PADANG — Kualitas citra radiografi menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung ketepatan diagnosis penyakit. Citra yang memiliki kontras dan ketajaman baik dapat membantu tenaga medis mengamati struktur tubuh secara lebih jelas. Sebaliknya, citra yang dipengaruhi oleh radiasi hambur dapat terlihat kurang tajam sehingga berpotensi menyulitkan proses pemeriksaan dan meningkatkan kemungkinan pengulangan foto.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh tim dari Universitas Baiturrahmah. Kegiatan ini menyosialisasikan buku saku hasil penelitian kepada radiografer mengenai penggunaan grid ratio 8:1 dan 6:1 pada phantom kranium untuk memperoleh kualitas citra radiografi yang baik. Sosialisasi dilaksanakan pada 17 September 2024 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang.
Kegiatan tersebut dilakukan oleh Nerifa Dewilza, Cicillia Artitin, Oktavia Puspita Sari, Sagita Yudha, Santa Mareta, Livia Ade Nansih, M. Redho Agustri, dan Berlian Eka Putri. Melalui kegiatan ini, para radiografer mendapatkan penjelasan mengenai fungsi grid, perbedaan grid ratio 8:1 dan 6:1, serta pertimbangan yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan grid dalam pemeriksaan radiografi.
Radiologi merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena menghasilkan citra melalui prosedur sinar-X yang digunakan untuk membantu diagnosis. Namun, kualitas citra radiografi tidak hanya ditentukan oleh perangkat sinar-X, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksposi, posisi objek, jenis pemeriksaan, ketebalan bagian tubuh, serta penggunaan alat bantu seperti grid.
Grid merupakan alat yang ditempatkan di depan film atau detektor radiografi. Alat ini berfungsi mengurangi radiasi hambur yang dapat mencapai film atau detektor. Radiasi hambur merupakan radiasi yang menyebar dan tidak memberikan informasi utama mengenai struktur tubuh yang sedang diperiksa. Jika radiasi hambur terlalu banyak mencapai detektor, kontras citra dapat menurun dan detail objek menjadi kurang jelas.
Dengan mengurangi radiasi hambur, grid membantu meneruskan radiasi primer yang diperlukan untuk membentuk citra. Hasilnya, citra radiografi diharapkan memiliki kontras yang lebih baik, struktur objek terlihat lebih jelas, dan kualitas gambar dapat mendukung proses diagnosis.
Salah satu karakteristik utama grid adalah grid ratio. Grid ratio merupakan perbandingan antara tinggi lempengan grid dan jarak antarlempengan atau bahan penyekatnya. Semakin tinggi grid ratio, semakin besar kemampuan grid dalam menyerap radiasi hambur. Beberapa jenis grid ratio yang umum digunakan dalam radiografi antara lain 5:1, 6:1, 8:1, 10:1, dan 12:1.
Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, tim secara khusus membahas grid ratio 8:1 dan 6:1 karena kedua jenis grid tersebut banyak ditemukan dan digunakan di berbagai rumah sakit. Berdasarkan studi pendahuluan dan observasi yang dilakukan sebelumnya, grid dengan rasio 8:1 dan 6:1 merupakan jenis yang cukup umum tersedia di fasilitas pelayanan radiologi.
Grid ratio 8:1 memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap radiasi hambur dibandingkan grid ratio 6:1. Kemampuan tersebut dapat menghasilkan citra dengan kontras yang lebih baik, terutama pada pemeriksaan bagian tubuh yang lebih tebal atau kondisi pasien yang menghasilkan radiasi hambur dalam jumlah besar.
Namun, penggunaan grid ratio 8:1 juga memiliki sejumlah konsekuensi. Grid dengan rasio lebih tinggi membutuhkan pengaturan teknis yang lebih tepat dan dapat meningkatkan kebutuhan dosis radiasi. Selain itu, grid ratio 8:1 lebih sensitif terhadap kesalahan posisi. Apabila posisi grid tidak tepat atau tidak sejajar dengan berkas sinar-X, kualitas citra dapat menurun dan pemeriksaan berpotensi harus diulang.
Sementara itu, grid ratio 6:1 memiliki kemampuan penyerapan radiasi hambur yang lebih rendah dibandingkan grid ratio 8:1. Meskipun demikian, grid ratio 6:1 masih dapat menghasilkan kualitas citra yang cukup baik dalam kondisi pemeriksaan tertentu. Penggunaannya juga dapat menjadi pilihan ketika pengurangan dosis radiasi menjadi pertimbangan penting.
Karena itu, pemilihan grid tidak dapat hanya didasarkan pada anggapan bahwa grid dengan rasio lebih tinggi selalu menjadi pilihan terbaik. Radiografer perlu menyesuaikan grid dengan kebutuhan pemeriksaan, ketebalan objek, kondisi pasien, jumlah radiasi hambur, serta risiko peningkatan dosis radiasi.
Dalam pelaksanaan kegiatan, pemateri memberikan edukasi menggunakan buku saku hasil penelitian. Para radiografer diperlihatkan contoh citra yang dihasilkan dengan grid ratio 8:1 dan 6:1 pada phantom kranium. Contoh tersebut digunakan untuk menjelaskan perbedaan kualitas citra, khususnya dari sisi densitas, kontras, dan kemampuan menampilkan detail objek.
Sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi bersama radiografer di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang. Para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan mengenai penggunaan grid dalam praktik pemeriksaan sehari-hari.
Salah satu pembahasan penting dalam diskusi adalah indikator bahwa grid telah digunakan sesuai kebutuhan pemeriksaan. Menurut penjelasan dalam kegiatan tersebut, penggunaan grid dapat dikatakan sesuai apabila citra yang dihasilkan memiliki kontras baik, tidak membutuhkan peningkatan dosis secara berlebihan, dan tidak menyebabkan pengulangan foto.
Radiografer juga memperoleh penjelasan bahwa grid ratio 8:1 lebih direkomendasikan untuk pasien dewasa atau bagian tubuh yang lebih tebal. Kondisi tersebut cenderung menghasilkan radiasi hambur lebih banyak sehingga membutuhkan grid dengan kemampuan penyerapan yang lebih tinggi. Sebaliknya, grid ratio 6:1 masih dapat dipertimbangkan pada kondisi pemeriksaan yang tidak menghasilkan radiasi hambur terlalu besar.
Buku saku hasil penelitian yang disosialisasikan juga menjelaskan bahwa penggunaan grid ratio 8:1 pada phantom kranium menghasilkan peningkatan nilai densitas radiograf. Hal tersebut berkaitan dengan kemampuan grid ratio 8:1 dalam menyerap radiasi hambur dengan lebih baik. Sementara itu, nilai densitas radiograf pada penggunaan grid ratio 6:1 mengalami penurunan karena kemampuan penyerapan radiasi hamburnya lebih rendah.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa radiografer memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai perbedaan grid ratio 8:1 dan 6:1. Para peserta juga mendapatkan referensi tambahan mengenai cara memilih grid yang sesuai untuk menghasilkan kualitas citra yang optimal.
Peningkatan pengetahuan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pelayanan radiologi. Radiografer yang memahami karakteristik setiap grid dapat melakukan pemilihan alat secara lebih tepat, mengurangi risiko citra yang kurang berkualitas, dan menekan kemungkinan pengulangan pemeriksaan. Penggunaan grid yang tepat juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara kualitas citra dan keselamatan pasien.
Meskipun grid ratio 8:1 dapat menghasilkan kontras yang lebih baik, penggunaannya tetap harus dilakukan secara hati-hati. Dosis radiasi, ketepatan posisi, dan kebutuhan klinis harus menjadi pertimbangan utama. Penggunaan grid yang tidak sesuai justru dapat menimbulkan masalah baru, seperti peningkatan dosis radiasi, kesalahan citra, atau pengulangan pemeriksaan.
Kegiatan pengabdian ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Melalui penyebaran hasil penelitian dalam bentuk buku saku, informasi teknis yang sebelumnya hanya tersedia dalam laporan penelitian dapat lebih mudah dipahami dan digunakan oleh radiografer dalam kegiatan pelayanan.
Secara keseluruhan, sosialisasi buku saku mengenai penggunaan grid ratio 8:1 dan 6:1 memberikan manfaat bagi radiografer di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang. Kegiatan ini memperkuat pemahaman mengenai fungsi grid, perbedaan kemampuan penyerapan radiasi hambur, serta pentingnya memilih grid berdasarkan kebutuhan pemeriksaan.
Pemilihan grid yang tepat diharapkan dapat membantu menghasilkan citra radiografi dengan kualitas lebih baik, mendukung ketepatan diagnosis, mengurangi pengulangan foto, dan menjaga penggunaan dosis radiasi agar tetap sesuai kebutuhan. Dengan demikian, hasil penelitian tidak hanya menjadi referensi akademik, tetapi juga dapat diterapkan secara praktis dalam peningkatan mutu pelayanan radiologi.
Profil Penulis
Nerifa Dewilza, Cicillia Artitin, Oktavia Puspita Sari, Sagita Yudha, Santa Mareta, Livia Ade Nansih, M. Redho Agustri, dan Berlian Eka Putri merupakan peneliti dari Universitas Baiturrahmah. Tim tersebut melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan pemahaman radiografer mengenai penggunaan grid ratio dalam pemeriksaan radiografi kranium.
Sumber Artikel
Judul artikel: Socialization of the Research Results Pocket Book to Radiographers on the Use of Grid Ratio 8:1 and 6:1 on Cranium Phantoms to Obtain Good Image Quality in the Radiology Installation of Ibnu Sina Hospital Padang
Penulis: Nerifa Dewilza, Cicillia Artitin, Oktavia Puspita Sari, Sagita Yudha, Santa Mareta, Livia Ade Nansih, M. Redho Agustri, dan Berlian Eka Putri
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Volume 5 Nomor 4, Agustus 2026, halaman 401–408
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i4.12
Link jurnal: https://journaljpmf.my.id/index.php/jpmf
0 Komentar