![]() |
| Illustration by Ai |
Kesehatan lingkungan kini menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling penting di abad ke-21. Perubahan iklim, urbanisasi yang pesat, polusi, dan ketimpangan sosial semakin memengaruhi kualitas hidup manusia serta meningkatkan risiko berbagai penyakit. Temuan tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Loso Judijanto dari IPOSS Jakarta dan dipublikasikan dalam International Journal of Integrative Research (IJIR) tahun 2026. Kajian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan berperan besar dalam meningkatnya kasus penyakit pernapasan, penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, hingga penyakit menular, terutama di negara-negara berkembang yang menghadapi tekanan pembangunan dan pertumbuhan perkotaan yang cepat.
Penelitian ini menyajikan
tinjauan komprehensif terhadap berbagai publikasi ilmiah yang terbit pada
periode 2020–2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesehatan lingkungan tidak
lagi dapat dipahami hanya dari satu aspek, seperti polusi udara atau sanitasi
semata. Berbagai faktor lingkungan saling berinteraksi dan membentuk risiko
kesehatan yang kompleks, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih terpadu
dalam pengelolaannya.
Perkembangan kota yang
berlangsung cepat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kesehatan
lingkungan. Pertumbuhan penduduk, meningkatnya kebutuhan energi, perubahan
penggunaan lahan, serta aktivitas industri menciptakan berbagai tantangan baru.
Kualitas udara, ketersediaan air bersih, sistem sanitasi, pengelolaan limbah,
suhu perkotaan, hingga akses terhadap ruang hijau kini menjadi faktor penting
yang menentukan kesehatan masyarakat. Dampaknya menjadi lebih besar ketika
masalah lingkungan tersebut bertemu dengan kesenjangan sosial dan ekonomi yang
masih terjadi di berbagai wilayah.
Salah satu temuan utama dalam
penelitian ini berkaitan dengan polusi udara. Berbagai studi ilmiah menunjukkan
bahwa paparan partikel halus dan zat pencemar di udara berhubungan erat dengan
meningkatnya risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, dan penyakit
metabolik. Paparan jangka panjang terhadap partikel halus berukuran PM2.5
diketahui dapat meningkatkan angka kematian serta memperbesar risiko penyakit
kronis. Selain itu, polusi udara dalam rumah tangga akibat penggunaan bahan
bakar padat untuk memasak dan pemanasan masih menjadi masalah serius, terutama
bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki akses
terhadap energi bersih.
Indonesia menjadi salah satu
contoh negara yang menghadapi berbagai tantangan kesehatan lingkungan secara
bersamaan. Sejumlah penelitian yang dikaji menunjukkan adanya hubungan antara
paparan PM2.5 dengan peningkatan prevalensi diabetes. Studi di Jakarta juga
mengungkap bahwa polusi udara, khususnya PM2.5 dan ozon, memberikan dampak
kesehatan dan kerugian ekonomi yang cukup besar. Di kawasan industri, partikel
udara bahkan dapat mengandung zat beracun yang berpotensi memengaruhi kesehatan
anak-anak maupun orang dewasa.
Selain polusi udara, aspek air,
sanitasi, dan kebersihan atau yang dikenal sebagai WASH (Water, Sanitation, and
Hygiene) juga menjadi perhatian penting. Ketersediaan air bersih yang terbatas,
sanitasi yang kurang memadai, serta praktik kebersihan yang buruk masih
berkontribusi terhadap penyebaran berbagai penyakit menular. Meskipun
penelitian terkait WASH di Indonesia terus berkembang, masih terdapat tantangan
dalam pembiayaan, perubahan perilaku masyarakat, serta pemerataan akses layanan
dasar.
Perubahan iklim turut memperburuk
berbagai risiko kesehatan lingkungan. Kenaikan suhu global meningkatkan potensi
penyakit akibat panas ekstrem, sementara perubahan pola cuaca memengaruhi
ketersediaan air dan ketahanan pangan. Penyakit yang ditularkan melalui vektor
seperti nyamuk juga berpotensi menyebar lebih luas karena perubahan kondisi
lingkungan yang mendukung perkembangbiakan vektor tersebut. Selain itu,
kejadian cuaca ekstrem dapat merusak infrastruktur dan mengganggu pelayanan
publik yang penting bagi kesehatan masyarakat.
Kajian ini juga menyoroti
munculnya berbagai jenis polutan dan kontaminan baru sebagai konsekuensi
perkembangan industri dan urbanisasi modern. Zat-zat tersebut dapat memasuki
udara, air, maupun tanah dan menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang yang belum
sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, pemantauan lingkungan dan penelitian
berkelanjutan menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi serta
mengendalikan risiko yang mungkin muncul di masa depan.
Untuk memahami persoalan tersebut
secara menyeluruh, Loso Judijanto menggunakan metode tinjauan literatur
kualitatif dengan pendekatan tematik dan interpretatif. Berbagai artikel ilmiah
dari basis data akademik internasional dianalisis untuk mengidentifikasi pola,
tren, serta strategi yang efektif dalam meningkatkan tata kelola kesehatan
lingkungan. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat keterkaitan berbagai
faktor lingkungan secara lebih luas dibandingkan penelitian yang hanya berfokus
pada satu isu tertentu.
Hasil kajian menunjukkan beberapa
strategi yang terbukti efektif dalam mengurangi risiko kesehatan lingkungan.
Strategi tersebut meliputi pengendalian polusi sejak dari sumbernya,
peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi, integrasi kebijakan mitigasi
serta adaptasi perubahan iklim, penguatan sistem pemantauan lingkungan, dan
peningkatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, serta
masyarakat. Penelitian ini juga menyoroti peran teknologi modern seperti sensor
lingkungan, sistem pemantauan berbasis data, dan teknologi digital dalam
mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Partisipasi masyarakat menjadi
faktor penting lainnya. Program kesehatan lingkungan cenderung lebih berhasil
ketika masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Edukasi lingkungan, peningkatan kesadaran publik, serta
tata kelola yang inklusif dapat membantu memastikan bahwa kebijakan yang
diterapkan mampu menjawab kebutuhan kelompok rentan sekaligus mendukung
pembangunan berkelanjutan.
Menurut Loso Judijanto, kesehatan
lingkungan perlu dipahami melalui pendekatan yang mengintegrasikan manajemen
risiko, keadilan sosial, dan konsep kesehatan planet (planetary health).
Pendekatan tersebut menegaskan bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan
dari kondisi lingkungan tempat manusia hidup. Dengan kata lain, upaya menjaga
kualitas lingkungan merupakan investasi penting bagi kesehatan masyarakat saat
ini maupun generasi mendatang.
Temuan penelitian ini memberikan
pesan penting bagi pemerintah, tenaga kesehatan, perencana kota, dan pengelola
lingkungan. Di tengah pertumbuhan kota yang terus meningkat dan ancaman
perubahan iklim yang semakin nyata, investasi pada perlindungan lingkungan dan
infrastruktur kesehatan menjadi kebutuhan mendesak. Langkah-langkah tersebut
tidak hanya dapat mengurangi beban penyakit, tetapi juga meningkatkan kualitas
hidup serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan lingkungan di masa
depan.
Profil Penulis
Loso Judijanto merupakan
peneliti yang berafiliasi dengan IPOSS Jakarta. Bidang keahliannya
meliputi kesehatan lingkungan, kebijakan kesehatan masyarakat, pembangunan
berkelanjutan, tata kelola lingkungan, adaptasi perubahan iklim, serta hubungan
antara faktor lingkungan dan kesejahteraan manusia.
Sumber Penelitian
Judijanto, L. (2026). Environmental
Health in the Era of Climate Crisis and Urbanization: A Review of Determinants,
Risks, Technology, and Sustainable Governance. International Journal of
Integrative Research (IJIR), Volume 4 Nomor 8, halaman 661–680. DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i8.236.

0 Komentar