Program MBG menjadi salah satu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan peningkatan pemenuhan gizi dan kualitas sumber daya manusia. Dalam pelaksanaannya di sekolah, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh tersedianya makanan, tetapi juga ketepatan waktu distribusi, penerimaan siswa terhadap menu, kecukupan porsi, serta koordinasi antara sekolah dan penyedia makanan.
Di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak, program tersebut telah berjalan sekitar satu tahun. Makanan dibagikan dari Senin hingga Jumat. Setiap hari, sekolah menerima sekitar 480 porsi makanan untuk siswa dan guru.
MBG Membantu Memenuhi Kebutuhan Makan Siswa
Penelitian tersebut melihat pelaksanaan MBG melalui tiga aspek, yaitu pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi. Ketiga aspek ini digunakan untuk melihat sejauh mana program mencapai tujuan, bagaimana koordinasi antarpihak berjalan, serta kemampuan sekolah menyesuaikan pelaksanaan program dengan kondisi di lapangan.
Dari sisi pencapaian tujuan, MBG memberikan manfaat langsung karena siswa memperoleh makanan selama berada di sekolah. Program tersebut juga membantu mengurangi pengeluaran uang saku untuk membeli makanan.
Rohaya, guru yang menjadi penanggung jawab program MBG di sekolah, menjelaskan bahwa makanan dibagikan sekitar lima menit sebelum waktu istirahat. Ia juga melihat adanya antusiasme siswa terhadap program tersebut. Ketika MBG tidak diberikan pada hari Sabtu, sejumlah siswa bahkan mempertanyakan mengapa makanan tidak tersedia.
Manfaat program juga dirasakan secara berbeda oleh siswa berdasarkan kondisi ekonomi keluarga. Muhasir, Supervisor of Trustees yang diwawancarai dalam penelitian, menyampaikan bahwa siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih baik mungkin sudah mendapatkan makanan yang cukup di rumah. Sementara itu, siswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi lebih rendah dapat merasakan manfaat program secara lebih langsung.
Temuan ini menunjukkan bahwa program makan gratis dapat memberikan manfaat yang berbeda bagi penerima, tergantung pada kondisi masing-masing keluarga.
Koordinasi Sekolah dan Penyedia Makanan Berjalan Baik
Aspek kedua yang diamati adalah integrasi, terutama koordinasi antara sekolah dengan pihak yang terlibat dalam penyediaan dan distribusi makanan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama antara SMA Negeri 1 Ranto Peureulak, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan penyedia makanan telah mendukung pelaksanaan MBG secara rutin.
Nur Masyitah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, menyampaikan bahwa MBG diberikan secara teratur dari Senin hingga Jumat dan dinilai memberikan dampak positif terhadap kehadiran siswa.
Sekolah juga melakukan pemantauan terhadap proses distribusi. Ketika terjadi persoalan, pihak sekolah berkoordinasi dengan penyedia makanan untuk mencari penyesuaian yang diperlukan.
Koordinasi tersebut menjadi bagian penting karena pelaksanaan program makan di sekolah melibatkan lebih dari satu pihak. Ketersediaan makanan harus didukung dengan proses pengiriman, pembagian, pengawasan, dan komunikasi yang berjalan secara teratur.
Keterlambatan Pengiriman Mengganggu Waktu Belajar
Meskipun memberikan manfaat, pelaksanaan MBG masih menghadapi beberapa kendala.
Salah satu kendala utama adalah keterlambatan pengiriman makanan. Ketika makanan datang terlambat, proses pembagian dapat berlangsung lebih lama dan berpotensi mengganggu waktu pembelajaran.
Muhasir menyampaikan bahwa keberadaan MBG sedikit mengganggu jam pelajaran ketika makanan datang menjelang waktu istirahat, sementara proses pembagiannya membutuhkan waktu lebih panjang.
Kendala lainnya berkaitan dengan variasi menu. Tidak semua makanan yang disediakan sesuai dengan selera siswa. Akibatnya, masih ditemukan makanan yang tidak dihabiskan.
Septia, salah satu siswa yang menjadi informan, menyampaikan bahwa makanan yang diberikan terkadang sesuai dengan selera dan terkadang tidak. Namun, program tersebut tetap membantu siswa karena dapat menghemat uang saku.
Selain menu, ukuran porsi juga menjadi perhatian. Sebagian siswa menilai jumlah makanan yang diberikan belum selalu memenuhi kebutuhan makan mereka.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program makan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dibagikan. Ketepatan waktu, penerimaan siswa terhadap menu, dan kecukupan porsi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Sekolah Melakukan Penyesuaian
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, sekolah melakukan koordinasi secara berkelanjutan dengan penyedia makanan dan SPPG.
Masukan mengenai variasi menu dan jumlah porsi disampaikan kepada pengelola program sebagai bahan evaluasi. Sekolah juga melakukan penyesuaian jadwal distribusi ketika terjadi keterlambatan pengiriman agar kegiatan pembelajaran tidak terlalu terganggu.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG perlu menyesuaikan diri dengan kondisi nyata di sekolah.
Berdasarkan kerangka efektivitas Richard M. Steers yang digunakan dalam penelitian, pelaksanaan MBG di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak telah memenuhi sejumlah aspek penting. Program membantu memenuhi kebutuhan makan siswa dan menghemat uang saku, koordinasi antarpihak berjalan baik, serta sekolah mampu melakukan penyesuaian ketika menghadapi kendala.
Namun, masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki, khususnya ketepatan waktu distribusi, variasi menu, dan kesesuaian porsi dengan kebutuhan siswa.
Evaluasi Menu dan Porsi Perlu Dilakukan Secara Berkala
Temuan penelitian Ayu Mastura dan rekan-rekannya memiliki implikasi bagi pengelolaan program MBG di lingkungan sekolah.
Ketepatan waktu pengiriman perlu diperhatikan agar pembagian makanan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Evaluasi menu secara berkala juga diperlukan untuk mengetahui jenis makanan yang lebih dapat diterima siswa tanpa mengurangi standar gizi yang telah ditetapkan.
Ukuran porsi juga dapat dievaluasi dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa. Dengan demikian, makanan yang disediakan tidak hanya tersedia dan dibagikan, tetapi juga dapat dikonsumsi secara optimal oleh penerima manfaat.
Bagi sekolah, pengawasan distribusi dan komunikasi dengan penyedia makanan perlu terus dilakukan. Sementara bagi pengelola program, masukan dari siswa dan sekolah dapat menjadi bahan untuk memperbaiki menu, porsi, serta sistem distribusi.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pelaksanaan kebijakan publik di tingkat sekolah membutuhkan penyesuaian dengan kondisi lokal. Kebijakan yang dirancang secara nasional tetap memerlukan koordinasi dan evaluasi di tingkat pelaksana agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih optimal.
Penelitian Dilakukan Melalui Wawancara dan Observasi
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak, Aceh Timur, pada 2026.
Data diperoleh dari enam informan, yaitu Supervisor of Trustees, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, guru yang bertanggung jawab terhadap program MBG, serta tiga siswa penerima manfaat.
Peneliti mengumpulkan informasi melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis melalui tahapan pengurangan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan model analisis Miles dan Huberman.
Peneliti juga mencatat bahwa penelitian hanya dilakukan di satu sekolah dengan jumlah informan yang terbatas. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat secara langsung digeneralisasikan kepada seluruh sekolah yang menjalankan program MBG.
Penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak sekolah dan informan. Aspek lain seperti kualitas pelayanan dan kepuasan penerima manfaat juga dapat diteliti untuk memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai pelaksanaan MBG.
Profil Penulis
Bidang kajian artikel ini berkaitan dengan administrasi publik, efektivitas organisasi, implementasi program publik, dan pelayanan publik, khususnya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di lingkungan sekolah. Gelar akademik penulis tidak tercantum dalam informasi artikel yang diberikan sehingga tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi informasi.
Sumber Penelitian
Artikel jurnal tersebut diterbitkan secara terbuka dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International.
0 Komentar