Petani Rice Grobogan Sambut Baik Teknologi Drone Pemantau Padi untuk Hadapi Perubahan Iklim

Ilustrasi by AI

GROBOGAN — Perubahan iklim yang memicu kekeringan, pergeseran pola curah hujan, dan gangguan pertumbuhan tanaman semakin mengancam keberlanjutan produksi padi di berbagai wilayah. Untuk menghadapi tantangan tersebut, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penerimaan petani terhadap teknologi drone pemantau lahan menjadi salah satu kunci penting dalam membangun pertanian padi yang tangguh iklim. Penelitian ini dilakukan oleh Asikin Muchtar dari Universitas Indonesia Timur, Farida Hariani dari Al-Azhar University, dan Agus Suprapto dari Universitas Tidar pada tahun 2026. Hasil riset mendesak ini dinilai sangat penting untuk membantu menentukan strategi digitalisasi pertanian presisi yang efektif di daerah sentra pangan.

Secara latar belakang, Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah memegang peran strategis sebagai salah satu lumbung padi utama. Namun, para petani di wilayah ini terus dihadapkan pada ancaman krisis air dan fenomena cuaca ekstrem yang menurunkan produktivitas. Penggunaan drone pemantau mampu menyediakan data pemetaan udara secara waktu nyata mengenai kesehatan vegetasi, ketersediaan air, dan kondisi tanah yang sulit dipantau secara manual. Meski memiliki keunggulan teknis yang tinggi, ketersediaan teknologi ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan kemauan petani untuk langsung mengadopsinya di lapangan.

Melalui pendekatan kuantitatif dengan survei terhadap 200 petani padi di Kabupaten Grobogan, para peneliti mengukur berbagai variabel perilaku dan persepsi masyarakat tani. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda untuk mengetahui faktor utama penerimaan teknologi ini. Mayoritas petani yang menjadi responden berada pada usia produktif dengan pengalaman bertani antara sepuluh hingga dua puluh tahun pada skala lahan kurang dari satu hektar.

Temuan utama penelitian mengonfirmasi bahwa persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, tingkat kepercayaan pada teknologi, kondisi fasilitas pendukung, serta kesadaran akan dampak perubahan iklim berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan drone oleh petani. Dari seluruh faktor tersebut, persepsi akan manfaat praktis menjadi pendorong paling kuat yang membuat petani mau menerima teknologi drone. Sebaliknya, tingginya persepsi biaya menjadi hambatan utama yang berpotensi mengurangi minat petani dalam menerapkan pemantauan berbasis drone. secara keseluruhan, faktor-faktor tersebut mampu menjelaskan sebagian besar variasi tingkat penerimaan petani terhadap inovasi digital ini.

Dampak dan implikasi dari penelitian ini sangat krusial bagi penyusunan kebijakan publik dan strategi penyuluhan pertanian. Pemerintah daerah, lembaga penyuluh, dan penyedia teknologi perlu berkolaborasi menciptakan model pemanfaatan drone yang terjangkau, seperti layanan drone bersama atau pemanfaatan berbasis koperasi tani guna menekan kendala biaya. Selain itu, integrasi antara edukasi adaptasi iklim dan pelatihan literasi digital sangat dibutuhkan agar petani tidak hanya mahir mengoperasikan teknologi, tetapi juga mampu mengambil keputusan bertani yang cepat dan akurat di tengah ketidakpastian iklim.

Penulis: Asikin Muchtar (Universitas Indonesia Timur) Farida Hariani (Al-Azhar University) Agus Suprapto (Universitas Tidar)

Sumber Penelitian: Farmers' Acceptance of Drone-Based Crop Monitoring Systems for Climate-Resilient Rice Production 

East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026 

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.296

URL: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar