Kucuran Dana Infrastruktur Jumbo Belum Tentu Dongkrak Return Saham Konstruksi BUMN

Ilustrasi by AI

Dinar Rahmatulloh dan Anisah Firli dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University, meneliti pengaruh belanja modal pemerintah, kinerja keuangan, dan tata kelola perusahaan terhadap return saham emiten konstruksi milik negara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015–2024. Penelitian ini krusial untuk mengungkap mengapa kucuran dana infrastruktur negara yang masif tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan keuntungan bagi para investor di pasar modal.

Sektor konstruksi memegang peran strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai proyek yang didanai anggaran negara. Namun, tingginya alokasi belanja modal kerap memicu beban utang yang besar, risiko penundaan pembayaran, serta tekanan arus kas awal bagi perusahaan konstruksi BUMN. Dinamika ini menciptakan kesenjangan antara dukungan fiskal makro dan respons pasar saham yang cenderung berhati-hati.

Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi data panel terhadap laporan keuangan serta data perdagangan saham. Melalui teknik purposive sampling, terpilih lima perusahaan utama sektor konstruksi BUMN dengan total 50 observasi pengamatan selama satu dekade.

Berdasarkan hasil analisis, ditemukan beberapa temuan utama sebagai berikut:

  • Realisasi belanja modal pemerintah secara parsial berdampak negatif dan signifikan terhadap return saham, karena pasar mencermati risiko beban utang dan tekanan likuiditas dari proyek berskala besar.
  • Laba per saham (Earnings Per Share / EPS) menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, yang membuktikan bahwa investor sangat merespons keuntungan riil per lembar saham.
  • Rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio / DER) berpengaruh positif dan signifikan, menandakan bahwa pasar melihat utang sebagai modal ekspansi yang produktif apabila dikelola secara tepat.
  • Variabel efisiensi aset (ROA, TATO), likuiditas jangka pendek (Current Ratio), serta skor tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap pergerakan return saham dalam jangka pendek.

Implikasi dari temuan ini menegaskan bahwa pelaku pasar di sektor konstruksi lebih rasional dan sensitif terhadap profitabilitas fundamental serta struktur pendanaan ketimbang besarnya ukuran anggaran fiskal. Para pengelola emiten disarankan untuk memperkuat kualitas laba dan struktur modal, sementara pemerintah perlu mengevaluasi skema pembayaran proyek—seperti beralih dari model turnkey ke pembayaran progres bulanan—guna meringankan tekanan keuangan perusahaan.

Profil Penulis

  • Dinar Rahmatulloh – Peneliti dan praktisi di bidang keuangan serta pasar modal.
  • Anisah Firli – Akademisi dan dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University, yang memiliki kepakaran mendalam di bidang keuangan korporat, manajemen bisnis, dan analisis pasar modal.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: The Influence of Government Capital Expenditure, Financial Performance, and Good Corporate Governance on Stock Returns (A Study of State-Owned Construction Enterprises Listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2015-2024 Period)
  • Nama Jurnal: Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6, No. 4, Agustus 2026, hal. 908-927
  • DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i4.16898

Posting Komentar

0 Komentar