Pengaruh Belanja Modal, Belanja Tenaga Kerja, dan Belanja Barang dan Jasa terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Aceh, 2011–2025

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Medan - Dinamika Belanja Daerah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Aceh: Belanja Pegawai Jadi Motor Utama. Penelitian yang dilakukan oleh Putri Adinda, Siti Maisyarah, Yosie Gabriela Panjaitan, dan Ayu Angelina Pasaribu dari  Universitas Senior Medan dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti memberikan evaluasi komprehensif terkait efektivitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam menggerakkan kesejahteraan masyarakat di Serambi Mekkah.

Tantangan Fiskal dan Kontradiksi Anggaran Daerah
Sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan, pertumbuhan ekonomi Aceh mengalami fluktuasi yang cukup tajam selama periode 2011–2025. Di satu sisi, pemerintah daerah secara konsisten menggelontorkan anggaran publik yang masif melalui APBD, yang mencakup pos belanja modal, belanja pegawai, serta belanja barang dan jasa. Namun, alokasi dana yang besar ini kerap kali dihadapkan pada persoalan klasik seperti rendahnya efektivitas realisasi anggaran, tingginya sisa lebih pembiayaan anggaran (SilPA), serta ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pusat. Kondisi inilah yang mendorong tim peneliti dari Universitas Senior Medan untuk menguji ulang bagaimana korelasi nyata antara ketiga komponen belanja tersebut terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Aceh.

Pendekatan Kuantitatif dan Analisis Regresi Berganda
Untuk membedah fenomena tersebut, penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder runtut waktu (time series) dari rentang tahun 2011 hingga 2025 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia serta Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda menggunakan perangkat lunak statistik untuk menguji hubungan dinamis antarvariabel. Sebelum menarik kesimpulan melalui uji parsial (uji-t), uji simultan (uji-F), serta koefisien determinasi, data telah melewati serangkaian uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas untuk memastikan keabsahan model statistik yang digunakan.

Temuan Utama: Dominasi Belanja Pegawai dan Tantangan Belanja Infrastruktur
Hasil analisis statistik membuktikan bahwa secara simultan atau bersama-sama, belanja modal, belanja pegawai, dan belanja barang/jasa berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh dengan tingkat determinasi mencapai 88,5%. Kendati demikian, jika dilihat secara parsial, dampaknya sangat beragam:
  • Belanja Pegawai Berpengaruh Positif dan Signifikan: Variabel belanja pegawai mencatatkan koefisien positif yang kuat dengan nilai thitung 20,481 (jauh di atas ttabel 1,67). Artinya, setiap kenaikan belanja pegawai sebesar 1% berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Aceh sebesar 17,190 miliar rupiah. Hal ini terjadi karena gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN) menjadi motor penggerak utama daya beli masyarakat, yang kemudian memicu aktivitas transaksi di pasar tradisional maupun ritel lokal.
  • Belanja Modal Berpengaruh Negatif dan Tidak Signifikan: Di luar dugaan, belanja modal mencatatkan koefisien negatif dengan thitung -1,074. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan belanja modal belum terserap secara optimal untuk sektor produktif akibat rendahnya efektivitas proyek, tingginya kelebihan pembayaran volume kerja, serta ketidaktepatan sasaran infrastruktur dengan potensi keunggulan daerah.
  • Belanja Barang dan Jasa Berpengaruh Negatif dan Tidak Signifikan: Belanja barang dan jasa juga menunjukkan tren negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Faktor penyebabnya meliputi kebocoran ekonomi ke luar wilayah (economic leakage) karena sebagian besar pasokan barang pengadaan berasal dari luar Aceh, serta dominasi anggaran untuk keperluan rutin administratif yang tidak menciptakan multiplier effect jangka panjang.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi Pembangunan
Temuan riset ini memberikan implikasi strategis bagi arah kebijakan fiskal pemerintah daerah ke depan. Pemerintah Provinsi Aceh didorong untuk tidak sekadar memperbesar alokasi anggaran fisik, melainkan memperketat tata kelola dan akuntabilitas pelaksanaan proyek agar belanja modal benar-benar mendongkrak produktivitas masyarakat serta memancing minat investor luar untuk berinvestasi. Di sisi lain, pengelolaan belanja pegawai harus terus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan publik dan optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) agar stabilitas ekonomi makro tetap terjaga tanpa mengorbankan alokasi sektor produktif lainnya.

Profil Penulis
Putri Adinda – Peneliti Utama & Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Senior Medan.
Siti Maisyarah – Peneliti Pendukung & Akademisi bidang Ilmu Ekonomi, Universitas Senior Medan.
Yosie Gabriela Panjaitan – Peneliti Pendukung & Pengamat Kebijakan Fiskal, Universitas Senior Medan.
Ayu Angelina Pasaribu – Peneliti Pendukung & Pakar Ekonomi Regional, Universitas Senior Medan.

Sumber Penelitian
Putri Adinda, Siti Maisyarah, Yosie Gabriela Panjaitan, & Ayu Angelina Pasaribu. The Impact of Capital Expenditures, Personnel Expenditures, and Expenditures on Goods and Services on Economic Growth in Aceh Province, 2011–2025. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR), Vol. 5, No. 8, Tahun 2026 (Halaman 671–690)
DOI : https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i8.68
URL: https://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar