Kinerja Karyawan Menjadi Faktor Penting di Industri Manufaktur
Industri manufaktur memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia karena mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah. Di tengah tuntutan efisiensi produksi, kualitas produk, pemenuhan kebutuhan pelanggan, dan persaingan pasar, kualitas tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan perusahaan.
Kondisi tersebut juga relevan bagi industri panel listrik. Panel listrik berfungsi sebagai bagian penting dari sistem distribusi dan pengelolaan tenaga listrik untuk kebutuhan rumah tangga, komersial, maupun industri. Perkembangan sektor ini di Jawa Barat, termasuk Bekasi, turut menciptakan lapangan kerja dan mendukung aktivitas ekonomi daerah. Namun, perusahaan di sektor tersebut tetap menghadapi tuntutan untuk menjaga kualitas produk dan mengoptimalkan proses produksi.
PT. XYZ merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam manufaktur panel listrik. Menurut Azkia dan Romi, perusahaan membutuhkan karyawan yang memiliki kompetensi teknis, disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama untuk menjaga kelancaran operasional dan daya saing perusahaan.
Pengembangan SDM dan Kesehatan Mental Saling Berkaitan dengan Kinerja
Pengembangan SDM dalam penelitian ini mencakup berbagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kompetensi, dan profesionalisme karyawan. Pendidikan dan pelatihan menjadi bagian penting karena dapat membantu karyawan meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan.
Sementara itu, kesehatan mental dipandang sebagai kondisi yang membantu seseorang menghadapi tekanan, beradaptasi dengan perubahan, membangun hubungan sosial yang baik, serta mengambil keputusan secara tepat. Dalam lingkungan kerja, kondisi psikologis yang baik dapat membantu karyawan menghadapi tuntutan pekerjaan dan mempertahankan produktivitas.
Azkia dan Romi juga menyoroti keterkaitan kedua aspek tersebut. Program pengembangan SDM yang tidak disertai perhatian terhadap kesehatan mental berpotensi kurang optimal karena karyawan yang mengalami tekanan psikologis dapat mengalami kesulitan dalam menyerap dan menerapkan pengetahuan baru. Sebaliknya, kondisi mental yang baik dapat mendukung motivasi, ketahanan menghadapi tekanan, dan kemampuan menerapkan keterampilan di tempat kerja.
Melibatkan Seluruh 36 Karyawan Produksi
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif dan asosiatif. Responden terdiri dari seluruh 36 karyawan bagian produksi PT. XYZ. Karena jumlah populasi relatif kecil dan seluruh anggota populasi dapat dijangkau, peneliti menggunakan teknik saturated sampling, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan responden.
Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur pengembangan SDM, kesehatan mental, dan kinerja karyawan. Untuk meningkatkan objektivitas, penilaian kinerja diberikan oleh atasan langsung, bukan berdasarkan penilaian diri karyawan.
Data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linear berganda dengan IBM SPSS Statistics. Pengujian juga mencakup uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik, uji t, uji F, dan koefisien determinasi.
Kesehatan Mental Memberikan Pengaruh Signifikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan SDM dan kesehatan mental sama-sama memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
Secara parsial, pengembangan SDM memiliki nilai t sebesar 2,676 dengan tingkat signifikansi 0,011. Sementara itu, kesehatan mental memiliki nilai t sebesar 10,153 dengan tingkat signifikansi kurang dari 0,001. Kedua hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara masing-masing variabel dengan kinerja karyawan dalam sampel penelitian.
Ketika diuji secara bersama-sama, pengembangan SDM dan kesehatan mental juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, dengan nilai F sebesar 82,303 dan p < 0,001. Persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = 0,697 + 0,156X₁ + 0,818X₂.
Temuan paling menonjol terlihat pada nilai koefisien determinasi. Nilai R² sebesar 0,833 menunjukkan bahwa pengembangan SDM dan kesehatan mental secara bersama-sama menjelaskan 83,3% variasi kinerja karyawan dalam model penelitian. Sebanyak 16,7% sisanya berkaitan dengan faktor lain di luar model.
Dari analisis deskriptif, persepsi karyawan terhadap pengembangan SDM berada pada rentang nilai rata-rata 2,83 hingga 4,31. Sementara itu, indikator kesehatan mental memiliki rata-rata 3,67 hingga 4,39 dan seluruh indikator berada di atas 3,60, yang oleh peneliti dikategorikan sebagai kondisi yang baik. Kinerja karyawan juga menunjukkan rata-rata indikator antara 3,69 hingga 4,28 dan dikategorikan baik.
Investasi pada Karyawan Tidak Hanya Berupa Pelatihan
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan kinerja di lingkungan manufaktur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Perusahaan juga perlu memperhatikan kondisi psikologis karyawan ketika merancang strategi pengelolaan SDM.
Azkia dan Romi merekomendasikan agar organisasi mempertahankan program pengembangan karyawan yang kuat, termasuk peningkatan kualitas pelatihan dan kompetensi, sekaligus membangun lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental. Menurut temuan penelitian, kesehatan mental yang baik dapat membantu karyawan beradaptasi, mengelola tekanan kerja, dan menjalankan tugas secara lebih efektif, sedangkan pengembangan SDM dapat memperkuat kompetensi dan profesionalisme.
Bagi perusahaan manufaktur, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari pengelolaan SDM yang lebih berkelanjutan. Namun, hasil penelitian perlu dibaca sesuai dengan cakupannya karena responden hanya berasal dari bagian produksi satu perusahaan. Peneliti menyarankan penelitian berikutnya menggunakan jumlah responden yang lebih besar, melibatkan berbagai industri, serta memasukkan faktor lain seperti motivasi kerja, kepemimpinan, dan budaya organisasi.
Profil Penulis
Nur Auliail Azkia merupakan penulis utama penelitian dan berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini ditulis bersama Mochamad Vrans Romi, yang juga berafiliasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani. Artikel yang tersedia tidak mencantumkan gelar akademik maupun rincian bidang keahlian spesifik kedua penulis, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan di luar sumber.
0 Komentar