Pasion dan Dumalig menjelaskan bahwa guru taman kanak-kanak menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola perilaku anak. Anak dapat mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengikuti instruksi, mengendalikan impuls, maupun mengelola emosi. Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika guru harus menangani kelas dengan jumlah siswa yang besar, keterbatasan bahan pembelajaran, serta perbedaan karakter dan kebutuhan peserta didik.
Studi tersebut dilakukan di sekolah-sekolah taman kanak-kanak di Tumauini South District, Schools Division of Isabela. Sebanyak 50 guru menjadi responden. Para peneliti menggunakan kuesioner yang telah divalidasi untuk memperoleh informasi mengenai strategi pengelolaan kelas, pola perilaku anak, pengaruh pengelolaan kelas terhadap perilaku, serta berbagai kendala yang dihadapi guru. Data kemudian dianalisis untuk melihat pola penerapan strategi pengelolaan kelas dan hubungan antara pengelolaan kelas dengan perilaku anak.
Namun, kemampuan mengatur diri masih menjadi bagian yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Pengendalian impuls memperoleh nilai 3,7, tanggung jawab terhadap tindakan 3,7, dan kemampuan menenangkan diri ketika merasa kesal memperoleh nilai 3,6. Rasa ingin tahu dan kemampuan mengelola frustrasi juga mendapat penilaian yang relatif lebih rendah dibandingkan beberapa perilaku lainnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan kemampuan regulasi diri masih menjadi proses penting pada tahap pendidikan taman kanak-kanak.
Guru juga menilai bahwa pengelolaan kelas memiliki hubungan positif dengan perilaku anak. Nilai keseluruhan pada aspek pengaruh pengelolaan kelas terhadap perilaku mencapai 4,26 dalam kategori “Agree”. Aturan yang jelas memperoleh nilai 4,5, sementara rutinitas yang efektif memperoleh 4,3. Guru juga menilai bahwa pengelolaan kelas membantu anak tetap fokus, bekerja sama, berbagi, menunggu giliran, dan mengurangi perilaku yang mengganggu kegiatan pembelajaran.
Di sisi lain, penerapan pengelolaan kelas tidak selalu berjalan mudah. Ukuran kelas yang besar menjadi tantangan dengan nilai 4,3, diikuti masalah perilaku anak sebesar 4,1 dan keterbatasan bahan pembelajaran sebesar 4,0. Keterbatasan waktu, beban administratif, serta kurangnya dukungan orang tua juga disebut sebagai kendala yang memengaruhi konsistensi guru dalam menerapkan strategi pengelolaan kelas.
Ketika diminta memberikan saran, para guru paling banyak menekankan pentingnya aturan dan rutinitas yang jelas. Sebanyak 18 dari 50 responden menyampaikan tema tersebut. Penguatan positif muncul pada 12 responden, sementara pengaturan lingkungan kelas disebut oleh delapan responden. Guru juga menyarankan kegiatan yang lebih interaktif, keterlibatan orang tua, serta pengembangan profesional melalui pelatihan dan kolaborasi antarguru.
Bagi pendidikan anak usia dini, temuan ini menempatkan pengelolaan kelas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan perilaku anak. Aturan yang konsisten, rutinitas yang mudah dipahami, pujian terhadap perilaku positif, komunikasi yang tenang, serta lingkungan belajar yang tertata dapat menjadi bagian dari praktik sehari-hari guru. Pada saat yang sama, sekolah juga membutuhkan dukungan berupa bahan pembelajaran yang memadai, pengelolaan jumlah siswa, pelatihan guru, dan kerja sama yang lebih kuat antara sekolah dan keluarga.
Profil Penulis
Baby Jane A. Pasion dan Celso C. Dumalig berasal dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina.
Sumber Penelitian
Baby Jane A. Pasion dan Celso C. Dumalig. “Classroom Management on Pupils’ Behavior in Kindergarten School in Tumauini South District.” International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 9, 2026, hlm. 2257–2272.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i9.125
Link jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar