Komposisi Perkiraan dan Potensi Pemanfaatan Ubur-ubur sebagai Sumber Daya Laut yang Berkelanjutan: Tinjauan Literatur Sistematis

Gambar Ilustrasi AI

Ubur-Ubur Berpotensi Menjadi Sumber Pangan dan Bahan Baku Industri Berkelanjutan Masa Depan

Potensi ubur-ubur sebagai sumber daya laut yang kaya nutrisi dan senyawa aktif berharga berhasil diungkap melalui kajian ilmiah komprehensif. Penelitian berbasis tinjauan pustaka sistematis (Systematic Literature Review) ini dilakukan oleh Lady Ayu Sri Wijayanti dan Gilar Budi Pratama dari Universitas Padjadjaran, Tito A Nugraha dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Mukhlisnah Djalil dari Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, serta Mochamad Ramdhan Firdaus dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), riset ini menekankan pentingnya mengolah populasi ubur-ubur yang melimpah menjadi bahan baku bernilai tinggi bagi industri pangan, kosmetik, farmasi, dan pakan budidaya.

Latar Belakang dan Urgensi Sumber Daya Laut

Fenomena ledakan populasi ubur-ubur (jellyfish blooms) di kawasan pesisir sering kali dianggap sebagai ancaman ekologis yang merugikan sektor perikanan tangkap, pariwisata, dan infrastruktur pantai. Perubahan iklim global dan kondisi tangkap lebih (overfishing) kian mempercepat peningkatan populasi organisme ubur-ubur di berbagai belahan dunia.

Di sisi lain, kebutuhan global akan sumber pangan alternatif dan bahan baku industri hayati terus meningkat seiring berkembangnya konsep ekonomi biru (blue economy). Ubur-ubur yang selama ini dipandang sebelah mata ternyata menyimpan potensi gizi dan biologis yang luar biasa. Mengubah persepsi dari limbah ekologi menjadi komoditas ekonomi bernilai tinggi merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan industri kelautan.

Ringkasan Metodologi Penelitian

Tim peneliti menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada panduan standar Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Penelusuran dokumen ilmiah dilakukan melalui basis data Semantic Scholar dan Google Scholar menggunakan bantuan perangkat lunak Harzing's Publish or Perish.

Dari 25 artikel ilmiah yang teridentifikasi di awal, proses penyaringan ketat menghasilkan 7 artikel penelitian utama yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang diekstraksi mencakup analisis proksimat (kadar air, abu, protein, lemak, dan karbohidrat), kandungan senyawa bioaktif, serta pengaruh berbagai metode pengolahan pascapanen terhadap kualitas nutrisi ubur-ubur.

Temuan Utama Penelitian

Kajian ini mengungkapkan profil nutrisi dan potensi aplikasi ubur-ubur yang sangat dinamis:

  • Kandungan Protein dan Kolagen Tinggi: Spesies ubur-ubur segar Aurelia aurita mencatatkan kadar protein sebesar 35,63% (basis kering) dan taurin 2,68%. Sementara itu, spesies ubur-ubur merah (Crambione mastigophora) kaya akan kolagen (2,1–10,3 mg/g) yang sangat berpotensi sebagai bahan baku kosmetik.
  • Senyawa Bioaktif dan Antibakteri: Ekstrak alkaloid dari spesies Bougainvillia sp. terbukti memiliki aktivitas bakterisida terhadap bakteri patogen Vibrio pada ikan.
  • Potensi Pakan Budidaya (Aquafeed): Kandungan asam arakidonat (ARA) dan asam amino pemikat pada kelas Scyphozoa menjadikan ubur-ubur kandidat kuat pengganti tepung ikan.
  • Keamanan Konsumsi: Ubur-ubur jenis Lychnorhiza malayensis tercatat memiliki kadar protein 24,28 g/100 g dan tidak menunjukkan aktivitas hemolitik (uji toksisitas aman).
  • Pengaruh Pengeringan Terhadap Nutrisi: Kadar air ubur-ubur segar sangat tinggi (91,1%–98,0%). Pengeringan tanpa garam terkontrol (seperti freeze-drying) mampu mempertahankan kadar protein (mencapai 46,30% pada Rhizostoma pulmo). Sebaliknya, penggaraman (salt-drying) meningkatkan kadar abu secara signifikan hingga 52,89%–62,93% akibat akumulasi mineral garam.

Implikasi dan Dampak bagi Industri dan Masyarakat

Temuan riset ini memberikan arah baru bagi pemanfaatan sumber daya hayati laut secara berkelanjutan. Bagi industri kosmetik dan farmasi, ekstraksi kolagen dan senyawa bioaktif dari ubur-ubur menawarkan bahan baku alami dengan risiko penularan penyakit zoonosis yang lebih rendah dibandingkan sumber mamalia.

Di sektor akuakultur, pemanfaatan ubur-ubur sebagai campuran pakan ikan dapat menekan ketergantungan pada pakan konvensional berbasis tepung ikan. Bagi pembuat kebijakan dan nelayan lokal, mengolah ledakan ubur-ubur menjadi komoditas ekspor dan bahan baku industri dapat membuka peluang ekonomi baru di wilayah pesisir.

Sebagaimana dinyatakan oleh Lady Ayu Sri Wijayanti dari Universitas Padjadjaran bersama tim peneliti, ubur-ubur tidak lagi sekadar organisme pengganggu ekosistem, melainkan biomass berkelanjutan yang sangat potensial untuk mendukung industri pangan, kosmetik, bioteknologi, dan perikanan budidaya masa depan.

Profil Singkat Penulis

  1. Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Si. – Dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, dengan keahlian di bidang pengolahan hasil perikanan dan pemanfaatan sumber daya hayati laut.
  2. Gilar Budi Pratama, S.Pi., M.Si. – Akademisi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran, yang berfokus pada teknologi hasil perikanan dan keanekaragaman hayati laut.
  3. Tito A Nugraha, S.Pi., M.Si. – Dosen di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Maritim Raja Ali Haji, ahli dalam bidang pengelolaan sumber daya perairan.
  4. Mukhlisnah Djalil, S.Pi., M.Si. – Dosen di Fakultas Ilmu Kelautan, Perikanan, dan Kehutanan, Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo, berfokus pada pemanfaatan dan konservasi sumber daya pesisir.
  5. Mochamad Ramdhan Firdaus, S.Pi., M.Si. – Peneliti di Pusat Riset Biota Sistem, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ahli di bidang biologi kelautan dan bioteknologi biota laut.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar