Sepuluh Kelompok, Sepuluh Fasilitator: Evaluasi Proses Lokakarya Seni yang Difasilitasi Bersama oleh Dosen dan Siswa di Sebuah Sekolah Dasar di Jayapura, Papua

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jayapura - Ketersediaan Alat dan Contoh Fisik Lebih Menentukan Keberhasilan Workshop Seni Anak di Papua Dibandingkan Teori. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Tindia Febriyati, Febiola Karolina Winerungan, Daniel Sande Bona, Yudhi Abetnego Trianto Paa, dan Monika Bolle dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana kegiatan pengabdian masyarakat sehari yang melibatkan 39 siswa sekolah dasar dapat berjalan melalui model fasilitasi berdampingan antara dosen dan mahasiswa.

Latar Belakang dan Relevansi

Pemanfaatan sampah kertas dan koran bekas dalam pendidikan seni sekolah dasar merupakan langkah nyata untuk menggabungkan kreativitas dengan kepedulian lingkungan. Di daerah dengan keterbatasan fasilitas seperti Papua, program pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi sering menjadi tumpuan edukasi kreatif. Namun, banyak program lapangan mengalami kendala operasional bahkan sebelum proses belajar-mengajar dimulai. Laporan akademik umumnya hanya menyimpulkan bahwa acara berjalan lancar tanpa membedah kendala teknis di atas meja kerja siswa. Oleh karena itu, evaluasi proses diperlukan untuk mengukur kesesuaian perencanaan, kualitas penyampaian, serta hambatan nyata yang dihadapi pendamping saat mendampingi anak-anak melipat, memotong, dan menempel bahan daur ulang.

Metodologi Penelitian Sederhana
Untuk memahami dinamika penyampaian di kelas, tim peneliti dari Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua merancang workshop seni daur ulang yang membagi 39 siswa ke dalam 10 kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari empat anak dan didampingi oleh satu orang fasilitator. Sepuluh fasilitator tersebut terdiri dari tujuh dosen dan tiga mahasiswa perguruan tinggi seni tersebut. Selama kegiatan berlangsung, para peneliti mengumpulkan data empiris melalui lima instrumen lapangan:

  • Catatan lapangan kelompok untuk mencatat waktu mulai anak bekerja, hambatan teknis, hingga kutipan percakapan spontan.
  • Skala efikasi diri yang diisi fasilitator sebelum dan sesudah acara untuk mengukur tingkat kepercayaan diri mereka.
  • Jurnal reflektif terbuka tempat fasilitator menuliskan peristiwa tak terduga dan hal yang perlu diperbaiki.
  • Rubrik penilaian karya yang dinilai secara independen oleh dua penilai.
  • Dokumentasi foto sebanyak 286 foto kegiatan.
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelancaran anak-anak dalam membuat karya seni daur ulang tidak ditentukan oleh penguasaan materi seni fasilitator, melainkan oleh kesiapan alat dan bahan fisik. Berikut adalah poin-poin temuan utama penelitian tersebut:
  • Hambatan Bersifat Operasional: Enam dari sepuluh fasilitator menegaskan bahwa masalah utama di meja kerja adalah ketersediaan contoh karya fisik yang bisa dipegang anak serta kondisi alat yang kurang siap, seperti gunting yang tumpul atau wadah lem yang sukar dibuka.
  • Anak-Anak Cepat Beradaptasi: Setelah sesi dibuka, anak-anak hanya membutuhkan waktu median lima menit (berkisar antara 4 hingga 8 menit) untuk mulai menempelkan bahan ke kertas gambar. Sebanyak 16 dari 19 siswa kelas tinggi yang tercatat berhasil menyelesaikan karya mereka.
  • Munculnya Kerjasama Spontan: Keterbatasan jumlah gunting tidak memicu keributan. Sebaliknya, anak-anak secara spontan meminta izin sebelum meminjam gunting teman dan saling mengingatkan agar menghemat penggunaan lem.
  • Perbedaan Peran Dosen dan Mahasiswa: Mahasiswa yang menjadi fasilitator sempat merasa ragu apakah arahan yang mereka berikan sudah benar atau belum. Sementara itu, para dosen lebih fokus pada cara mengelola konsentrasi anak-anak di kelompoknya.
  • Efektivitas Instrumen Evaluasi: Skala angka efikasi diri konvensional tidak menunjukkan perubahan nilai sama sekali. Sebaliknya, jurnal reflektif tulisan tangan berhasil mengungkap perbaikan operasional yang sangat mendalam dan praktis.
  • Limpahan Peserta di Luar Rencana: Walaupun pihak sekolah awalnya mengajukan 49 siswa khusus kelas IV hingga VI, kenyataannya 20 dari 39 anak yang hadir berasal dari kelas I hingga III.
Implikasi dan Dampak Nyata
Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah, serta dinas pendidikan yang ingin mengadakan pelatihan atau pengabdian masyarakat di sekolah dasar daerah pelosok. Panitia penyelenggara harus memberikan perhatian ekstra pada persiapan material fisik sama besarnya dengan persiapan materi presentasi. Menampilkan video tutorial di depan kelas tidak cukup; anak-anak membutuhkan satu contoh karya jadi yang nyata di atas meja kelompok mereka agar bisa disentuh dan diamati langsung. Selain itu, keterlibatan mahasiswa sebagai pendamping bersama dosen terbukti sangat membantu rasio pendampingan anak di kelas. Namun, mahasiswa perlu mendapatkan pembekalan singkat sebelum acara untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Penyelenggara acara di sekolah desa juga harus selalu menyiapkan lembar pengamatan khusus untuk anak-anak kelas rendah (kelas 1-3), karena mereka hampir selalu ikut bergabung ketika ada kegiatan seni yang menarik di sekolah mereka.

Profil Penulis
Tindia Febriyati, M.Sn. adalah dosen dan peneliti di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua yang berlokasi di Kota Jayapura, Papua. Beliau memiliki kepakaran di bidang Desain Komunikasi Visual, pendidikan seni anak, dan metodologi pengabdian masyarakat berbasis seni budaya. Riset-risetnya berfokus pada pengembangan media edukasi visual, pemanfaatan limbah daur ulang untuk pembelajaran seni di sekolah dasar, serta model pendampingan masyarakat di wilayah Papua.

Sumber Penelitian
Tindia Febriyati, Febiola Karolina Winerungan, Daniel Sande Bona, Yudhi Abetnego Trianto Paa, dan Monika Bolle. Ten Groups, Ten Facilitators: Process Evaluation of a Lecturer-Student Co-Facilitated Art Workshop at an Elementary School in Jayapura, Papua. Asian Journal of Community Services (AJCS). Vol. 5, No. 8 (Halaman 623–632)
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i8.63
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

Posting Komentar

0 Komentar