Strategi Ketahanan Transportasi Kota Kendari Menjadi Model Rujukan di Forum Internasional UCLG ASPAC

Ilustrasi by AI

Tim peneliti dari Jurusan Teknik Sipil Universitas Halu Oleo yang dipimpin oleh Susanti Djalante memaparkan pengalaman transformasi mobilitas perkotaan Kota Kendari dalam forum internasional UCLG ASPAC pada 5 Mei 2026. Pemaparan ini menjadi rujukan strategis bagi pemerintah daerah di kawasan Asia-Pasifik dalam merancang sistem transportasi yang tahan terhadap tekanan urbanisasi dan perubahan iklim.

Pertumbuhan populasi yang pesat dan dinamika iklim telah memicu tekanan berat pada sistem mobilitas perkotaan di Indonesia. Tantangan ini meliputi kemacetan kronis, lemahnya integrasi antarmoda, peningkatan emisi, serta kerentanan infrastruktur terhadap banjir dan cuaca ekstrim.

Kegiatan berbagi pengetahuan ini dikemas melalui presentasi lisan dan diskusi berbasis kasus dalam forum regional UCLG ASPAC. Materi yang disampaikan menerjemahkan inisiatif infrastruktur riil di Kota Kendari ke dalam kerangka kerja lima prinsip ketahanan perkotaan: konektivitas, redundansi, kekokohan, kecepatan tanggap, dan adaptabilitas.

Berdasarkan pemaparan tersebut, berikut adalah temuan dan inisiatif utama ketahanan transportasi di Kota Kendari:

  • Pembangunan Jalan Lingkar Dalam (Inner Ring Road) dan Jembatan Teluk Kendari memperkuat konektivitas wilayah serta menciptakan jalur alternatif untuk meredam risiko gangguan lalu lintas.
  • Peningkatan infrastruktur di kawasan Sungai Kadia berfokus pada penguatan perkerasan jalan dan pelebaran fasilitas pejalan kaki yang lebih aman dan tahan lama.
  • Manajemen lalu lintas di kawasan Monumen MTQ menerapkan sistem satu arah, pemantauan CCTV, dan penegakan hukum elektronik (ETLE) untuk mendongkrak kecepatan tanggap darurat.
  • Layanan angkutan massal Translulo Kendari menyediakan jaringan transportasi publik terintegrasi yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan kota.
  • Koordinasi kelembagaan yang kuat serta ketersediaan pendanaan operasional jangka panjang terbukti menjadi kunci keberhasilan adopsi teknologi transportasi cerdas.

Menurut Susanti Djalante dan tim dari Universitas Halu Oleo, ketahanan perkotaan tidak dibangun melalui proyek besar tunggal, melainkan akumulasi investasi moderat yang saling melengkapi. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengambil kebijakan bahwa sinkronisasi antarinstansi—seperti dinas perhubungan, kepolisian, dan otoritas pelabuhan—sering kali menjadi faktor penentu utama di samping desain teknis rekayasa sipil. Model ini menawarkan solusi praktis agar kota-kota lain dapat mengevaluasi kesiapan finansial dan kelembagaan sebelum mengimplementasikan teknologi transportasi modern.

Profil Penulis

  • Susanti Djalante bersama tim (Tryantini Sundi Putri, Nini Hasriyani, Ranno Marlany, Adris Ade Putra, Ridwan Syah Nuhun, dan Januar Saleh Kaimuddin) – Dosen dan Peneliti di Bidang Transportasi dan Keberlanjutan, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, Indonesia.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Transportation Toward Sustainable Resilience City: Knowledge-Sharing on Kendari City's Urban Mobility Experience at the UCLG Aspac Forum
  • Nama Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5, No. 8
  • Tahun Publikasi: Agustus 2026
  • DOI/URL: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i8.63

Posting Komentar

0 Komentar