Strategi RSAL Dr. Mintoharjo Menghadapi Banjir Jakarta: Benteng Medis Amphibious dan Integrasi Sipil-Militer


Ilustrasi by AI 

Peneliti dari Universitas Pertahanan Indonesia meluncurkan kajian komprehensif mengenai ketahanan operasional Rumah Sakit TNI Angkatan Laut (RSAL) Dr. Mintoharjo dalam menghadapi ancaman banjir musiman di Jakarta. Penelitian yang disusun oleh Citra Ayu Ekywati, Syamsul Maarif, Yuli Subiakto, dan Wilopo ini diterbitkan pada Agustus 2026 di Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA). Studi ini mengevaluasi peran ganda RSAL Dr. Mintoharjo sebagai fasilitas kesehatan yang terdampak banjir sekaligus garda terdepan penanggulangan bencana melalui Operasi Militer Selain Perang (OMP). Hasil penelitian ini penting karena memberikan gambaran nyata tentang cara menjaga keberlanjutan layanan medis darurat saat infrastruktur perkotaan lumpuh diterjang banjir.

Sebagai megapolitan yang dilintasi 13 sungai utama, Jakarta terus berhadapan dengan risiko banjir akibat curah hujan ekstrem, limpasan air sungai, penurunan tanah, dan pasang air laut. Ketika banjir melanda, gangguan pada layanan rumah sakit dapat menurunkan kapasitas penanganan darurat wilayah secara drastis tepat di saat kebutuhan medis masyarakat melonjak. Berlokasi di kawasan Bendungan Hilir yang berdampingan langsung dengan DAS Sungai Krukut, RSAL Dr. Mintoharjo secara historis pernah mengalami banjir besar pada tahun 1996, 2002, 2013, dan 2020. Mengingat perannya yang vital bagi kesehatan prajurit dan masyarakat umum, RSAL Dr. Mintoharjo dituntut memiliki sistem ketahanan fisik dan operasional yang tangguh agar tetap dapat berfungsi penuh saat krisis.

Untuk menganalisis ketahanan tersebut, tim peneliti dari Universitas Pertahanan Indonesia menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi kasus operasional. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis data spasial dan topografi wilayah Sungai Krukut berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), tinjauan dokumen Hospital Emergency Preparedness Plan (HEPP), serta wawancara terstruktur dengan pemangku kepentingan kunci. Pihak yang diwawancarai meliputi manajemen RSAL Dr. Mintoharjo, Dinas Kesehatan Angkatan Laut (Diskesal), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSAL Dr. Mintoharjo berhasil menerapkan kombinasi adaptasi struktur dan prosedur darurat yang efektif:

  • Pertahanan Fisik dan Peninggian Utilitas Vital: Rumah sakit telah membangun sistem dinding penahan banjir berstruktur beton yang dilengkapi pintu air hidrolik otomatis di sepanjang perbatasan Sungai Krukut, didukung kolam retensi internal dan pompa penyedot air (dewatering). Sistem kelistrikan utama (switchgear) dan generator cadangan telah dipindahkan dari lantai dasar ke platform terangkat (+3,5 meter NAL) dan lantai 2 untuk mencegah krisis listrik saat air naik.
  • Perlindungan Aset dan Rekam Medis: Peralatan medis khusus seperti sistem pendukung tabung hiperbarik dilindungi dengan ruang kedap air dan panel kontrol yang ditinggikan, sementara dokumen rekam medis fisik telah didigitalisasi ke sistem cloud.
  • Prosedur Darurat Bertingkat: Rencana kesiapsiagaan rumah sakit menerapkan tiga tingkatan status darurat berdasarkan ketinggian air Sungai Krukut, mulai dari Siaga 3 (persiapan pompa), Siaga 2 (pemindahan pasien lantai dasar ke lantai atas), hingga Siaga 1 (pengoperasian generator cadangan dan penggunaan moda transportasi amphibious).
  • Tantangan Akses dan Komunikasi External: Meskipun area dalam rumah sakit berhasil terisolasi dari air, kendala utama terletak pada jalan akses luar kawasan Bendungan Hilir yang sering tergenang air setinggi 40–80 cm. Kondisi ini menghambat mobilitas ambulans, truk logistik, dan pergantian personel medis. Selain itu, koordinasi lapangan dengan BPBD dan Basarnas masih menghadapi kendala akibat kongesti jaringan seluler umum saat bencana.

Implikasi dari penelitian ini sangat relevan bagi manajemen rumah sakit di area rawan bencana, pengambil kebijakan, dan sektor pertahanan sipil. Peneliti merekomendasikan pembangunan jalur ramp ambulans terintegrasi yang terhubung langsung ke jalan utama bebas banjir untuk mengatasi kendala isolasi akses. Selain itu, pembentukan jaringan komunikasi radio digital dan satelit khusus antara RSAL Dr. Mintoharjo, BPBD DKI Jakarta, dan Basarnas sangat diperlukan agar koordinasi tidak terputus saat jaringan umum lumpuh. Penerapan teknologi micro-grid berbasis panel surya dan baterai penyimpan energi juga disarankan guna memperkuat kemandirian energi rumah sakit saat terjadi pemadaman listrik berkepanjangan.

"RSAL Dr. Mintoharjo berhasil membangun benteng pertahanan fisik dan operasional yang tangguh di internal fasilitasnya. Namun, keberlanjutan layanan kesehatan darurat saat banjir besar Jakarta sangat bergantung pada kelancaran akses transportasi luar dan koordinasi komunikasi yang cepat dengan lembaga sipil seperti BPBD dan Basarnas."

Wilopo, Universitas Pertahanan Indonesia

Profil Penulis

Wilopo adalah akademisi dan peneliti di bidang manajemen bencana dan ketahanan infrastruktur pertahanan dari Universitas Pertahanan Indonesia. Bersama tim peneliti Citra Ayu Ekywati, Syamsul Maarif, dan Yuli Subiakto, fokus penelitiannya meliputi mitigasi bencana wilayah pesisir, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan militer, serta integrasi sipil-militer dalam operasi kemanusiaan dan penanggulangan krisis.

Informasi Sumber Penelitian

Judul Artikel: The Role of RSAL Mintoharjo in Flood Management in Jakarta
Nama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/mudima.v6i8.114

Posting Komentar

0 Komentar