Program pendampingan kelompok belajar yang dilakukan Konstantinus Dua Dhiu, Agnesta Riba, Maria Ananias Ego, Marsela Gaudensia Zae, Maria Fransiska Gobhe, dan Florentina Ceyn Moi dari Program Studi PG-PAUD, STKIP Citra Bakti, menunjukkan bahwa kegiatan belajar sambil bermain dapat meningkatkan keterlibatan dan mendukung perkembangan anak usia dini di TKK Satu Atap SDK Olabolo. Kegiatan berlangsung selama program magang pada 9 Maret hingga 15 Juni 2026 dengan melibatkan 18 anak. Hasilnya penting karena memperlihatkan bagaimana pendampingan yang terencana dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, menyenangkan, dan berpusat pada anak.
Pendidikan anak usia dini memiliki peran penting dalam membangun berbagai kemampuan dasar anak, mulai dari kognitif, bahasa, sosial-emosional, hingga fisik-motorik. Pada tahap ini, anak membutuhkan stimulasi yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat perkembangannya. Karena itu, kegiatan pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi anak untuk bermain, berkomunikasi, bereksplorasi, dan bekerja sama.
Di TKK Satu Atap SDK Olabolo, pendampingan kelompok belajar diterapkan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan dunia anak. Kegiatan tersebut meliputi bercerita, mengenal huruf dan angka, mengenal warna dan bentuk, menyusun puzzle, bermain balok, menggambar, mewarnai, bernyanyi, menari, serta permainan kelompok. Pendamping berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan dan bantuan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Kegiatan pendampingan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Tim terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan kepala sekolah dan guru, serta dokumentasi kegiatan. Observasi utama dilakukan pada 26 Mei hingga 4 Juni 2026 terhadap 18 anak yang mengikuti kegiatan pendampingan.
Sebelum kegiatan berlangsung, tim melakukan pengamatan untuk melihat karakteristik, minat, dan kebutuhan belajar anak. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan kemampuan antarpeserta. Sebagian anak sudah mampu berkomunikasi dengan lancar dan mengikuti arahan guru, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan dukungan dalam menjaga konsentrasi, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menyusun kegiatan yang lebih bervariasi. Media pembelajaran yang digunakan antara lain kartu huruf, kartu angka, gambar seri, balok, puzzle, alat permainan edukatif, buku cerita bergambar, lembar mewarnai, plastisin, serta bahan alam yang tersedia di sekitar sekolah.
Anak Lebih Aktif dan Percaya Diri
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas anak memperlihatkan antusiasme tinggi selama kegiatan. Anak menjadi lebih aktif mengikuti pembelajaran, lebih berani berbicara di depan teman, mampu mengikuti arahan guru, dan menunjukkan rasa ingin tahu melalui berbagai pertanyaan.
Pembelajaran dengan media permainan juga membantu anak memahami materi secara lebih mudah. Dibandingkan hanya menerima penjelasan secara lisan, penggunaan alat permainan edukatif membuat anak terlibat langsung dalam proses belajar. Aktivitas bermain juga membantu menjaga konsentrasi dan mengurangi kejenuhan selama pembelajaran.
Dampak pendampingan terlihat pada beberapa aspek perkembangan. Dalam kemampuan kognitif, anak menunjukkan kemajuan dalam mengenal huruf, angka, warna, dan bentuk serta mampu menyelesaikan permainan sederhana. Pada aspek bahasa, anak semakin berani menjawab pertanyaan, menceritakan pengalaman, dan berkomunikasi dengan guru maupun teman.
Pada aspek sosial-emosional, anak mulai terbiasa bekerja sama, menunggu giliran, berbagi alat permainan, dan menghargai teman. Sementara itu, kegiatan menggambar, mewarnai, menyusun puzzle, dan menggunakan alat permainan edukatif membantu melatih koordinasi mata dan tangan serta keterampilan motorik halus.
Guru Mendapat Pengalaman Pembelajaran yang Lebih Interaktif
Manfaat pendampingan tidak hanya dirasakan oleh anak. Guru juga memperoleh pengalaman dalam menerapkan kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif, menggunakan beragam media, dan melakukan pengamatan perkembangan anak secara berkelanjutan.
Pendekatan ini menempatkan guru dan pendamping sebagai fasilitator, sementara anak memperoleh lebih banyak kesempatan untuk bereksplorasi, bertanya, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan aktivitas secara mandiri. Temuan kegiatan menunjukkan bahwa proses belajar melalui permainan dapat menciptakan suasana kelas yang lebih hidup dan mendorong partisipasi anak.
Meski hasil kegiatan menunjukkan perkembangan positif, tim juga menemukan sejumlah kendala. Beberapa anak memiliki rentang konsentrasi yang relatif pendek, sementara perbedaan kemampuan antaranak membutuhkan pendekatan yang berbeda. Keterbatasan waktu pendampingan juga membuat perkembangan seluruh kemampuan anak belum dapat diamati secara optimal dalam satu kali kegiatan.
Para penulis menekankan pentingnya keberlanjutan pendampingan serta kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat. Dukungan tersebut diperlukan agar stimulasi yang diberikan di sekolah dapat terus diperkuat di lingkungan keluarga dan mendukung perkembangan anak secara konsisten.
Profil Penulis
- Konstantinus Dua Dhiu -STKIP Citra Bakti
- Agnesta Riba-STKIP Citra Bakti
- Maria Ananias Ego-STKIP Citra Bakti
- Marsela Gaudensia Zae-STKIP Citra Bakti
- Maria Fransiska Gobhe- STKIP Citra Bakti
- Florentina Ceyn Moi - STKIP Citra Bakti
Sumber Penelitian
Judul: “Pendampingan Kelompok Belajar Anak di TKK Satu Atap SDK Olabolo”
Penulis: Konstantinus Dua Dhiu, Agnesta Riba, Maria Ananias Ego, Marsela Gaudensia Zae, Maria Fransiska Gobhe, Florentina Ceyn Moi
Afiliasi: Program Studi PG-PAUD, STKIP Citra Bakti
Jurnal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB)
Volume: Vol. 5, No. 8, August 2026, halaman 737–748
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i8.56
URL Jurnal: https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

0 Komentar