan ini penting bagi perusahaan yang ingin menjalankan bisnis secara berkelanjutan tanpa mengabaikan efisiensi, daya saing, dan kesehatan keuangan. Keberlanjutan tidak cukup hanya dicantumkan dalam laporan atau kebijakan perusahaan. Komitmen tersebut perlu diterjemahkan ke dalam anggaran, penilaian kinerja, keputusan investasi, dan tanggung jawab setiap bagian organisasi.

Target Keuntungan Masih Mendominasi Keputusan Perusahaan

Keberlanjutan semakin menjadi perhatian dunia usaha. Perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga mempertimbangkan dampak operasionalnya terhadap lingkungan, karyawan, dan masyarakat. Dalam praktiknya, kedua kepentingan tersebut tidak selalu berjalan searah.

Program penghematan energi, pengelolaan limbah, penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan karyawan dapat membutuhkan biaya pada tahap awal. Manfaatnya mungkin baru terlihat setelah beberapa tahun. Sebaliknya, target pendapatan, margin keuntungan, pengendalian biaya, dan arus kas biasanya dievaluasi secara rutin dalam periode yang lebih pendek.

Situasi ini menempatkan akuntansi manajemen pada posisi strategis. Akuntansi manajemen menyediakan informasi yang digunakan perusahaan untuk merencanakan anggaran, mengendalikan biaya, mengevaluasi kinerja, serta menentukan investasi. Cara perusahaan mengukur biaya dan manfaat suatu program dapat menentukan apakah inisiatif keberlanjutan mendapatkan dukungan atau justru ditunda.

Gilbert Rely mengangkat persoalan tersebut melalui kajian tentang ketegangan antara orientasi keuntungan dan komitmen keberlanjutan. Fokusnya bukan sekadar apakah keberlanjutan dapat meningkatkan kinerja perusahaan, melainkan bagaimana para pengambil keputusan menghadapi dua kepentingan yang terkadang saling bersaing dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

Wawancara dengan 18 Partisipan Mengungkap Enam Temuan Utama

Rely menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus eksploratif. Data dikumpulkan dari 18 partisipan yang terdiri atas manajer, akuntan manajemen, dan personel yang terlibat dalam kegiatan keberlanjutan. Para partisipan dipilih berdasarkan keterlibatan langsung mereka dalam penganggaran, pengendalian biaya, evaluasi kinerja, investasi, atau pengambilan keputusan strategis.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen organisasi. Dokumen yang diperiksa mencakup kebijakan internal, anggaran, catatan kinerja, laporan keberlanjutan, dan pedoman organisasi. Selanjutnya, data dianalisis untuk menemukan pola pengalaman, pertentangan kepentingan, dan cara perusahaan mengelola perbedaan prioritas tersebut.

Hasil analisis menunjukkan enam temuan utama:

  1. Target keuntungan mendominasi penganggaran. Sebanyak 15 dari 18 partisipan mengidentifikasi target keuangan sebagai pertimbangan utama ketika perusahaan menentukan alokasi anggaran dan mengendalikan biaya.

  2. Dukungan terhadap keberlanjutan bergantung pada manfaat ekonomi. Sebanyak 14 partisipan menyatakan bahwa program keberlanjutan lebih mudah memperoleh persetujuan ketika dapat menunjukkan penghematan biaya, peningkatan efisiensi, pengurangan risiko, atau manfaat ekonomi lain yang terukur.

  3. Indikator keuangan lebih berpengaruh dalam evaluasi kinerja. Sebanyak 13 partisipan melaporkan bahwa pendapatan, keuntungan, efisiensi biaya, kepatuhan anggaran, dan produktivitas lebih menonjol dibandingkan indikator keberlanjutan dalam penilaian manajerial.

  4. Penilaian investasi cenderung berorientasi jangka pendek. Sebanyak 12 partisipan mengungkapkan bahwa proyek dengan manfaat jangka panjang menghadapi kesulitan ketika perusahaan lebih mengutamakan periode pengembalian investasi yang singkat.

  5. Koordinasi lintas bagian membantu menyelaraskan kepentingan. Sebanyak 10 partisipan menyoroti pentingnya kerja sama antara bagian keuangan, akuntansi, operasional, teknik, manajemen risiko, dan keberlanjutan.

  6. Indikator kinerja terpadu mulai digunakan. Sebanyak sembilan partisipan melaporkan adanya upaya menggabungkan informasi keuangan dan keberlanjutan dalam evaluasi organisasi.

Angka-angka tersebut menggambarkan frekuensi temuan di antara partisipan studi kasus, bukan persentase yang mewakili seluruh perusahaan. Penelitian ini juga tidak menguji hipotesis secara statistik sehingga hasilnya perlu dipahami sebagai gambaran mendalam mengenai praktik organisasi yang dikaji.

Manfaat Keberlanjutan Lebih Mudah Diakui Ketika Terukur

Salah satu temuan penting Rely adalah bahwa perusahaan tidak selalu menolak program keberlanjutan. Dukungan cenderung meningkat ketika manfaat program dapat dijelaskan menggunakan informasi yang relevan bagi pengambil keputusan.

Sebagai contoh, program penghematan energi akan lebih mudah dipertimbangkan apabila perusahaan dapat memperkirakan penurunan tagihan listrik. Pengurangan limbah dapat diperhitungkan melalui penghematan bahan baku dan biaya pembuangan. Investasi pada teknologi yang lebih efisien juga dapat dinilai berdasarkan pengurangan konsumsi sumber daya, peningkatan produktivitas, atau penurunan risiko operasional.

Pendekatan ini membantu perusahaan melihat bahwa keberlanjutan tidak selalu menjadi beban biaya tambahan. Dalam kondisi tertentu, praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dapat mendukung efisiensi dan ketahanan bisnis.

Namun, terdapat keterbatasan ketika seluruh manfaat harus dinyatakan dalam nilai uang. Perlindungan ekosistem, kepercayaan masyarakat, kesejahteraan karyawan, dan manfaat sosial jangka panjang tidak selalu mudah dihitung secara finansial. Jika perusahaan hanya mempertimbangkan manfaat yang dapat dimonetisasi, sejumlah dampak keberlanjutan berisiko diabaikan.

Karena itu, hasil kajian Rely menunjukkan pentingnya penggunaan indikator yang lebih beragam. Informasi keuangan perlu dilengkapi dengan ukuran fisik, sosial, lingkungan, dan risiko agar keputusan perusahaan tidak hanya berorientasi pada penghematan atau keuntungan langsung.

Sistem Penilaian Kinerja Perlu Mendukung Komitmen Keberlanjutan

Persoalan lain muncul ketika kebijakan perusahaan tidak sejalan dengan sistem penilaian karyawan dan manajer. Perusahaan dapat menetapkan target pengurangan limbah atau emisi, tetapi manajer operasional mungkin tetap dinilai terutama berdasarkan penghematan biaya dan jumlah produksi.

Dalam situasi tersebut, manajer memiliki dorongan untuk memprioritaskan indikator yang secara langsung memengaruhi penilaian kinerja, bonus, atau perkembangan karier. Komitmen keberlanjutan pun berpotensi kalah ketika pelaksanaannya dianggap mengancam pencapaian target keuangan.

Rely menunjukkan bahwa indikator keberlanjutan perlu dimasukkan ke dalam sistem evaluasi formal dengan target yang jelas, tanggung jawab yang terdefinisi, dan mekanisme pemantauan yang konsisten. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya meminta karyawan mendukung keberlanjutan, tetapi juga menjadikan pencapaiannya sebagai bagian dari pertanggungjawaban organisasi.

Perusahaan juga perlu memperluas cara menilai investasi. Proyek dengan manfaat jangka panjang sebaiknya tidak hanya dibandingkan berdasarkan biaya awal atau waktu pengembalian modal. Pertimbangan lain dapat mencakup biaya sepanjang siklus hidup aset, risiko regulasi pada masa mendatang, potensi kerugian lingkungan, efisiensi sumber daya, serta risiko reputasi.

Pendekatan tersebut bukan berarti mengabaikan disiplin keuangan. Sebaliknya, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih menyeluruh dengan memperhitungkan konsekuensi finansial sekaligus dampak lingkungan dan sosial.

Kolaborasi Antarbagian Membantu Perusahaan Mengambil Keputusan

Penelitian ini juga menekankan pentingnya koordinasi lintas fungsi. Tim keberlanjutan memiliki pengetahuan tentang dampak lingkungan dan sosial, bagian operasional memahami kelayakan teknis, sedangkan bagian keuangan dan akuntansi dapat menghitung biaya serta memperkirakan manfaat ekonomi.

Ketika seluruh bagian terlibat sejak awal, usulan keberlanjutan dapat dinilai dari berbagai sudut pandang. Perusahaan juga memiliki kesempatan lebih besar untuk mengidentifikasi penghematan, memperkirakan risiko, dan menyusun alasan bisnis yang lebih kuat sebelum mengambil keputusan investasi.

Akuntansi manajemen dengan demikian memiliki dua peran. Di satu sisi, sistem pengukuran konvensional dapat memperkuat dominasi keuntungan jangka pendek. Di sisi lain, akuntansi dapat membantu mengintegrasikan keberlanjutan melalui indikator terpadu, evaluasi jangka panjang, dan koordinasi antarbagian.

Bagi dunia usaha di Indonesia, temuan ini relevan terutama bagi perusahaan yang perlu menjaga efisiensi sekaligus memenuhi tuntutan tanggung jawab lingkungan dan sosial. Penerapannya membutuhkan dukungan pimpinan, kualitas data yang memadai, definisi indikator yang konsisten, serta pembagian tanggung jawab yang jelas.

Meski demikian, hasil penelitian tidak dapat langsung digeneralisasi kepada seluruh perusahaan karena kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan 18 partisipan dalam satu studi kasus organisasi. Penelitian lanjutan lintas perusahaan dan industri diperlukan untuk mengetahui bagaimana ketegangan serupa muncul dalam konteks bisnis yang berbeda.

Profil Penulis

Gilbert Rely merupakan penulis artikel Unveiling the Tension between Profit Orientation and Sustainability Commitments in Management Accounting Practices, yang berafiliasi dengan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi, Indonesia. Kajian yang ditulisnya berfokus pada akuntansi manajemen, orientasi keuntungan, komitmen keberlanjutan, ketegangan organisasi, dan akuntansi keberlanjutan. Informasi gelar akademik dan profil keahlian yang lebih terperinci tidak dicantumkan dalam naskah sumber.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Unveiling the Tension between Profit Orientation and Sustainability Commitments in Management Accounting Practices

Penulis: Gilbert Rely

Afiliasi: Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bekasi, Indonesia

Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI)

Tahun publikasi: 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijmbi.v4i5.62

ISSN-E: 3025-5589

Situs resmi jurnal: https://journalijmbi.my.id/index.php/ijmbi

Posting Komentar

0 Komentar