Penelitian tersebut melibatkan 150 mahasiswa BSBA dari Gordon College. Para responden berasal dari tiga program, yakni Marketing Management, Financial Management, dan Human Resource Management, dengan masing-masing program menyumbang 50 mahasiswa. Mayoritas responden, sebanyak 72,7 persen, memperoleh sumber uang utama dari tunjangan orang tua atau wali. Sementara itu, 17,3 persen memiliki pekerjaan paruh waktu, 5,3 persen memperoleh penghasilan dari bisnis atau penjualan daring, dan 4,7 persen menerima beasiswa atau bantuan keuangan.
Belanja impulsif di tengah kemudahan transaksi digital
Pembelian impulsif semakin mudah terjadi di kalangan mahasiswa seiring berkembangnya platform belanja daring, pembayaran digital, iklan media sosial, promosi, dan penawaran dengan waktu terbatas. Kondisi tersebut dapat membuat konsumen membeli sesuatu tanpa perencanaan sebelumnya.
Para peneliti mencatat bahwa mahasiswa yang mulai mengelola keuangan sendiri menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan sumber daya finansial dengan kebiasaan belanja. Rendahnya literasi keuangan juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengambil keputusan pengeluaran yang kurang terencana.
Namun, penelitian Farne dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana “semakin banyak uang, semakin impulsif.” Faktor psikologis dan seberapa besar seseorang memberikan nilai pada kepemilikan barang justru menjadi bagian penting dari pola tersebut.
Melibatkan 150 mahasiswa Gordon College
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif-korelasional. Artinya, peneliti mengamati kondisi dan hubungan antarvariabel yang sudah ada tanpa memberikan perlakuan tertentu kepada mahasiswa.
Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur melalui formulir digital. Pertanyaan mencakup profil responden, kondisi sumber daya finansial, serta perilaku pembelian impulsif. Sumber daya finansial diukur melalui kapasitas belanja, ketergantungan pada barang material, dan dampak psikologis.
Sementara itu, perilaku pembelian impulsif dilihat melalui empat aspek, yaitu pembelian spontan, dorongan membeli karena emosi, kurangnya perencanaan pembelian, dan keinginan mendapatkan kepuasan secara langsung. Data kemudian dianalisis menggunakan sejumlah metode statistik, termasuk regresi linear berganda dengan bootstrapping.
Kepuasan instan menjadi pemicu paling kuat
Hasil survei menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat kapasitas belanja yang sangat tinggi, dengan skor rata-rata 3,35 pada skala empat poin. Pernyataan bahwa mahasiswa lebih mungkin berbelanja ketika sumber daya finansial mereka meningkat memperoleh skor tertinggi, yakni 3,39.
Ketergantungan terhadap barang material berada pada kategori tinggi dengan skor 3,14. Sementara itu, dampak psikologis sumber daya finansial tergolong sangat tinggi dengan skor 3,26. Temuan ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan berkaitan erat dengan rasa percaya diri, emosi, dan keputusan membeli mahasiswa.
Pada sisi perilaku pembelian impulsif, immediate gratification atau kepuasan instan menjadi aspek dengan skor tertinggi. Nilai rata-ratanya mencapai 3,32, masuk kategori sangat tinggi. Pernyataan “merasa senang ketika langsung mendapatkan barang yang diinginkan” memperoleh skor 3,45, tertinggi di antara seluruh indikator perilaku impulsif.
Pembelian spontan memiliki skor 3,16, dorongan membeli karena emosi 3,23, dan kurangnya perencanaan pembelian 3,22. Pada aspek terakhir, pernyataan mengenai penyesalan setelah melakukan pembelian tanpa perencanaan memperoleh skor 3,28, juga masuk kategori sangat tinggi.
Nilai material lebih penting daripada sekadar punya uang
Analisis statistik memberikan temuan yang lebih spesifik. Dalam perilaku pembelian spontan, ketergantungan terhadap barang material menjadi prediktor paling kuat dengan koefisien 0,454, disusul dampak psikologis dengan koefisien 0,361. Model tersebut menjelaskan 40,5 persen variasi perilaku pembelian spontan.
Sebaliknya, kapasitas belanja tidak terbukti menjadi prediktor yang signifikan. Dengan kata lain, memiliki lebih banyak uang tidak secara otomatis membuat mahasiswa membeli secara impulsif. Faktor internal seperti nilai terhadap barang material dan pengaruh kondisi finansial terhadap emosi memiliki hubungan yang lebih kuat dengan perilaku tersebut.
Pola serupa muncul pada kurangnya perencanaan pembelian. Ketergantungan material dan dampak psikologis sama-sama menjadi prediktor signifikan, sedangkan kapasitas belanja tidak signifikan. Untuk dorongan membeli karena emosi dan pencarian kepuasan instan, ketergantungan terhadap barang material kembali menjadi prediktor yang signifikan.
Temuan ini membuat hasil penelitian menjadi penting: persoalan pembelian impulsif bukan semata-mata soal seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana seseorang memandang barang, mengelola emosi, dan mengambil keputusan sebelum membeli.
Mahasiswa dari jurusan berbeda ternyata relatif sama
Menariknya, latar belakang akademik tidak menghasilkan perbedaan signifikan dalam perilaku pembelian impulsif. Mahasiswa Marketing Management, Financial Management, dan Human Resource Management menunjukkan kecenderungan yang relatif sama dalam pembelian spontan, dorongan emosional, kurangnya perencanaan, maupun pencarian kepuasan instan.
Perbedaan justru ditemukan berdasarkan sumber penghasilan. Mahasiswa yang memiliki pekerjaan paruh waktu menunjukkan kecenderungan lebih tinggi melakukan pembelian tanpa perencanaan dibandingkan mahasiswa yang mengandalkan tunjangan orang tua atau wali. Namun, sumber penghasilan tidak menghasilkan perbedaan signifikan pada pembelian spontan, dorongan emosional, dan kepuasan instan.
Pentingnya literasi keuangan dan “tunda sebelum membeli”
Frances Marie Farne dan rekan-rekannya merekomendasikan penerapan prinsip delayed gratification, terutama bagi mahasiswa yang memperoleh penghasilan sendiri. Salah satu contoh yang diberikan adalah menunggu 24–48 jam sebelum membeli barang non-esensial yang berada di keranjang belanja daring. Cara tersebut dapat memberi waktu untuk mengevaluasi apakah barang benar-benar dibutuhkan.
Orang tua dan wali juga disarankan tidak hanya memberikan uang saku, tetapi turut mengajarkan penganggaran dan pencatatan pengeluaran. Sementara itu, Gordon College dapat memperkuat pendidikan mengenai behavioral finance dan consumer psychology agar mahasiswa lebih memahami bagaimana strategi pemasaran dan teknologi digital dapat memengaruhi keputusan belanja.
Para peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan mengenai peran e-wallet seperti GCash dan Maya serta platform live-selling seperti TikTok Shop dalam mendorong pembelian impulsif di kalangan anak muda.
Profil Penulis
Frances Marie Farne, Villanueva Glaizel May, Elaizza Margarette Vela Cruz, Christian Jeromme Robles, Joy Ann Ragasa, dan Geraldine Raydanas merupakan enam penulis artikel ini yang berafiliasi dengan Gordon College, Filipina. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian individual masing-masing penulis. Berdasarkan topik kajian, artikel mereka berfokus pada manajemen keuangan, literasi keuangan, perilaku konsumen, dan pembelian impulsif mahasiswa. Frances Marie Farne tercatat sebagai corresponding author.
Sumber Penelitian
Farne, Frances Marie; May, Villanueva Glaizel; Vela Cruz, Elaizza Margarette; Robles, Christian Jeromme; Ragasa, Joy Ann; dan Raydanas, Geraldine. “The Impact of Financial Resources on the Impulsive Buying Behavior of Bachelor of Science in Business Administration (BSBA) Students in Gordon College.” Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5, No. 3, 2026, hlm. 883–902. DOI: 10.55927/ajabm.v5i3.70.
0 Komentar