Program Psikoedukasi Efektif Tekan Angka Pernikahan Dini pada Remaja di Wilayah Padat Penduduk

Ilustrasi by AI

Program psikoedukasi yang digagas oleh Alensi Alqomaria Yusafitri dan Hikmah Husniyah Farhanindya dari Universitas August 17, 1945 Surabaya terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman orang tua serta remaja untuk mencegah risiko pernikahan dini. Riset yang dipublikasikan pada Agustus 2026 ini sangat krusial mengingat tingginya kerentanan sosial, kasus putus sekolah, serta kurangnya pengawasan terhadap pergaulan remaja di lingkungan padat penduduk.

Latar Belakang Permasalahan

Fenomena pernikahan dini di Rukun Warga (RW) X, Desa PTM, dipicu oleh minimnya pemahaman kesehatan reproduksi, interaksi bebas tanpa batas antar lawan jenis, serta tekanan sosial akibat kehamilan tak direncanakan dan anak putus sekolah. Kondisi lingkungan yang permisif serta kesibukan orang tua mencari nafkah membuat pengawasan terhadap aktivitas sosial remaja menjadi kurang optimal.

Metode Pendekatan

Tim peneliti menerapkan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif melalui teknik observasi, wawancara, Focus Group Discussion (FGD), serta pengisian kuesioner. Intervensi ini melibatkan 15 remaja berusia 14–16 tahun dan 15 orang tua melalui sesi psikoedukasi tematik yang berfokus pada tugas perkembangan remaja, pola asuh positif, serta pelatihan teknik asertif guna menolak perilaku berisiko.

Temuan Utama Penelitian

  • Evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua dari skor rata-rata pre-test 5,53 menjadi 7,87 pada post-test atau meningkat sebesar 42,3%.
  • Aspek kognitif remaja meningkat sebesar 35,8% dalam pemahaman mengenai risiko pernikahan dini dan pengenalan karakteristik diri.
  • Aspek afektif remaja melonjak 52,8%, yang menandakan perubahan sikap kritis bahwa pernikahan dini bukanlah solusi atas masalah hidup.
  • Aspek konatif atau kecenderungan perilaku remaja meningkat 29,2%, mencerminkan kesiapan dalam membuat keputusan yang lebih matang dan bertanggung jawab.
  • Secara keseluruhan, skor rata-rata pemahaman remaja meningkat dari 49,33 menjadi 68,41 atau mengalami kenaikan sebesar 38,7%.

Implikasi dan Manfaat

Menurut Alensi Alqomaria Yusafitri dan Hikmah Husniyah Farhanindya, pencegahan pernikahan dini harus dilakukan secara berkesinambungan dengan melibatkan sinergi antara remaja, orang tua, dan lingkungan sosial. Pelibatan aktif keluarga dalam menerapkan pola asuh positif serta pembekalan keterampilan sosial terbukti mampu membangun kesiapan psikologis anak agar tidak menjadikan pernikahan sebagai pelarian dari masalah.

Profil Penulis

Alensi Alqomaria Yusafitri dan Hikmah Husniyah Farhanindya merupakan lulusan Pendidikan Profesi Psikolog dari Universitas August 17, 1945 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia, dengan fokus keahlian di bidang psikologi klinis, pendidikan, dan intervensi sosial masyarakat.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Psychoeducation to Prevent Early Marriage in Neighborhood Unit X, PTM Village, Community Service Center
  • Nama Jurnal: International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4, No. 8
  • Tahun Publikasi: Agustus 2026
  • DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i8.67

Posting Komentar

0 Komentar