Strategi Mendongeng Guru Kelas 2 Bantu Perkuat Pemahaman Membaca Siswa

Ilustrasi by AI

Santiago City, Filipina — Cara guru menyampaikan cerita di kelas ternyata memiliki peran penting dalam membantu siswa sekolah dasar memahami bacaan. Studi yang dilakukan Jobelle Martos Santiago dan Celso C. Dumalig dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina, menggambarkan berbagai strategi storytelling yang digunakan guru kelas 2 untuk mendukung kemampuan membaca siswa. Studi yang diterbitkan pada 2026 ini menunjukkan bahwa guru secara konsisten menggunakan ekspresi suara, pertanyaan interaktif, gambar, penjelasan kosakata, dan pertanyaan pemahaman selama kegiatan bercerita.

Kemampuan memahami bacaan menjadi salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar. Pada kelas 2, anak mulai bergerak dari tahap belajar membaca menuju membaca untuk memahami informasi. Pada tahap ini, kemampuan mengenali gagasan utama, memahami urutan peristiwa, memprediksi kejadian berikutnya, dan menarik kesimpulan mulai semakin dibutuhkan. Namun, kemampuan membaca kata dengan benar belum selalu berarti seorang anak mampu memahami isi teks yang dibacanya. Perkembangan bahasa lisan, kosakata, kemampuan menyimak, dan pemahaman terhadap alur cerita ikut menentukan keberhasilan memahami bacaan.

Santiago dan Dumalig melihat storytelling sebagai salah satu pendekatan yang dapat menjembatani kemampuan bahasa lisan dengan pemahaman membaca. Cerita yang disampaikan secara lisan dapat membuat pembelajaran lebih menarik sekaligus memberikan pengalaman bahasa yang lebih bermakna bagi anak. Guru tidak hanya membacakan teks, tetapi dapat menggunakan intonasi, ekspresi wajah, gerakan tubuh, gambar, pertanyaan, dan percakapan untuk membantu siswa mengikuti alur cerita.

Studi tersebut melibatkan 36 guru kelas 2 di sebuah sekolah dasar yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah dimodifikasi dan melalui proses uji coba untuk memastikan kelayakannya. Peneliti kemudian mengolah data menggunakan frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata tertimbang untuk menggambarkan strategi storytelling yang digunakan dalam pembelajaran membaca.

Profil responden menunjukkan bahwa 30 dari 36 guru atau 83,33 persen merupakan perempuan, sedangkan enam lainnya atau 16,67 persen merupakan laki-laki. Dari sisi usia, kelompok terbesar berada pada rentang 31–35 tahun sebanyak sembilan orang. Sementara itu, sebagian besar guru memiliki pengalaman mengajar antara 1 hingga 10 tahun. Data pendidikan juga menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah menempuh pendidikan pascasarjana, baik dalam bentuk satuan kredit maupun gelar magister dan doktor.
Salah satu temuan paling menonjol adalah penggunaan storytelling ekspresif. Strategi ini memperoleh nilai rata-rata tertimbang 3,63 dan dikategorikan sebagai “Always Used”. Kontak mata dengan siswa menjadi praktik yang paling sering dilakukan dengan nilai 3,81, disusul penggunaan ekspresi wajah sebesar 3,72. Guru juga menggunakan modulasi suara dan gerakan tubuh untuk membuat cerita lebih menarik. Pergantian suara untuk menggambarkan karakter berbeda menjadi strategi yang paling rendah penggunaannya dalam kelompok ini, dengan nilai 3,39.

Interaksi selama storytelling juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Guru paling sering mengajukan pertanyaan kepada siswa selama cerita berlangsung, dengan nilai rata-rata 3,78. Guru juga mendorong siswa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya dengan nilai 3,61 dan menghubungkan cerita dengan pengalaman pribadi siswa dengan nilai 3,53. Namun, kegiatan yang menuntut siswa menghasilkan respons sendiri, seperti menceritakan kembali bagian cerita, lebih jarang dilakukan. Strategi retelling memperoleh nilai 3,19 dan masuk kategori “Often Used”.

Pola yang sama terlihat pada penggunaan media visual. Guru paling sering menunjukkan buku cerita atau ilustrasi kepada siswa, dengan nilai 3,89. Penggunaan gambar memperoleh nilai 3,83, sementara alat bantu visual lainnya mencapai 3,75. Sebaliknya, penggunaan boneka, flashcard, properti, serta multimedia seperti video atau slide dilakukan lebih jarang. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gambar dan buku cerita yang mudah digunakan masih menjadi pilihan praktis dalam mendukung storytelling di kelas.

Strategi yang secara langsung mendukung pemahaman bacaan juga digunakan secara konsisten. Guru paling sering menjelaskan kata-kata yang belum dikenal siswa, dengan nilai rata-rata 3,86. Pertanyaan pemahaman setelah cerita memperoleh nilai 3,81, sedangkan membantu siswa mengenali tokoh, latar, dan peristiwa dalam cerita memperoleh nilai 3,78. Namun, aktivitas yang meminta siswa merangkum atau menceritakan kembali cerita dengan kata-kata sendiri masih relatif lebih jarang dilakukan, masing-masing memperoleh nilai 3,31 dan 3,17.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa praktik storytelling di kelas 2 masih lebih banyak dipandu guru. Guru aktif memeriksa pemahaman melalui pertanyaan, menjelaskan kosakata, menggunakan gambar, serta membantu siswa mengenali unsur-unsur cerita. Tantangannya adalah memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk menghasilkan respons secara mandiri melalui kegiatan menceritakan kembali dan merangkum cerita. Menurut kesimpulan Santiago dan Dumalig, penguatan aktivitas storytelling yang lebih berpusat pada siswa diperlukan agar kemampuan pemahaman yang lebih tinggi dapat berkembang.

Implikasinya cukup luas bagi pembelajaran literasi di sekolah dasar. Guru dapat mempertahankan penggunaan ekspresi, gambar, dan pertanyaan sebagai bagian dari storytelling, tetapi secara bertahap memberikan ruang lebih besar kepada siswa untuk menceritakan kembali isi cerita. Peneliti juga merekomendasikan penggunaan bantuan visual seperti peta cerita dan urutan peristiwa agar anak lebih mudah menyusun kembali informasi yang telah mereka dengarkan.

Jobelle Martos Santiago dan Celso C. Dumalig merupakan penulis dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina. Artikel mereka berfokus pada pendekatan pedagogis dalam oral narratives dan penggunaan strategi storytelling untuk mendukung pemahaman membaca siswa kelas 2.

Sumber penelitian: “Pedagogical Approaches in Oral Narratives: A Descriptive Study of Storytelling Strategies Used To Support Grade 2 Reading Comprehension”, International Journal of Scientific Multidisciplinary Research, Volume 4 Nomor 8, 2026, halaman 2023–2038.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.118

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research

Posting Komentar

0 Komentar