KUDUS — Nilai Islam Wasathiyyah dapat membentuk perilaku prososial siswa ketika diterapkan secara konsisten melalui pembelajaran, keteladanan guru, budaya madrasah, aturan kelembagaan, dan berbagai program pembiasaan. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian Muzdalifah, Ristiana Nisa, dan Taufikin dari Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kudus, yang diterbitkan dalam Journal of Educational Analytics (JEDA) Volume 5 Nomor 3 pada Agustus 2026. Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi agama di ruang kelas, tetapi membutuhkan ekosistem pendidikan yang secara terus-menerus mempraktikkan nilai toleransi, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian sosial.
Penelitian tersebut mengambil konteks MTs NU Ibtidaul Falah Kudus, Jawa Tengah, yang memiliki lingkungan siswa yang beragam dan mengintegrasikan nilai-nilai Wasathiyyah dalam kegiatan akademik maupun nonakademik. Dalam kajiannya, para peneliti melihat bagaimana nilai keadilan, keseimbangan, toleransi, musyawarah, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial diterapkan dalam kehidupan madrasah.
Pendidikan Karakter Tidak Cukup Hanya di Kelas
Keberagaman sosial, budaya, dan agama di Indonesia membuat pendidikan karakter memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial yang harmonis. Tantangan tersebut semakin kompleks pada era digital karena siswa memiliki akses luas terhadap informasi, termasuk konten yang dapat memuat intoleransi, ujaran kebencian, maupun pola komunikasi yang tidak menghargai perbedaan.
Dalam konteks pendidikan Islam, Wasathiyyah dipahami sebagai prinsip moderasi yang menekankan keadilan, keseimbangan, toleransi, musyawarah, persaudaraan, serta kepedulian terhadap kehidupan sosial. Nilai tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjadi pengetahuan siswa, tetapi diharapkan berkembang menjadi sikap dan perilaku sehari-hari.
Para peneliti menilai bahwa perilaku prososial seperti membantu orang lain, bekerja sama, menunjukkan empati, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial merupakan salah satu bentuk nyata keberhasilan pendidikan karakter. Karena itu, proses pembentukan karakter perlu melibatkan berbagai unsur dalam lingkungan pendidikan.
Penelitian Menggunakan Pendekatan Pengalaman Siswa dan Guru
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk memahami pengalaman dan praktik warga madrasah dalam menerapkan nilai Wasathiyyah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta telaah berbagai dokumen madrasah. Informan meliputi kepala madrasah, wakil kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam, guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran, serta siswa yang terlibat dalam program pembentukan karakter.
Informasi dari berbagai sumber kemudian dibandingkan untuk memastikan konsistensi temuan. Para peneliti menganalisis data secara bertahap dengan mengidentifikasi tema-tema utama mengenai strategi internalisasi nilai, faktor pendukung dan penghambat, serta dampaknya terhadap perilaku prososial siswa.
Lima Strategi Utama Membentuk Karakter Siswa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan perilaku prososial di MTs NU Ibtidaul Falah berlangsung melalui lima strategi yang saling berkaitan.
Pertama, mengintegrasikan nilai Wasathiyyah ke dalam pembelajaran.
Guru tidak hanya menjelaskan nilai keagamaan secara teoritis, tetapi juga menggunakan diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif, pemecahan masalah, dan dialog. Siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dengan sopan, mendengarkan pandangan teman, serta menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah.
Penilaian pembelajaran juga tidak hanya memperhatikan kemampuan akademik. Sikap disiplin, tanggung jawab, kepedulian terhadap teman, kemampuan bekerja sama, dan kesantunan dalam berkomunikasi turut diperhatikan.
Kedua, guru menjadi teladan utama.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru menjadi strategi yang paling dominan dalam proses internalisasi nilai. Siswa lebih mudah belajar dari perilaku yang mereka lihat setiap hari dibandingkan hanya menerima penjelasan secara teori.
Guru memberikan contoh melalui kedisiplinan, cara berbicara, penghormatan terhadap siswa dari berbagai latar belakang, serta penyelesaian konflik melalui dialog. Dalam proses tersebut, guru berperan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga mentor, motivator, dan teladan bagi siswa.
Ketiga, aturan dan budaya madrasah menjadi sarana pembiasaan.
Nilai karakter diperkuat melalui aturan serta kebiasaan sehari-hari. Siswa dibiasakan memberi salam dan berjabat tangan dengan guru, mengantre dengan tertib, menjaga kebersihan, serta menghormati guru dan teman.
Kebiasaan yang dilakukan secara berulang membuat nilai yang sebelumnya bersifat konseptual perlahan menjadi bagian dari perilaku siswa. Aturan memberikan standar perilaku, sedangkan pembiasaan membantu nilai tersebut melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, berbagai program madrasah memberikan pengalaman langsung.
Program seperti pemilihan pengurus OSIS secara demokratis, kegiatan organisasi siswa, public speaking, menjadi pembawa acara, serta kegiatan sosial memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan kepemimpinan, tanggung jawab, kerja sama, toleransi, dan kemampuan menghargai perbedaan.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mempelajari nilai karakter dari buku atau guru, tetapi mengalaminya secara langsung melalui aktivitas sosial.
Kelima, nilai Wasathiyyah diterapkan secara lintas mata pelajaran dan aktivitas.
Nilai toleransi, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial tidak hanya muncul dalam Pendidikan Agama Islam. Nilai tersebut juga diintegrasikan dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Sosial, serta kegiatan kokurikuler.
Pendekatan tersebut membuat siswa memahami bahwa nilai moderasi bukan hanya bagian dari ajaran agama, tetapi juga merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Motivasi Siswa dan Dukungan Keluarga Menjadi Faktor Penting
Keberhasilan pendidikan karakter ternyata tidak hanya bergantung pada program sekolah. Penelitian menemukan bahwa motivasi intrinsik siswa menjadi salah satu faktor penting. Siswa yang memiliki kesadaran untuk berkembang cenderung lebih mampu menerapkan nilai Wasathiyyah dibandingkan siswa yang hanya mengikuti aturan ketika berada di bawah pengawasan.
Dukungan keluarga juga berperan besar. Nilai yang ditanamkan di madrasah akan lebih mudah berkembang apabila orang tua menerapkan kebiasaan dan teladan yang sejalan di rumah. Komunikasi antara pihak madrasah dan orang tua membantu menjaga kesinambungan pendidikan karakter antara lingkungan sekolah dan keluarga.
Selain itu, dukungan kepala madrasah, budaya sekolah, dan berbagai program karakter turut memperkuat proses internalisasi nilai. Kegiatan sosial, organisasi siswa, ibadah bersama, hingga aktivitas menjaga kebersihan memberikan pengalaman nyata bagi siswa untuk mempraktikkan kepedulian dan tanggung jawab.
Media Sosial Menjadi Tantangan Baru
Di sisi lain, penelitian menemukan bahwa lingkungan sosial di luar madrasah dan media digital menjadi tantangan dalam mempertahankan nilai yang telah ditanamkan.
Siswa dapat menemukan berbagai informasi dan pola interaksi di media sosial yang tidak selalu sejalan dengan nilai toleransi dan penghormatan terhadap orang lain. Paparan terhadap ujaran kebencian, komunikasi tidak santun, maupun konten intoleran dapat memengaruhi perilaku siswa.
Karena itu, madrasah berupaya merespons tantangan tersebut melalui bimbingan, literasi digital, dan pendidikan karakter. Namun, pengawasan sekolah memiliki keterbatasan ketika siswa berada di luar lingkungan madrasah. Kondisi ini membuat keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi semakin penting.
Pendidikan Karakter Membutuhkan Ekosistem
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial siswa tidak terbentuk melalui satu program atau satu metode pembelajaran. Karakter berkembang melalui interaksi berbagai unsur pendidikan yang saling memperkuat.
Muzdalifah, Nisa, dan Taufikin memperkenalkan perspektif Wasathiyyah Islamic Values Internalization Ecosystem Model, yang menempatkan pembelajaran, keteladanan guru, budaya madrasah, aturan kelembagaan, dan program pembiasaan sebagai lima komponen utama dalam pembentukan karakter siswa.
Melalui ekosistem tersebut, nilai Wasathiyyah tidak berhenti sebagai konsep keagamaan. Nilai tersebut dapat terlihat dalam perilaku siswa berupa kedisiplinan, toleransi, kepedulian sosial, kerja sama, penghormatan terhadap perbedaan, tanggung jawab, dan kebiasaan menyelesaikan masalah melalui musyawarah.
Temuan ini memberikan implikasi bagi lembaga pendidikan Islam maupun sekolah secara lebih luas. Penguatan pendidikan karakter tidak cukup dilakukan dengan menambahkan materi pembelajaran. Sekolah perlu membangun lingkungan yang memungkinkan siswa melihat, mengalami, dan mempraktikkan nilai tersebut secara konsisten.
Para peneliti merekomendasikan agar madrasah memperkuat hubungan antara kurikulum, keteladanan guru, budaya sekolah, aturan kelembagaan, serta program pembentukan karakter. Kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis nilai dan moderasi beragama juga perlu diperkuat. Pada saat yang sama, kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu terus dikembangkan agar nilai yang ditanamkan di sekolah tetap diterapkan dalam kehidupan siswa di luar sekolah.
Profil Penulis
- Muzdalifah -Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
- Ristiana Nisa-Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
- Taufikin-Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
Sumber Penelitian
Judul: Strategies for Internalizing Wasathiyyah Islamic Values in Shaping Students’ Prosocial Behavior: A Phenomenological Study at Madrasah Tsanawiyah
Penulis: Muzdalifah, Ristiana Nisa, dan Taufikin
Afiliasi: Postgraduate, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus, Indonesia
Jurnal: Journal of Educational Analytics (JEDA)
Volume: 5, Nomor 3
Tahun: 2026
Halaman: 778–797
URL jurnal: https://journaljeda.my.id/index.php/jeda

0 Komentar