Santiago City, Filipina — Cara guru menyampaikan cerita di kelas ternyata memiliki peran penting dalam membantu siswa sekolah dasar memahami bacaan. Studi yang dilakukan Jobelle Martos Santiago dan Celso C. Dumalig dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina, menggambarkan berbagai strategi storytelling yang digunakan guru kelas 2 untuk mendukung kemampuan membaca siswa. Studi yang diterbitkan pada 2026 ini menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan ekspresi suara, pertanyaan interaktif, gambar, penjelasan kosakata, dan pertanyaan pemahaman selama kegiatan bercerita.
Kemampuan memahami bacaan menjadi salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar. Pada kelas 2, anak mulai bergerak dari tahap belajar membaca menuju membaca untuk memahami informasi. Pada tahap ini, kemampuan mengenali gagasan utama, memahami urutan peristiwa, memprediksi kejadian berikutnya, dan menarik kesimpulan mulai semakin dibutuhkan. Namun, kemampuan membaca kata dengan benar belum selalu berarti seorang anak mampu memahami isi teks yang dibacanya. Perkembangan bahasa lisan, kosakata, kemampuan menyimak, dan pemahaman terhadap alur cerita ikut menentukan keberhasilan memahami bacaan.
Santiago dan Dumalig melihat storytelling sebagai salah satu pendekatan yang dapat menjembatani kemampuan bahasa lisan dengan pemahaman membaca. Cerita yang disampaikan secara lisan dapat membuat pembelajaran lebih menarik sekaligus memberikan pengalaman bahasa yang lebih bermakna bagi anak. Guru tidak hanya membacakan teks, tetapi dapat menggunakan intonasi, ekspresi wajah, gerakan tubuh, gambar, pertanyaan, dan percakapan untuk membantu siswa mengikuti alur cerita.
Studi tersebut melibatkan 36 guru kelas 2 di sebuah sekolah dasar yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi dan melalui proses uji coba untuk memastikan kelayakannya. Peneliti kemudian mengolah data menggunakan frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata tertimbang untuk menggambarkan strategi storytelling yang digunakan dalam pembelajaran membaca.
Interaksi selama storytelling juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Guru paling sering mengajukan pertanyaan kepada siswa selama cerita berlangsung, dengan nilai rata-rata 3,78. Guru juga mendorong siswa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya dengan nilai 3,61 dan menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi siswa dengan nilai 3,53. Namun, kegiatan yang menuntut siswa menghasilkan respons sendiri, seperti menceritakan kembali bagian cerita, lebih jarang dilakukan. Strategi retelling memperoleh nilai 3,19 dan masuk kategori “Often Used”.
Pola yang sama terlihat pada penggunaan media visual. Guru paling sering menunjukkan buku cerita atau ilustrasi kepada siswa, dengan nilai 3,89. Penggunaan gambar memperoleh nilai 3,83, sementara alat bantu visual lainnya mencapai 3,75. Sebaliknya, penggunaan boneka, flashcard, properti, serta multimedia seperti video atau slide dilakukan lebih jarang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gambar dan buku cerita yang mudah digunakan masih menjadi pilihan praktis dalam mendukung storytelling di kelas.
Implikasinya cukup luas bagi pembelajaran literasi di sekolah dasar. Guru dapat mempertahankan penggunaan ekspresi, gambar, dan pertanyaan sebagai bagian dari storytelling, tetapi secara bertahap memberikan ruang lebih besar kepada siswa untuk menceritakan kembali isi cerita. Peneliti juga merekomendasikan penggunaan bantuan visual seperti peta cerita dan urutan peristiwa agar anak lebih mudah menyusun kembali informasi yang telah mereka dengarkan.
Jobelle Martos Santiago dan Celso C. Dumalig merupakan penulis dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina. Artikel mereka berfokus pada pendekatan pedagogis dalam oral narratives dan penggunaan strategi storytelling untuk mendukung pemahaman membaca siswa kelas 2.
Sumber penelitian: “Pedagogical Approaches in Oral Narratives: A Descriptive Study of Storytelling Strategies Used To Support Grade 2 Reading Comprehension”, International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, Volume 4 Nomor 8, 2026, halaman 2023–2038.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.118
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research
0 Komentar