![]() |
| Illustration by Ai |
Budidaya bandeng menggunakan pakan buatan di Desa Kabuloang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menunjukkan bahwa persepsi positif petambak berperan penting dalam membentuk perilaku budidaya yang lebih baik. Temuan ini dilaporkan oleh Taufik Hidayat, Binayanti, Israwahyudi, Haryanto, dan Ilham dari Universitas Muhammadiyah Mamuju dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Integrative Research (IJIR). Hasil penelitian ini penting karena memberikan gambaran bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana produksi, tetapi juga oleh cara petambak memahami dan menerima inovasi yang diterapkan.
Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan
budidaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia. Ikan ini banyak
dibudidayakan oleh masyarakat pesisir karena mampu beradaptasi dengan baik di
lingkungan tambak air payau serta memiliki permintaan pasar yang relatif
stabil. Dalam proses budidaya, pakan menjadi faktor utama yang menentukan
pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, dan produktivitas ikan. Karena itu,
penggunaan pakan buatan semakin banyak diterapkan karena dianggap lebih praktis
dan memiliki kandungan nutrisi yang lebih terukur dibandingkan sistem budidaya
tradisional.
Meski demikian, penggunaan pakan
buatan juga menghadapi sejumlah tantangan. Biaya pakan merupakan komponen
terbesar dalam usaha budidaya ikan. Kesalahan dalam pemberian pakan dapat
menyebabkan pemborosan biaya sekaligus menurunkan kualitas air tambak akibat
sisa pakan yang tidak termakan. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan
teknologi pakan buatan tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga
pada perilaku petambak dalam mengelolanya.
Penelitian dilakukan di Dusun
Salupompong, Desa Kabuloang, selama periode Mei hingga Agustus 2026. Tim
peneliti melibatkan 60 petambak bandeng yang aktif menggunakan sistem budidaya
berbasis pakan buatan. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan
observasi lapangan untuk mengetahui bagaimana persepsi petambak terhadap pakan
buatan serta bagaimana perilaku mereka dalam menerapkannya di tambak
sehari-hari.
Mayoritas responden merupakan laki-laki dengan rata-rata usia 38 tahun dan
pengalaman budidaya sekitar 9,4 tahun. Sebagian besar memiliki tingkat
pendidikan menengah atas, yang menunjukkan bahwa responden memiliki pengalaman
dan pengetahuan yang cukup dalam mengelola usaha tambak bandeng.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa persepsi petambak terhadap penggunaan pakan buatan berada dalam kategori
baik. Nilai rata-rata persepsi mencapai 35,10 dari skala yang digunakan
peneliti. Sebanyak 38,3 persen responden berada pada kategori baik dan 25 persen
berada pada kategori sangat baik. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar
petambak memahami manfaat penggunaan pakan buatan dan memiliki pandangan
positif terhadap teknologi tersebut.
Temuan serupa juga terlihat pada
aspek perilaku. Rata-rata skor perilaku petambak mencapai 35,80 dan termasuk
dalam kategori baik. Sebanyak 35 persen responden masuk kategori baik,
sementara 28,3 persen berada dalam kategori sangat baik. Kondisi ini menggambarkan
bahwa mayoritas petambak telah menerapkan praktik pemberian pakan secara cukup
tepat, mulai dari penentuan jumlah pakan, waktu pemberian, hingga pengelolaan
tambak secara umum.
Salah satu temuan paling penting
dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara persepsi dan
perilaku petambak. Analisis statistik menunjukkan nilai korelasi sebesar 0,612
dengan tingkat signifikansi yang sangat tinggi. Angka tersebut menunjukkan
hubungan positif yang tergolong sedang hingga kuat. Dengan kata lain, semakin
baik persepsi petambak terhadap manfaat dan efektivitas pakan buatan, semakin
baik pula perilaku mereka dalam menerapkan teknologi tersebut di lapangan.
Menurut Taufik Hidayat dan tim
peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju, hasil ini memperkuat pemahaman
bahwa penerimaan terhadap inovasi budidaya berpengaruh langsung terhadap
tindakan yang dilakukan petambak. Petambak yang percaya bahwa pakan buatan
mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan efisiensi produksi cenderung lebih
disiplin dalam mengatur jadwal pemberian pakan, menyesuaikan dosis, serta
memantau respons ikan terhadap pakan yang diberikan.
Namun demikian, para peneliti
juga menegaskan bahwa persepsi bukan satu-satunya faktor yang menentukan
perilaku petambak. Pengalaman budidaya, biaya pakan, ketersediaan pakan, akses
terhadap penyuluhan, serta kondisi tambak juga memiliki pengaruh terhadap
keberhasilan penerapan teknologi budidaya. Oleh sebab itu, peningkatan
produktivitas sektor perikanan tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi,
tetapi juga harus dibarengi dengan pendampingan dan penguatan kapasitas
petambak.
Penelitian ini memberikan
implikasi penting bagi program penyuluhan perikanan di Indonesia. Para peneliti
merekomendasikan agar kegiatan penyuluhan tidak hanya berfokus pada transfer
teknologi, tetapi juga membangun persepsi positif petambak melalui informasi
yang jelas mengenai manfaat pakan buatan. Selain itu, pendampingan teknis
terkait dosis pakan, jadwal pemberian, pengelolaan kualitas air, penyimpanan
pakan, serta evaluasi hasil budidaya perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Pendekatan yang menggabungkan aspek pengetahuan dan praktik dinilai lebih
efektif dalam mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Bagi sektor perikanan nasional,
temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi budidaya sangat bergantung
pada kesiapan sumber daya manusia yang menerapkannya. Ketika petambak memiliki
pemahaman yang baik terhadap teknologi, peluang peningkatan produktivitas,
efisiensi biaya, dan keberlanjutan usaha budidaya akan semakin besar. Hal ini
menjadi penting dalam mendukung ketahanan pangan serta peningkatan
kesejahteraan masyarakat pesisir di berbagai daerah Indonesia.
Profil Singkat Penulis
Taufik Hidayat merupakan
akademisi dan peneliti dari Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Muhammadiyah Mamuju yang
memiliki fokus pada bidang perikanan budidaya, perilaku petambak, dan
pengelolaan sumber daya perairan. Penelitian ini dilakukan bersama Binayanti,
Israwahyudi, Haryanto, dan Ilham, yang juga berasal dari Universitas
Muhammadiyah Mamuju dan aktif dalam penelitian terkait pengembangan sektor
perikanan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Perception
and Behavior of Fish Farmers Toward Artificial Feed-Based Milkfish (Chanos
chanos) Culture in Kabuloang Village, Kalukku District, Mamuju Regency
Penulis: Taufik Hidayat,
Binayanti, Israwahyudi, Haryanto, dan Ilham
Afiliasi: Universitas
Muhammadiyah Mamuju
Jurnal: International
Journal of Integrative Research (IJIR), Volume 4, Nomor 8, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i8.246

0 Komentar