Konsentrasi, Kapasitas, dan Kendala: Evaluasi dengan Metode Campuran terhadap Kinerja Penanganan Kargo di Pelabuhan Ciwandan, Banten, Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Banten - Kendala Alat Berat dan Penumpukan Dermaga Hambat Kinerja Pelabuhan Ciwandan, Banten. Penelitian yang dilakukan oleh Kusharyanto bersama Agus Widodo, Rob Danang Priatmaja, dan Sandy Wahyu Purnomo dari Politeknik Pelayaran Banten. dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa memberikan pemetaan krusial bagi modernisasi pelabuhan serbaguna (multipurpose port) di Indonesia yang bercirikan penanganan berbagai jenis barang nonsambung dalam satu kawasan.

Tantangan Efisiensi Pelabuhan Serbaguna di Indonesia

Sebagai negara kepulauan, efisiensi pelabuhan di Indonesia berpengaruh langsung terhadap daya saing ekonomi nasional dan kelancaran rantai pasok logistik. Pelabuhan Ciwandan yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia Regional 2 Banten memegang peranan vital sebagai pintu gerbang arus barang untuk wilayah industri Banten, meliputi Cilegon, Serang, Balaraja, hingga Tangerang BaratBerbeda dengan terminal peti kemas yang menggunakan sistem kontainer seragam, Pelabuhan Ciwandan merupakan terminal serbaguna yang menangani kargo cair, curah kering, barang umum (general cargo), hingga kendaraan. Keberagaman komoditas ini menuntut konfigurasi alat, tenaga kerja, dan area penyimpanan yang senantiasa berganti. Akibatnya, pengelolaan efisiensi di pelabuhan serbaguna memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan terminal peti kemas konvensional.

Penggabungan Data Data Kapal dan Pengamatan Lapangan
Para peneliti menggunakan pendekatan metode campuran konvergen (convergent mixed-methods design) untuk mengevaluasi kinerja operasional pelabuhan. Data kuantitatif diperoleh dari register kunjungan kapal Pelabuhan Ciwandan periode Januari hingga September 2025, mencakup 289 aktivitas kapal dan volume bongkar muat sebesar 2.626.613 tonSecara bersamaan, peneliti melakukan pengamatan langsung di dermaga, gudang, dan lapangan penumpukan, serta wawancara terstruktur dengan jajaran operasional pelabuhan pada Mei hingga November 2025. Langkah ini mengintegrasikan catatan statistik aktivitas kapal dengan kendala lapangan yang dialami langsung oleh para praktisi pelabuhan.

Temuan Utama: Beban Menumpuk di Satu Dermaga dan Alat Yang Menua
Hasil evaluasi menunjukkan ketimpangan distribusi bongkar muat serta kendala teknis pada peralatan pelabuhan:

  • Konsentrasi Arus Barang pada Dermaga 05: Dermaga 05 (terdiri dari sub-dermaga 05 A, 05 B, dan 05 C) menangani 70,8% dari total tonase pelabuhan (1.859.511 ton) dari 147 kunjungan kapal. Dermaga 05 A menjadi area paling sibuk dengan 90 kunjungan kapal dan mengelola 735.178 ton barang.
  • Ketimpangan Muatan Kapal (Parcel Size): Rata-rata muatan per kapal bervariasi hingga tujuh kali lipat antar-dermaga. Dermaga 05 B mencatat rata-rata muatan terbesar yakni 21.870 ton per kapal, sedangkan Dermaga 04 hanya mencatat 3,192 ton per kapal.
  • Dermaga Kurang Termanfaatkan: Dermaga 04 menerima 22,5% dari total kunjungan kapal (65 kapal), namun hanya menyumbang 7,9% dari total tonase barang. Sementara itu, Dermaga 06 hampir tidak beroperasi dengan hanya mencatat satu kali kunjungan kapal seberat 415 ton.
  • Komposisi Komoditas yang Beragam: Curah kering non-batubara seperti gandum dan mineral menjadi komoditas terbesar dengan porsi 29,9%, disusul barang umum seperti produk baja (23,6%), batubara (15,9%), dan curah cair seperti BBM serta bahan kimia (12,5%).
  • Usia Peralatan Bongkar Muat: Sebagian besar armada forklift dan keran pengangkat (mobile crane) utama pelabuhan telah beroperasi antara 6 hingga 11 tahun. Penurunan keandalan alat memicu kemacetan saat pemindahan barang dari tepi dermaga ke lapangan penumpukan (cargodoring), yang berdampak pada penundaan pembongkaran kapal.
Implikasi dan Rekomendasi Pembenahan Pelabuhan
Studi ini memberikan arah kebijakan yang jelas bagi pengelola pelabuhan, pemangku kepentingan logistik, dan regulator transportasi laut. Penelitian ini membuktikan bahwa hambatan utama kapasitas Pelabuhan Ciwandan bukan terletak pada panjang dermaga, melainkan pada keandalan peralatan mekanis dan kelancaran akses daratUntuk meningkatkan produktivitas tanpa memerlukan biaya pemeliharaan dermaga baru yang besar, pengelola pelabuhan disarankan menerapkan pemeliharaan terencana (preventive maintenance) yang ketat serta meremajakan unit peralatan yang telah melewati masa pakai optimal. Selain itu, koordinasi berbasis sistem pemesanan truk (truck appointment system) dan penyelarasan jadwal antar-pihak dapat mengurai kemacetan lalu lintas truk di gerbang pelabuhan.

Profil Penulis
Kusharyanto, M.T.: Dosen dan peneliti di Politeknik Pelayaran Banten dengan spesialisasi manajemen operasional pelabuhan, kinerja terminal multipurpose, dan logistik maritim.
Agus Widodo, M.T.: Pakar sistem transportasi laut dan infrastruktur logistik di Politeknik Pelayaran Banten.
Rob Danang Priatmaja, M.T.: Peneliti bidang efisiensi operasional pelabuhan dan manajemen kelautan di Politeknik Pelayaran Banten.
Sandy Wahyu Purnomo, M.T.: Akademisi Politeknik Pelayaran Banten yang berfokus pada teknik kelautan, strategi pemeliharaan mesin pelabuhan, dan pemodelan transportasi.

Sumber Penelitian
Kusharyanto, Agus Widodo, Rob Danang Priatmaja, Sandy Wahyu Purnomo. Concentration, Capacity and Constraint: A Mixed-Methods Evaluation of Cargo Handling Performance at Ciwandan Port, Banten, Indonesia. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol, 5 No. 8 Hal 1743-1758
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.101
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar