Risiko Stunting Balita Tanpa ASI Eksklusif dan Riwayat Infeksi Naik Lebih Dari Empat Kali Lipat


Ilustrasi by AI 

Pemberian ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi terbukti secara signifikan memengaruhi kejadian stunting pada balita di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari Poltekkes Kemenkes Kupang (Nursusilawaty dan Serlyansie V. Boimau) serta Poltekkes Kemenkes Denpasar (Sri Rahayu dan I Komang Lindayani) pada periode Februari hingga Mei 2026. Hasil analisis menguatkan bukti ilmiah bahwa kegagalan pemberian ASI eksklusif serta serangan infeksi berulang menjadi faktor risiko langsung yang memperbesar peluang anak mengalami gangguan pertumbuhan kronis.

Ancaman Pertumbuhan Kronis di Wilayah Urban Kupang

Stunting merupakan kondisi kegagalan tumbuh kembang balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Meskipun angka stunting nasional di Indonesia menunjukkan tren penurunan—dari 24,4 persen pada 2021 menjadi 19,8 persen pada 2024—Provinsi Nusa Tenggara Timur masih mencatatkan beban kasus yang relatif tinggi. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat prevalensi stunting NTT sebesar 37,9 persen dan Kota Kupang sebesar 19,2 persen.

Di tingkat lokal, data Puskesmas Oesapa menunjukkan angka stunting di Kelurahan Oesapa mencapai 23,1 persen pada tahun 2025. Kondisi ini diperburuk oleh cakupan ASI eksklusif yang hanya menyentuh angka 16,2 persen, serta tingginya riwayat penyakit infeksi seperti ISPA (batuk non-pneumonia sebesar 50,96 persen) dan diare (45,15 persen).

Ringkasan Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik case-control dengan teknik pencocokan (matching) berdasarkan usia dan jenis kelamin untuk menekan bias. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur serta penelusuran dokumen sekunder pada Buku KIA dan catatan Posyandu.

  • Jumlah Responden: Total 84 balita, terbagi seimbang menjadi 42 anak pada kelompok kasus (stunting) dan 42 anak pada kelompok kontrol (tidak stunting).
  • Karakteristik Responden: Tingkat pendidikan ibu didominasi tamatan SMA (36,9 persen), dengan status pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga (42,9 persen). Proporsi jenis kelamin balita seimbang (50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan) dengan kelompok umur terbanyak 36–47 bulan (35,7 persen).
  • Analisis Data: Pengolahan data menggunakan uji statistik Chi-square pada tingkat kepercayaan 95 persen ($p < 0,05$) untuk menentukan tingkat signifikansi dan nilai Odds Ratio (OR).

Temuan Utama Penelitian

Analisis bivariat mengungkapkan dua faktor utama yang berhubungan erat dengan angka kejadian stunting pada balita di Kelurahan Oesapa:

  • Dampak Ketiadaan ASI Eksklusif: Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan stunting ($p = 0,003$). Balita yang tidak menerima ASI eksklusif memiliki risiko 4,71 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang mendapat ASI eksklusif secara penuh selama 6 bulan pertama ($OR = 4,71$; 95% CI: 1,85–11,97).
  • Pengaruh Riwayat Penyakit Infeksi: Riwayat penyakit infeksi seperti diare dan ISPA terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian stunting ($p = 0,002$). Balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi berpeluang 4,50 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan anak tanpa riwayat infeksi ($OR = 4,50$; 95% CI: 1,82–11,10).
  • Gambaran Distribusi Data: Sebanyak 58,3 persen dari total responden tercatat menerima ASI eksklusif, dan 53,6 persen balita tidak memiliki riwayat penyakit infeksi. Namun, pada kelompok balita stunting, mayoritas (59,5 persen) tidak mendapat ASI eksklusif dan 64,3 persen memiliki riwayat penyakit infeksi berulang.

Implikasi Kebijakan dan Manfaat Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa intervensi stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pemberian makanan tambahan, tetapi harus memadukan promosi ASI eksklusif dan pencegahan penyakit infeksi. Air susu ibu mengandung zat kekebalan tubuh seperti Imunoglobulin A (IgA) dan laktoferin yang melindungi pencernaan bayi. Di sisi lain, penyakit infeksi berulang seperti diare menyebabkan hilangnya nutrisi, penurunan nafsu makan, dan gangguan penyerapan gizi pada usus.

Pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta puskesmas perlu memperkuat edukasi laktasi bagi ibu hamil, memberikan konseling menyusui, serta meningkatkan fasilitas sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk memutus rantai penularan infeksi pada anak.

Profil Peneliti

  • Nursusilawaty, S.ST., M.Kes. – Peneliti dan akademisi di Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Kupang. Berfokus pada bidang kesehatan ibu dan anak, laktasi, serta penanganan masalah gizi balita.
  • Serlyansie V. Boimau, S.ST., M.Kes. – Peneliti dan dosen di Poltekkes Kemenkes Kupang, ahli dalam bidang kebidanan komunitas dan kesehatan masyarakat desa.
  • Sri Rahayu, S.TR.Keb., M.Kes. – Peneliti dan akademisi di Poltekkes Kemenkes Denpasar, berfokus pada kajian tumbuh kembang anak dan kesehatan reproduksi.
  • I Komang Lindayani, S.Pd., S.Tr.Keb., M.Keb. – Dosen dan peneliti di Poltekkes Kemenkes Denpasar, memiliki kepakaran dalam epidemiologi kebidanan dan promosi kesehatan balita.

Informasi Sumber Riset

Judul Artikel Jurnal: The Relationship Between Exclusive Breastfeeding and a History of Infectious Diseases and the Occurrence of Stunting Among Toddlers in Oesapa Village, Kupang City, 2026
Nama Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/ijis.v5i8.58

Posting Komentar

0 Komentar