Pemberian ASI eksklusif dan riwayat penyakit infeksi terbukti secara signifikan memengaruhi kejadian stunting pada balita di Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur
Ancaman Pertumbuhan Kronis di Wilayah Urban Kupang
Stunting merupakan kondisi kegagalan tumbuh kembang balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan
Di tingkat lokal, data Puskesmas Oesapa menunjukkan angka stunting di Kelurahan Oesapa mencapai 23,1 persen pada tahun 2025
Ringkasan Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik case-control dengan teknik pencocokan (matching) berdasarkan usia dan jenis kelamin untuk menekan bias
- Jumlah Responden: Total 84 balita, terbagi seimbang menjadi 42 anak pada kelompok kasus (stunting) dan 42 anak pada kelompok kontrol (tidak stunting)
. - Karakteristik Responden: Tingkat pendidikan ibu didominasi tamatan SMA (36,9 persen), dengan status pekerjaan terbanyak sebagai ibu rumah tangga (42,9 persen)
. Proporsi jenis kelamin balita seimbang (50 persen laki-laki dan 50 persen perempuan) dengan kelompok umur terbanyak 36–47 bulan (35,7 persen) . - Analisis Data: Pengolahan data menggunakan uji statistik Chi-square pada tingkat kepercayaan 95 persen ($p < 0,05$) untuk menentukan tingkat signifikansi dan nilai Odds Ratio (OR)
.
Temuan Utama Penelitian
Analisis bivariat mengungkapkan dua faktor utama yang berhubungan erat dengan angka kejadian stunting pada balita di Kelurahan Oesapa
- Dampak Ketiadaan ASI Eksklusif: Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara pemberian ASI eksklusif dan stunting ($p = 0,003$)
. Balita yang tidak menerima ASI eksklusif memiliki risiko 4,71 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang mendapat ASI eksklusif secara penuh selama 6 bulan pertama ($OR = 4,71$; 95% CI: 1,85–11,97) . - Pengaruh Riwayat Penyakit Infeksi: Riwayat penyakit infeksi seperti diare dan ISPA terbukti berhubungan signifikan dengan kejadian stunting ($p = 0,002$)
. Balita yang memiliki riwayat penyakit infeksi berpeluang 4,50 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan anak tanpa riwayat infeksi ($OR = 4,50$; 95% CI: 1,82–11,10) . - Gambaran Distribusi Data: Sebanyak 58,3 persen dari total responden tercatat menerima ASI eksklusif, dan 53,6 persen balita tidak memiliki riwayat penyakit infeksi
. Namun, pada kelompok balita stunting, mayoritas (59,5 persen) tidak mendapat ASI eksklusif dan 64,3 persen memiliki riwayat penyakit infeksi berulang .
Implikasi Kebijakan dan Manfaat Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa intervensi stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui pemberian makanan tambahan, tetapi harus memadukan promosi ASI eksklusif dan pencegahan penyakit infeksi
Pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta puskesmas perlu memperkuat edukasi laktasi bagi ibu hamil, memberikan konseling menyusui, serta meningkatkan fasilitas sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk memutus rantai penularan infeksi pada anak
Profil Peneliti
- Nursusilawaty, S.ST., M.Kes. – Peneliti dan akademisi di Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Kupang. Berfokus pada bidang kesehatan ibu dan anak, laktasi, serta penanganan masalah gizi balita
. - Serlyansie V. Boimau, S.ST., M.Kes. – Peneliti dan dosen di Poltekkes Kemenkes Kupang, ahli dalam bidang kebidanan komunitas dan kesehatan masyarakat desa
. - Sri Rahayu, S.TR.Keb., M.Kes. – Peneliti dan akademisi di Poltekkes Kemenkes Denpasar, berfokus pada kajian tumbuh kembang anak dan kesehatan reproduksi
. - I Komang Lindayani, S.Pd., S.Tr.Keb., M.Keb. – Dosen dan peneliti di Poltekkes Kemenkes Denpasar, memiliki kepakaran dalam epidemiologi kebidanan dan promosi kesehatan balita
.
Informasi Sumber Riset
Judul Artikel Jurnal: The Relationship Between Exclusive Breastfeeding and a History of Infectious Diseases and the Occurrence of Stunting Among Toddlers in Oesapa Village, Kupang City, 2026Nama Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
DOI :
0 Komentar