Pola Relasi Tungku Tigo Sajorangan Perkuat Pemberdayaan Masyarakat di Kuantan Singingi

Ilustrasi by AI

Kuantan Singingi – Kearifan lokal Tungku Tigo Sajorangan dinilai memiliki peran penting dalam membangun pola hubungan sosial yang mendukung pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi. Temuan ini disampaikan Andri Meiriki, Sujianto, Zaili Rusli, dan Auradian Marta dari Universitas Riau dalam artikel yang terbit pada 2026 di International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS). Artikel tersebut mengkaji hubungan antara tiga unsur utama masyarakat, yakni adat, agama, serta cerdik pandai atau pemerintah, dan kaitannya dengan penguatan partisipasi serta pembangunan masyarakat.

Kajian ini penting karena pemberdayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Dalam kehidupan masyarakat lokal, terdapat norma adat, nilai agama, pengetahuan, jaringan sosial, dan mekanisme bersama yang ikut menentukan bagaimana keputusan dibuat dan bagaimana persoalan diselesaikan.

Tungku Tigo Sajorangan sebagai Tiga Penyangga Kehidupan Sosial

Dalam artikel tersebut, Tungku Tigo Sajorangan digambarkan melalui filosofi tiga batu tungku yang menopang sebuah periuk. Ketiga batu harus berada dalam posisi yang saling mendukung agar periuk tetap stabil. Filosofi tersebut menggambarkan hubungan yang saling bergantung dan menekankan keseimbangan fungsi, bukan dominasi satu pihak atas pihak lainnya.

Tiga unsur tersebut terdiri atas Niniak Mamak sebagai representasi adat, Alim Ulama sebagai representasi agama, serta Cerdik Pandai yang dalam konteks pemerintahan modern berkaitan dengan kalangan berpengetahuan, profesional, dan aparatur pemerintahan.

Niniak Mamak berperan dalam menjaga nilai, norma, tradisi, hubungan kekerabatan, dan ketertiban sosial. Alim Ulama memberikan orientasi moral dan keagamaan bagi masyarakat. Sementara itu, unsur Cerdik Pandai atau pemerintah berhubungan dengan pengetahuan, administrasi, kebijakan, dan pembangunan.

Menurut Andri Meiriki dan rekan-rekannya, kekuatan konsep tersebut bukan hanya terletak pada keberadaan ketiga unsur, tetapi terutama pada hubungan yang terbentuk di antara mereka. Hubungan tersebut dapat berupa kerja sama, koordinasi, musyawarah, negosiasi, hingga persaingan kepentingan dan konflik.

Kajian Menggunakan Literatur dan Dokumen

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi literatur. Artinya, peneliti tidak mengandalkan survei lapangan atau wawancara sebagai sumber utama, melainkan mengkaji berbagai literatur akademik dan dokumen yang berkaitan dengan Tungku Tigo Sajorangan, kearifan lokal, hubungan sosial, kelembagaan masyarakat, pemerintahan lokal, pemberdayaan masyarakat, perubahan sosial, serta budaya Kuantan Singingi.

Informasi dari berbagai sumber kemudian dipilah, dikelompokkan berdasarkan tema, dianalisis untuk menemukan pola yang berulang, dan disintesiskan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai posisi Tungku Tigo Sajorangan dalam pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, penelitian ini merupakan kajian berbasis sumber sekunder, bukan penelitian lapangan yang mengukur dampak secara statistik. Temuan yang disampaikan lebih berfokus pada pola hubungan sosial dan relevansinya terhadap pemberdayaan serta tata kelola masyarakat.

Tiga Pilar Membentuk Modal Sosial Masyarakat

Hasil kajian menunjukkan bahwa Tungku Tigo Sajorangan dapat dipahami sebagai bentuk modal sosial. Adat, agama, dan unsur pemerintahan atau intelektual tidak bekerja secara terpisah, tetapi membentuk jaringan hubungan yang dapat membantu masyarakat menjaga norma, menyelesaikan persoalan, dan mengarahkan kepentingan bersama.

Dalam praktiknya, hubungan antarpilar berlangsung secara dinamis. Ketika terdapat kepentingan yang berbeda, musyawarah dan negosiasi menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Konflik juga dapat muncul karena perbedaan kewenangan, kepentingan pembangunan, pemanfaatan sumber daya, maupun pengakuan terhadap hak masyarakat.

Namun, penelitian tersebut menempatkan konflik bukan semata-mata sebagai tanda kegagalan kelembagaan. Konflik dapat menjadi bagian dari dinamika hubungan sosial selama tersedia mekanisme penyelesaian yang memungkinkan para pihak mencapai kesepakatan.

Dampak pada Ekonomi, Budaya, Pendidikan, dan Partisipasi

Hubungan antarpilar tersebut memiliki implikasi terhadap berbagai aspek pemberdayaan masyarakat. Salah satunya adalah pengembangan ekonomi lokal. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan, fasilitas, dan dukungan teknis, sementara tokoh adat dan agama memberikan pengetahuan sosial, legitimasi, solidaritas, serta orientasi nilai.

Pemberdayaan juga dapat diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal. Dalam konteks Kuantan Singingi, pendekatan tersebut dapat berkaitan dengan sektor pertanian, perkebunan, serta kegiatan ekonomi berbasis budaya.

Aspek budaya juga menjadi bagian penting. Tradisi lokal dapat berfungsi sebagai identitas sekaligus modal sosial yang memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Pacu Jalur, misalnya, disebut dalam artikel sebagai salah satu praktik budaya yang memiliki fungsi sosial dan budaya bagi masyarakat Kuantan Singingi.

Selain ekonomi dan budaya, pemberdayaan mencakup pendidikan dan kehidupan keagamaan. Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena pembangunan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada penerimaan dan partisipasi warga.

Relevansi untuk Pemerintahan Lokal

Temuan Meiriki dan tim juga memperlihatkan relevansi Tungku Tigo Sajorangan dalam perspektif administrasi publik. Pemerintah tidak diposisikan sebagai satu-satunya aktor dalam pembangunan. Struktur sosial masyarakat, nilai adat, norma agama, pengetahuan lokal, serta kelembagaan masyarakat juga dapat menjadi sumber daya dalam proses pemerintahan.

Model tersebut membuka ruang bagi tata kelola yang lebih partisipatif dan kontekstual. Kapasitas formal pemerintah dapat dipertemukan dengan legitimasi sosial tokoh adat, orientasi moral keagamaan, pengetahuan masyarakat, dan partisipasi warga.

Peneliti juga menyoroti tantangan perubahan sosial. Modernisasi, mobilitas penduduk, perkembangan ekonomi, kompleksitas administrasi, dan perubahan nilai pada generasi muda dapat memengaruhi posisi kelembagaan adat serta pola hubungan antara adat, agama, dan pemerintah.

Karena itu, keberlanjutan Tungku Tigo Sajorangan membutuhkan kemampuan beradaptasi tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar yang menjadi identitas masyarakat.

Profil Penulis

Artikel ini ditulis oleh Andri Meiriki, Sujianto, Zaili Rusli, dan Auradian Marta, yang seluruhnya berafiliasi dengan Universitas Riau. Andri Meiriki tercatat sebagai corresponding author dalam artikel tersebut. 

Sumber Penelitian

Judul: Social Relationship Patterns in Community Empowerment Rooted in Local Wisdom of the Tungku Tigo Sajorangan Philosophy in Kuantan Singingi Regency
Penulis: Andri Meiriki, Sujianto, Zaili Rusli, Auradian Marta
Afiliasi: Universitas Riau
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 9, 2026, halaman 1245-1258
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i9.70
URL: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar