Santiago City, Filipina — Pembelajaran berdiferensiasi dinilai dapat membantu guru menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan, minat, kesiapan, dan karakteristik siswa yang beragam. Temuan tersebut terlihat dalam penelitian Rhealyn C. Dumalig dan Celso C. Dumalig dari Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Filipina, yang mengkaji penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada guru sekolah menengah negeri di Echague, Division of Isabela, selama Tahun Akademik 2024–2025. Penelitian yang melibatkan 35 guru tersebut menunjukkan bahwa para guru secara umum memberikan penilaian positif terhadap penerapan pembelajaran berdiferensiasi di ruang kelas.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang tidak menggunakan satu metode pembelajaran yang sama untuk seluruh siswa. Guru dapat mengubah cara penyampaian materi, bentuk aktivitas, tingkat kesulitan tugas, maupun cara siswa menunjukkan pemahamannya. Pendekatan tersebut memungkinkan siswa memperoleh kesempatan belajar melalui cara yang lebih sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Dalam konteks kelas yang memiliki kemampuan, minat, dan kesiapan belajar yang berbeda, pendekatan ini menjadi salah satu cara untuk menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel dan inklusif.
Rhealyn C. Dumalig dan Celso C. Dumalig menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi berkaitan dengan upaya menciptakan kesempatan belajar yang lebih merata. Strategi seperti pengelompokan siswa, aktivitas yang bervariasi, penggunaan media pembelajaran, serta penyesuaian tugas memungkinkan guru merespons perbedaan yang terdapat di dalam kelas. Literatur yang dibahas dalam artikel juga menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi telah dikaitkan dengan keterlibatan, motivasi, partisipasi, dan pencapaian akademik siswa, meskipun penerapannya membutuhkan perencanaan, sumber daya, serta pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan.
Untuk melihat bagaimana pendekatan tersebut diterapkan, penelitian dilakukan dengan desain kuantitatif deskriptif terhadap 35 guru sekolah menengah negeri di Echague, Division of Isabela. Para responden dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup profil demografis guru dan 20 pernyataan mengenai praktik pembelajaran berdiferensiasi. Pengumpulan data dilakukan setelah peneliti memperoleh izin dari pihak sekolah dan memastikan partisipasi responden berlangsung secara sukarela serta menjaga kerahasiaan informasi.
Data kemudian dianalisis menggunakan frekuensi, persentase, weighted mean, Chi-square, dan korelasi Pearson. Analisis tersebut digunakan untuk menggambarkan profil responden, mengetahui tingkat penerapan pembelajaran berdiferensiasi, serta melihat hubungan antara karakteristik guru dan praktik pembelajaran yang diterapkan di kelas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memperoleh nilai rata-rata tertimbang sebesar 3,95 dan berada dalam kategori “Agree”. Artinya, para guru secara umum menyatakan bahwa berbagai strategi pembelajaran berdiferensiasi telah diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Praktik dengan nilai tertinggi adalah cooperative learning dengan nilai 4,86, penggunaan permainan dalam kegiatan pembelajaran dengan nilai 4,85, serta penggunaan presentasi PowerPoint untuk catatan siswa dengan nilai 4,84. Aktivitas mencocokkan kosakata dengan definisi memperoleh nilai 4,38, membaca secara individual 4,37, dan penggunaan lembar aktivitas 4,25.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa strategi pembelajaran yang bersifat kolaboratif, interaktif, dan melibatkan siswa secara langsung menjadi bagian penting dari praktik guru yang diamati. Peer tutoring, role play, simulasi, pertanyaan untuk mendorong cara berpikir yang beragam, graphic organizer, kurikulum terintegrasi, dan pembelajaran dalam kelompok kecil juga memperoleh penilaian “Agree”. Sementara itu, beberapa strategi seperti pembelajaran yang benar-benar diindividualisasikan, asesmen awal secara rutin, laporan lisan, tugas kinestetik, serta penggunaan multimedia untuk membangun konteks belajar memperoleh penilaian “Moderately Agree”, sehingga masih terdapat ruang untuk penguatan penerapan strategi tersebut.
Penelitian ini juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara karakteristik guru dan penerapan berbagai praktik pembelajaran berdiferensiasi. Hubungan signifikan ditemukan pada variabel gender, usia, posisi mengajar, lama pengalaman mengajar, dan latar belakang pendidikan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik guru berkaitan dengan bagaimana strategi pembelajaran berdiferensiasi diterapkan dan dipersepsikan dalam kelas.
Dalam kaitannya dengan posisi mengajar, artikel mencatat adanya hubungan signifikan antara posisi guru dan seluruh praktik pembelajaran berdiferensiasi yang diukur. Penulis mengaitkan temuan tersebut dengan kesiapan dan pengalaman profesional guru dalam menerapkan berbagai strategi pembelajaran. Hubungan serupa juga ditemukan antara pengalaman mengajar dan praktik pembelajaran berdiferensiasi. Guru dengan pengalaman menengah dalam penelitian ini disebut menunjukkan kepercayaan diri dan kompetensi yang lebih besar dalam menerapkan beragam strategi pembelajaran.
Latar belakang pendidikan guru juga memiliki hubungan signifikan dengan seluruh praktik pembelajaran berdiferensiasi yang diukur. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa guru dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih banyak menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Temuan ini memperkuat pentingnya pendidikan lanjutan dan pengembangan profesional bagi guru untuk meningkatkan kemampuan pedagogis serta menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan siswa yang beragam.
Bagi dunia pendidikan, temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya bergantung pada metode yang digunakan guru di dalam kelas, tetapi juga membutuhkan dukungan lingkungan sekolah. Guru membutuhkan pelatihan, waktu untuk merancang pembelajaran, sumber belajar, teknologi pendidikan, serta kesempatan untuk bekerja sama dengan rekan sejawat. Dukungan tersebut dapat membantu guru menerapkan variasi strategi pembelajaran secara lebih konsisten.
Penulis menekankan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dengan memperhatikan kebutuhan siswa yang berbeda. Guru dapat menggunakan pengelompokan fleksibel, modifikasi materi, variasi aktivitas, dan asesmen untuk memahami kemampuan siswa serta menyesuaikan pembelajaran. Namun, penerapannya tetap membutuhkan perencanaan yang matang dan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Rhealyn C. Dumalig dan Celso C. Dumalig merekomendasikan penguatan kompetensi guru melalui pelatihan, penggunaan asesmen formatif, kolaborasi antarguru, serta penyediaan sumber daya dan teknologi pembelajaran. Pihak sekolah juga dapat mendukung penerapan pembelajaran berdiferensiasi melalui perencanaan bersama, observasi antarguru, dan kesempatan pengembangan profesional.
Profil Penulis
Rhealyn C. Dumalig — Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Philippines.
Celso C. Dumalig — Northeastern College, Inc. Graduate School, Santiago City, Philippines.
Sumber Penelitian
Judul artikel: “The Impact of Differentiated Instruction in the Classroom”
Penulis: Rhealyn C. Dumalig dan Celso C. Dumalig
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 9, 2026, halaman 2273–2290.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i9.126
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR)
0 Komentar