Novel Janji Tere Liye Dinilai Relevan untuk Inovasi Pembelajaran PAI di Era Digital

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Novel Janji karya Tere Liye dinilai memiliki nilai pendidikan Islam yang dapat dimanfaatkan untuk memperbarui pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era digital. Temuan tersebut disampaikan Ummul Khair dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Bengkulu, dan Imam Tazali dari Universitas Bina Sarana Informatika, Jakarta, dalam penelitian yang diterbitkan pada 2026 di International Journal of Sustainability in Research (IJSR). Penelitian ini penting karena menawarkan cara menghubungkan cerita sastra dengan pembelajaran agama yang lebih kontekstual bagi generasi yang tumbuh bersama teknologi digital.

Penelitian Khair dan Tazali berangkat dari perubahan besar yang dibawa teknologi digital terhadap kehidupan generasi muda. Akses internet dan media sosial membuat informasi semakin mudah diperoleh, termasuk informasi keagamaan. Namun, peneliti mencatat bahwa lingkungan digital juga menghadirkan berbagai persoalan etika, seperti perundungan daring, paparan konten eksplisit, perjudian online, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, serta budaya mempermalukan seseorang secara massal di media sosial.

Menurut penelitian tersebut, persoalan itu membuat pendidikan agama menghadapi tantangan baru. Pembelajaran PAI tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan atau hafalan mengenai aturan agama. Siswa juga membutuhkan kesempatan untuk memahami bagaimana nilai agama diterapkan ketika menghadapi persoalan nyata dalam kehidupan sosial dan ruang digital.

Dalam konteks tersebut, karya sastra dipandang sebagai salah satu media yang dapat membuat pembelajaran agama lebih reflektif. Cerita memungkinkan siswa melihat konflik moral melalui pengalaman tokoh, kemudian mendiskusikan pilihan dan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Salah satu karya yang dianalisis adalah novel Janji karya Tere Liye yang terbit pada 2023. Novel setebal 448 halaman itu menceritakan perjalanan tiga santri, Hasan, Baso, dan Kaharuddin, yang mendapat tugas mencari seorang mantan santri bernama Bahar. Perjalanan mereka membawa pembaca ke berbagai latar, termasuk lembaga pemasyarakatan, kawasan pertambangan, dan lingkungan perkotaan yang kumuh. Cerita tersebut juga mengangkat tema pertobatan, penebusan kesalahan, pencarian identitas, ketulusan, dan hubungan manusia dengan ketentuan Tuhan.

Tiga kelompok nilai pendidikan Islam

Khair dan Tazali menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dan analisis isi. Novel Janji menjadi sumber data utama, sedangkan literatur akademik, buku keagamaan, jurnal pendidikan, dan dokumen kebijakan kurikulum digunakan sebagai sumber pendukung.

Peneliti membaca novel secara menyeluruh dan berulang, mengidentifikasi kutipan serta dialog yang berkaitan dengan nilai pendidikan Islam, kemudian mengelompokkannya ke dalam tiga dimensi utama: akidah, syariah, dan akhlak. Data tersebut selanjutnya ditafsirkan dan dihubungkan dengan kebutuhan pembelajaran PAI di lingkungan digital.

Hasil analisis menunjukkan bahwa Janji memuat tiga kelompok nilai pendidikan Islam.

Pertama, akidah. Nilai yang ditemukan mencakup keimanan, keyakinan terhadap kasih sayang dan pengampunan Allah, pertobatan yang tulus, serta penerimaan terhadap ketentuan Ilahi.

Kedua, syariah. Novel tersebut merefleksikan konsistensi dalam menjalankan ibadah, kemampuan beradaptasi dalam menjalankan kewajiban agama, serta kepedulian sosial dan filantropi.

Ketiga, akhlak. Peneliti menemukan nilai kejujuran, amanah atau menjaga kepercayaan, kesabaran, empati sosial, serta kebiasaan melakukan tabayyun atau klarifikasi sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain.

Nilai novel dikaitkan dengan persoalan di ruang digital

Salah satu bagian penting penelitian ini adalah pemetaan nilai dalam novel dengan persoalan moral yang dihadapi generasi digital.

Untuk persoalan kecemasan dan keputusasaan, misalnya, kisah pertobatan tokoh Bahar digunakan sebagai bahan refleksi mengenai kesempatan untuk memperbaiki diri dan keyakinan terhadap ampunan Allah.

Untuk menghadapi individualisme digital, penelitian menyoroti nilai filantropi dan kepedulian sosial. Nilai tersebut dapat digunakan untuk mengajak siswa melihat bahwa kehidupan sosial tidak berhenti pada interaksi virtual, tetapi juga membutuhkan kepedulian terhadap orang lain.

Sementara itu, nilai kejujuran dan amanah dikaitkan dengan persoalan penipuan, manipulasi informasi, serta kecurangan akademik. Nilai empati dan tabayyun juga dipandang relevan untuk membahas perundungan siber dan budaya cancel culture, ketika seseorang dapat dengan cepat menghakimi orang lain berdasarkan informasi yang belum tentu lengkap.

Peneliti juga mencontohkan bagian cerita ketika Bahar tidak langsung menghakimi seseorang yang mencuri makanan karena kelaparan. Adegan tersebut, menurut analisis penelitian, dapat digunakan sebagai bahan diskusi mengenai empati, klarifikasi, dan kecenderungan masyarakat digital untuk memberikan penilaian secara tergesa-gesa.

Dari membaca novel menjadi pembelajaran digital

Khair dan Tazali tidak berhenti pada identifikasi nilai dalam novel. Mereka mengusulkan agar cerita Janji diterjemahkan menjadi aktivitas pembelajaran berbasis teknologi.

Model yang ditawarkan terdiri dari tiga tahap. Pertama, digital stimulus, yaitu siswa membaca atau menyimak potongan cerita dari Janji yang ditampilkan melalui Learning Management System (LMS).

Kedua, problem analysis, yakni siswa mendiskusikan konflik moral yang dialami tokoh melalui forum LMS. Siswa kemudian menghubungkan persoalan dalam cerita dengan nilai atau sumber ajaran PAI.

Ketiga, creative expression, yaitu siswa menghasilkan karya digital secara kolaboratif, seperti podcast, video pendek, atau jurnal refleksi elektronik. Dengan model ini, siswa tidak hanya menjadi konsumen konten digital, tetapi juga diarahkan menjadi pembuat konten keagamaan yang positif.

Peneliti menyebut pendekatan tersebut relevan dengan arah pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka karena menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa, penggunaan materi yang kontekstual, serta pengembangan iman, akhlak, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas kolaboratif.

Belum diuji langsung di kelas

Meski menawarkan model pembelajaran yang dapat diterapkan melalui LMS seperti Moodle, Canvas, atau Google Classroom, penelitian ini memiliki keterbatasan penting. Model tersebut belum diuji secara empiris dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Artinya, penelitian Khair dan Tazali menunjukkan relevansi dan menawarkan rancangan pedagogis berdasarkan analisis teks, tetapi belum membuktikan secara eksperimental bahwa penggunaan novel Janji benar-benar meningkatkan hasil belajar atau perubahan karakter siswa.

Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan menggunakan penelitian tindakan kelas atau metode penelitian dan pengembangan untuk menguji efektivitas model tersebut di berbagai lingkungan pendidikan.

Profil Penulis

Ummul Khair — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup, Bengkulu, Indonesia. Dalam artikel ini, Khair tercatat sebagai penulis pertama sekaligus corresponding author.

Imam Tazali — Universitas Bina Sarana Informatika, Jakarta, Indonesia. Keduanya meneliti keterkaitan nilai pendidikan Islam, sastra, pembelajaran PAI, dan inovasi pendidikan di era digital.

Sumber Penelitian

Judul: The Relevance of Islamic Educational Values in Tere Liye’s Novel Janji to Innovations in Islamic Religious Education Learning in the Digital Era

Penulis: Ummul Khair dan Imam Tazali

Jurnal: International Journal of Sustainability in Research (IJSR)

Volume: 4, Nomor 5

Tahun: 2026

Halaman: 413–426

DOI: https://doi.org/10.59890/ijsr.v4i5.11

Posting Komentar

0 Komentar