Mangrove Simboro Bernilai Rp217 Miliar sebagai Benteng Alami Pesisir Mamuju


Hutan mangrove di kawasan pesisir Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, terbukti memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar melalui fungsi perlindungan pantai. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhalisah, Haryanto, Binayanti, Israwahyudi, dan Ilham dari Universitas Muhammadiyah Mamuju pada Mei–Juni 2026 menunjukkan bahwa jasa perlindungan pantai yang dihasilkan ekosistem mangrove di wilayah tersebut memiliki nilai ekonomi sekitar Rp217,12 miliar. Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa keberadaan mangrove tidak hanya bernilai ekologis, tetapi juga mampu menghemat biaya pembangunan infrastruktur pelindung pantai yang sangat besar.

Kawasan pesisir Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mulai dari abrasi, perubahan iklim, hingga tekanan pembangunan di wilayah pantai. Dalam kondisi tersebut, mangrove berperan sebagai pelindung alami yang mampu meredam energi gelombang, memperlambat arus laut, serta menahan sedimen. Fungsi ini membantu menjaga stabilitas garis pantai dan mengurangi risiko kerusakan akibat abrasi maupun banjir rob.

Kecamatan Simboro merupakan salah satu wilayah pesisir di Kabupaten Mamuju yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar. Letak geografis ini membuat kawasan tersebut menerima tekanan gelombang laut yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadikan keberadaan mangrove sangat penting dalam menjaga ketahanan wilayah pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan.

Untuk mengetahui nilai manfaat mangrove secara lebih terukur, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Luas dan sebaran mangrove dipetakan menggunakan citra satelit Sentinel-2 yang dianalisis dengan perangkat lunak QGIS, kemudian diverifikasi melalui survei lapangan. Selanjutnya, nilai ekonomi jasa perlindungan pantai dihitung menggunakan metode Replacement Cost Method (RCM), yaitu metode yang memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan jika fungsi perlindungan alami mangrove digantikan oleh infrastruktur buatan seperti pemecah gelombang atau tanggul pantai.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di Kecamatan Simboro memiliki luas tutupan sekitar 64,06 hektare yang tersebar di sepanjang wilayah pesisir. Mangrove tersebut melindungi garis pantai sepanjang 15.460 meter. Luasan ini menunjukkan bahwa mangrove masih menjadi komponen penting dalam menjaga kestabilan kawasan pantai Simboro.
Dalam perhitungan ekonomi, peneliti menggunakan biaya pembangunan pemecah gelombang sebagai dasar pengganti fungsi mangrove. Berdasarkan data biaya pembangunan breakwater, diperoleh nilai konstruksi sebesar Rp14.043.994,61 per meter. Ketika biaya tersebut dikalikan dengan panjang garis pantai yang dilindungi mangrove, diperoleh estimasi nilai jasa perlindungan pantai sebesar Rp217.120.156.671 atau sekitar Rp217,12 miliar.
Nilai tersebut bukan berarti pemerintah telah mengeluarkan biaya sebesar itu untuk membangun infrastruktur pantai. Sebaliknya, angka tersebut menggambarkan besarnya manfaat ekonomi yang diberikan mangrove secara alami dan gratis kepada masyarakat. Jika mangrove hilang atau rusak, maka biaya yang diperlukan untuk menggantikan fungsi perlindungannya melalui pembangunan fisik akan sangat besar.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa manfaat mangrove tidak dapat diukur hanya dari luas kawasan yang dimiliki. Tingkat kerapatan vegetasi dan kondisi tutupan mangrove turut menentukan efektivitas perlindungan terhadap abrasi. Area dengan tutupan mangrove yang rapat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam meredam energi gelombang dibandingkan kawasan yang vegetasinya jarang atau telah mengalami degradasi.

Menurut para peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju, hasil ini memperlihatkan bahwa konservasi dan rehabilitasi mangrove bukan sekadar upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga merupakan investasi ekonomi jangka panjang bagi daerah pesisir. Kerusakan mangrove berpotensi meningkatkan kebutuhan pembangunan infrastruktur perlindungan pantai yang biayanya sangat tinggi. Sebaliknya, menjaga keberlanjutan mangrove dapat memberikan manfaat ekologis dan ekonomi secara bersamaan bagi masyarakat pesisir.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemerintah daerah, pengelola wilayah pesisir, dan masyarakat. Data ekonomi yang dihasilkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan konservasi mangrove, pengelolaan kawasan pesisir yang berkelanjutan, serta program rehabilitasi ekosistem pantai. Dengan nilai manfaat mencapai ratusan miliar rupiah, mangrove dapat dipandang sebagai aset alam yang memiliki kontribusi nyata terhadap perlindungan wilayah pesisir dan penghematan anggaran pembangunan.

Profil Penulis

Nurhalisah merupakan penulis utama penelitian ini bersama Haryanto, Binayanti, Israwahyudi, dan Ilham. Seluruh penulis berafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Mamuju, Sulawesi Barat. Bidang kajian yang mereka tekuni meliputi pengelolaan sumber daya pesisir, ekosistem mangrove, ekonomi lingkungan, dan pembangunan wilayah pesisir berkelanjutan.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Coastal Protection Service as an Indirect Benefit of Mangrove Forest in the Coastal Area of Simboro District, Mamuju Regency
Penulis: Nurhalisah, Haryanto, Binayanti, Israwahyudi, dan Ilham
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced Multidisciplinary Research (IJAAMR)
Volume dan Nomor: Vol. 4, No. 8
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i8.305
URL Jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr/index

 


Posting Komentar

0 Komentar