QUANZHOU — Evaluasi terhadap sepuluh silabus mata kuliah kaligrafi umum untuk calon guru di perguruan tinggi menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pendidikan estetika dan bentuk tugas serta kriteria penilaian yang ditetapkan. Temuan penting ini diungkapkan dalam penelitian ilmiah terbaru yang dilakukan oleh Zhao Sihan dari Quanzhou Normal University pada tahun 2026. Riset dokumen kurikulum ini menjadi acuan penting bagi lembaga pendidikan tenaga kependidikan dalam memperjelas penataan silabus agar keterampilan menulis, apresiasi estetika, pemahaman budaya, dan aplikasi pengajaran dapat terukur secara seimbang.
Secara latar belakang, kebijakan pendidikan sekolah dasar dan menengah menuntut guru tidak hanya mahir menulis di papan tulis atau mengoreksi tugas, tetapi juga mampu mengorganisasi kegiatan apresiasi, menjelaskan konteks budaya, dan membimbing peserta didik. Pedoman pendidikan kaligrafi dan rencana aksi pendidikan estetika menegaskan pentingnya mengintegrasikan persepsi estetika dan literasi budaya ke dalam mata kuliah calon guru. Namun, dalam praktik perancangan dokumen kurikulum, pengelola program studi sering kali kesulitan menerjemahkan tujuan akademis yang luas seperti meningkatkan kemampuan estetika menjadi bentuk tugas pembelajaran dan instrumen penilaian yang dapat diobservasi secara nyata.
Metodologi penelitian ini menggunakan analisis isi terarah terhadap sepuluh silabus mata kuliah kaligrafi untuk calon guru non-jurusan kaligrafi yang diunduh dari situs resmi perguruan tinggi negeri. Peneliti mengodekan empat dimensi analisis yang mencakup keterampilan menulis, interpretasi estetika, pemahaman budaya, dan aplikasi pengajaran ke dalam empat komponen kurikulum yaitu tujuan, materi, tugas, dan penilaian, yang menghasilkan 160 keputusan pengodean. Keterkaitan antar komponen dievaluasi untuk melihat sejauh mana tujuan mata kuliah didukung oleh tugas pembelajaran dan kriteria penilaian yang spesifik.
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa dimensi keterampilan menulis menjadi satu-satunya fokus yang konsisten dan tereksplisitkan dalam tujuan, materi, tugas, dan penilaian di hampir seluruh silabus. Sebaliknya, meski sembilan dari sepuluh silabus mencantumkan tujuan perluasan seperti apresiasi estetika, pemahaman budaya, atau aplikasi pengajaran, penjelasannya melemah pada tahap tugas dan penilaian. Hanya satu silabus yang menyatakan tujuan interpretasi estetika secara eksplisit, dan tidak ada satu pun silabus yang menyediakan tugas atau instrumen penilaian eksplisit untuk interpretasi estetika maupun pemahaman budaya. Selain itu, tidak ditemukan silabus yang memuat tugas perancangan pembelajaran kaligrafi secara utuh atau rubrik penilaian khusus untuk aplikasi pengajaran.
Implikasi dan dampak dari penelitian ini sangat penting bagi perbaikan kurikulum di perguruan tinggi pencetak tenaga pendidik. Pengembang kurikulum disarankan untuk melengkapi silabus dengan tugas operasional yang jelas, seperti meminta mahasiswa menyusun analisis karya singkat atau merancang kartu microteaching untuk tingkat sekolah tertentu. Penataan kriteria penilaian yang rinci akan membantu memastikan bahwa calon guru tidak hanya terlatih secara teknis dalam menulis, tetapi juga siap mengajar dan membimbing siswa dalam mengapresiasi nilai-nilai estetika serta budaya kaligrafi secara efektif.
Penulis: Zhao Sihan (Quanzhou Normal University)
Sumber Penelitian: Preparation for Aesthetic Education in Preservice-Teacher Calligraphy Courses: A Content Analysis of Objectives, Content, Tasks, and Assessment in Ten Publicly Available Syllabi
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026
0 Komentar