Waktu Tunggu Kapal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Sumbang 6,4 Ton Emisi Karbon Bebas

Ilustrasi by AI

SEMARANG – Waktu tunggu kapal yang tidak produktif di pelabuhan tidak hanya memicu kerugian komersial bagi dunia logistik, tetapi juga menjadi sumber pencemaran udara yang signifikan di kawasan pesisir. Sebuah studi ilmiah yang dilakukan pada tahun 2026 oleh tim peneliti dari Politeknik Pelayaran Banten mengungkapkan bahwa kapal yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, menyumbang sekitar 6,4 ton emisi karbon dioksida per kedatangan akibat waktu menganggur saat berlabuh. Temuan ini menjadi sangat penting karena membuktikan bahwa efisiensi operasional pelabuhan dapat langsung berfungsi sebagai instrumen penurunan emisi gas rumah kaca tanpa memerlukan biaya modal tambahan.

Sebagian besar regulasi maritim nasional dan internasional selama ini berfokus pada standar kualitas bahan bakar, seperti pembatasan kadar belerang. Namun, pendekatan regulasi tersebut hanya mengubah komposisi kimia bahan bakar yang dibakar, tanpa mengurangi jumlah volume bahan bakar yang dikonsumsi secara keseluruhan. Ketika kapal sudah bersandar di dermaga namun aktivitas bongkar muat kargo belum dimulai, mesin bantu kapal tetap menyala secara terus-menerus untuk menyuplai daya listrik bagi peralatan kapal dan kebutuhan hidup awak kapal.

Dalam penelitian ini, para peneliti mengamati aktivitas lima kapal yang melayani rute domestik dan internasional di Pelabuhan Tanjung Emas, mencakup kapal barang umum, kapal tanker kimia, dan kapal kontainer. Tim peneliti menerapkan metode kalkulasi berbasis aktivitas dari bawah ke atas atau activity-based bottom-up untuk menghitung konsumsi bahan bakar berdasarkan daya mesin, faktor beban, durasi operasional, serta faktor emisi spesifik. Dari penghitungan tersebut, diperoleh perkalian massa untuk berbagai jenis pencemar udara seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrokarbon, partikulat tersuspensi, belerang dioksida, dan karbon dioksida.

Hasil perhitungan emisi tersebut kemudian dihubungkan secara cermat dengan statistik resmi pelayanan kapal di pelabuhan. Data menunjukkan bahwa dari rata-rata total waktu bersandar kapal sebesar 79,89 jam per kunjungan, terdapat 20,03 jam yang tergolong sebagai Not Operational Time atau waktu tidak beroperasi. Waktu kosong ini terjadi akibat berbagai hambatan operasional darat, seperti ketidaksiapan alat bongkar muat serta keterlambatan dalam penjadwalan tenaga kerja pelabuhan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 89 persen emisi karbon dioksida kapal dipancarkan saat kapal berada dalam posisi bersandar di dermaga, jauh melampaui emisi saat kapal bermanuver di perairan pelabuhan. Mesin bantu kapal terbukti menyumbang antara 37 hingga 47 persen dari total emisi gas buang per jam. Selama 20,03 jam masa tidak beroperasi tersebut, mesin bantu yang tetap menyala menghasilkan rata-rata 6,4 ton emisi karbon dioksida per kedatangan kapal, di mana seluruh emisi ini sebenarnya dapat dihindari sepenuhnya jika operasional dermaga berjalan lancar.

Temuan ini membawa implikasi besar bagi pengelola pelabuhan, pelaku bisnis logistik, dan pembuat kebijakan publik. Produktivitas dermaga kini tidak lagi sekadar dilihat sebagai ukuran kinerja bisnis, melainkan juga sebagai instrumen perlindungan lingkungan. Dengan mengoptimalkan keandalan peralatan bongkar muat dan memperbaiki manajemen giliran kerja buruh pelabuhan, pengelola dapat mengurangi waktu tunggu kapal dan secara langsung memangkas ribuan ton emisi karbon setiap tahunnya tanpa perlu investasi teknologi baru.

Langkah pembenahan manajemen operasional ini menjadi strategi awal yang sangat ideal sebelum pelabuhan menginvestasikan dana besar untuk penyediaan listrik darat atau shore power. Selain memberikan dampak positif bagi pengurangan emisi global, pemangkasan emisi gas buang di Pelabuhan Tanjung Emas memberikan manfaat kesehatan langsung bagi masyarakat pemukiman di sekitar kawasan pelabuhan Semarang yang kerap terpapar polusi udara maritim.

Penelitian ini dilakukan oleh Akhmad Ndori, Adhi Pratistha Silen, Hari Sunanto, dan Sahar Saleh dari Politeknik Pelayaran Banten.

Profil Penulis: Akhmad Ndori, Adhi Pratistha Silen, Hari Sunanto, dan Sahar Saleh (Politeknik Pelayaran Banten).

Sumber Penelitian:

Judul Artikel: Emissions of Waiting: Quantifying Avoidable CO2 from Unproductive Berth Time at Tanjung Emas Port, Semarang 

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 9, 2026, hal. 2091-2106 

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i9.151 

Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar