Kesiapan pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alutsista atau besarnya anggaran militer. Penelitian terbaru yang dilakukan Ferdinand Hasudungan Siagian dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia bersama Nefra Firdaus dari Politeknik Angkatan Darat dan Harri Dolli Hutabarat dari Universitas Pertahanan RI menunjukkan bahwa ketahanan sumber daya manusia serta perilaku organisasi militer memiliki peran sangat besar dalam memperkuat kesiapan pertahanan. Temuan ini dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Integrative Research (IJIR).
Penelitian tersebut menjadi
penting di tengah meningkatnya dinamika keamanan global. Ancaman geopolitik,
perkembangan teknologi militer, serangan siber, hingga perubahan karakter
operasi pertahanan menuntut organisasi militer untuk mampu beradaptasi dengan
cepat. Dalam kondisi seperti ini, kesiapan pertahanan tidak lagi hanya
bergantung pada peralatan tempur, tetapi juga pada kemampuan personel dan
efektivitas organisasi dalam menghadapi perubahan.
Menurut para peneliti, salah satu
faktor strategis yang semakin penting adalah human capital resilience
atau ketahanan modal manusia. Konsep ini menggambarkan kemampuan personel untuk
bertahan menghadapi tekanan, beradaptasi terhadap perubahan, pulih dari
gangguan, mempertahankan kinerja, serta belajar dari pengalaman. Di lingkungan
militer yang penuh tantangan, kemampuan tersebut menjadi modal utama untuk
menjaga efektivitas organisasi dalam berbagai situasi.
Selain faktor individu,
penelitian ini juga menyoroti pentingnya organizational military behaviour
atau perilaku organisasi militer. Konsep ini mencakup disiplin, koordinasi,
kohesi, orientasi pada misi, kepatuhan terhadap struktur organisasi,
keterlibatan personel, dan kemampuan beradaptasi. Para peneliti menilai bahwa
organisasi militer yang mampu menjaga keseimbangan antara kepatuhan terhadap
komando dan kemampuan berinovasi akan lebih siap menghadapi tantangan strategis
yang terus berubah.
Untuk menguji hubungan kedua
faktor tersebut dengan kesiapan pertahanan, tim peneliti melakukan survei
terhadap 250 personel militer yang dipilih menggunakan metode stratified
random sampling. Seluruh responden mengisi kuesioner terstruktur yang
mengukur tingkat ketahanan personel, perilaku organisasi militer, dan kesiapan
pertahanan. Data kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Partial Least
Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ketahanan modal manusia memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap
kesiapan pertahanan. Nilai koefisien pengaruh yang diperoleh mencapai 0,421
dengan tingkat signifikansi yang sangat kuat. Temuan ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi kemampuan personel dalam menghadapi tekanan, beradaptasi, dan
mempertahankan efektivitas kerja, maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan
pertahanan organisasi.
Penelitian juga menemukan bahwa
perilaku organisasi militer memberikan pengaruh yang bahkan lebih besar
terhadap kesiapan pertahanan. Nilai koefisien pengaruhnya mencapai 0,487, lebih
tinggi dibandingkan pengaruh ketahanan modal manusia. Hasil ini mengindikasikan
bahwa disiplin, koordinasi, kohesi, orientasi misi, dan kemampuan organisasi
untuk beradaptasi memiliki kontribusi yang sangat kuat dalam membangun kesiapan
pertahanan secara keseluruhan.
Secara bersama-sama, kedua faktor
tersebut mampu menjelaskan sekitar 68,4 persen variasi kesiapan pertahanan.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar kesiapan organisasi pertahanan
dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang tangguh serta perilaku
organisasi yang efektif. Sementara itu, sekitar 31,6 persen sisanya dipengaruhi
oleh faktor lain seperti kesiapan fisik, aspek teknis, pelatihan, sumber daya
pendukung, dan faktor organisasi lainnya yang tidak termasuk dalam model
penelitian.
Ferdinand Hasudungan Siagian dan
tim peneliti menjelaskan bahwa kesiapan pertahanan harus dipahami sebagai
kemampuan kolektif. Personel yang memiliki ketahanan tinggi memang penting,
tetapi efektivitas mereka akan lebih maksimal ketika didukung oleh sistem
organisasi yang disiplin, terkoordinasi, dan adaptif. Dengan kata lain,
kesiapan pertahanan merupakan hasil interaksi antara kapasitas individu dan
mekanisme organisasi secara bersamaan.
Temuan ini memiliki implikasi
strategis bagi pengelolaan sumber daya manusia di sektor pertahanan Indonesia.
Program pengembangan personel tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan
kemampuan teknis. Organisasi pertahanan juga perlu memperkuat ketahanan
psikologis, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, koordinasi antarpersonel,
serta budaya organisasi yang mendukung kesiapan menghadapi perubahan lingkungan
strategis.
Dari sisi kebijakan, hasil
penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pimpinan organisasi pertahanan dalam
merancang strategi pengembangan sumber daya manusia yang lebih terintegrasi.
Investasi pada pelatihan ketahanan personel dan pembentukan budaya organisasi
yang adaptif berpotensi meningkatkan efektivitas penggunaan sumber daya
pertahanan sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi berbagai ancaman masa
depan.
Profil Singkat Penulis
Ferdinand Hasudungan Siagian
merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia
yang menekuni bidang manajemen strategis, perilaku organisasi militer, dan
pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan pertahanan.
Nefra Firdaus adalah
akademisi dari Politeknik Angkatan Darat yang memiliki fokus kajian pada
pengembangan organisasi dan sumber daya manusia dalam konteks militer.
Harri Dolli Hutabarat
merupakan peneliti dan akademisi dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia
yang aktif dalam penelitian terkait strategi pertahanan dan penguatan
organisasi militer.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Human
Capital Resilience and Organizational Military Behaviour in Strengthening
Defense Readiness
Penulis: Ferdinand Hasudungan Siagian, Nefra Firdaus, Harri Dolli
Hutabarat
Jurnal: International Journal of Integrative Research (IJIR),
Vol. 4 No. 8, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i8.235
.jpg)
0 Komentar